.:: KAJIAN KE EMPAT PULUH TUJUH: Fitnah Akhir Zaman 6 ::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim.

Pada kesempatan ini kita akan melanjutkan kembali kajian kita tentang Fitnah Akhir Zaman, dan sekarang kita akan memasuki pembahasan yang ke tujuh.

7. Meratanya keamanan di Jazirah Arab.

Kenapa demikian? Karena di zaman Rasulullah SAW masih hidup banyak sekali terjadi perampokan. Mata pencarian orang-orang Makkah adalah rata-rata berdagang, dan perdagangan mereka itu biasanya ada musim dingin dan ada musim panas. Kalau musim dingin biasanya mereka menuju ke Yaman, tetapi kalau musim panas mereka biasanya ke Syam, sehingga Allah SWT abadikan di dalam surat Al-Quraisy.

Selama mereka berangkat berdagang dari Makkah mereka tidak pernah berangkat sendiri mesti berkelompok-kelompok dalam jumlah yang besar karena mereka takut kalau di tengah jalan dirampok dan itu sudah sering terjadi, bahkan ada beberapa kabilah yang memang terkenal sebagai tukang rampok, salah satunya yaitu kabilah dari sukunya Abu Dzar yaitu bani Ghiffar.

Rasulullah menyampaikan sebuah hadits yang hadits ini diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah dan ini dikatakan oleh para peneliti hadits serta dijadikan sebagai tanda-tanda kecil hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda “Kiamat itu tidak akan terjadi sampai nanti seseorang mengadakan perjalanan antara Irak dan Makkah dia tidak takut kepada siapapun kecuali tersentak jalan (takut kalo kesasar).

Rasulullah juga pernah mengatakan kepada Adi bin Hatim, Apakah engkau pernah melihat suatu daerah yang bernama irak? Kata Adi bin Hatim, saya belum pernah melihat ya Rasulullah tetapi saya pernah mendengar tentang kota yang bernama Irak itu. Maka Rasulullah mengatakan wahai Adi jika nanti umurmu panjang maka kau akan melihat seorang wanita mengadakan perjalanan dari Irak kemudian dia datang ke Makkah dan bertawaf keliling ka’bah tanpa takut kepada seorangpun kecuali hanya takut kepada Allah. dan ini pun telah terjadi di zaman sahabat dan di zaman tabiin, lebih-lebih di jamannya Umar bin Abdul Aziz, bahkan kata peneliti hadits peristiwa semacam ini akan kembali terulang nanti zaman Imam Mahdi.

8. Melimpahnya harta dan tidak butuhnya manusia kepada harta.

Ulama ahli hadits Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan bahwa di zaman sahabat dan tabiin pun telah terjadi, dimana ketika zaman Rasulullah banyak sahabat-sahabat justru yang menjadi budak ketika di awal periode Makkah.

Tetapi setelah selesai zaman Rasulullah dan ketika di zaman Umar penaklukan-penaklukan terhadap wilayah-wilayah atau pun negeri-negeri yang dikuasai oleh orang kafir dan semuanya satu persatu ditaklukan.
Rasulullah bersabda “Akan muncul sebuah zaman dimana seseorang akan berkeliling membawa emas, dia berkeliling membawa masuk kemana-mana akan tetapi tidak ada satu orangpun yang mau menerima emas”.
Ini terjadi dan tanda-tandanya sudah dimulai sejak zaman Rasul yaitu dalam perang hunain. Harta ghanimah yang berupa emas itu jumlahnya satu setengah ton, sedangkan perang di zaman Rasul itu bukan satu dua kali saja, bahkan puluhan kali.

Di zaman sahabat penaklukan-penaklukan itu lebih banyak lagi, dan puncaknya adalah ketika di zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ketika setelah diangkat menjadi khalifah, maka yang pertama disampaikan kepada istrinya adalah “Wahai istriku kalau engkau bersedia membantuku untuk berkhidmat kepada Allah untuk mengurus umat ini, lebih mementingkan akhirat ketimbang dunia, maka semua perhiasan yang ada pada dirimu engkau jual”.

Bahkan Umar bin Abdul Aziz ketika diberi fasilitas kendaraan maka ia lebih banyak menolaknya. Di zaman ini amil zakat kesulitan mencari orang yang berhak menerima zakat, karena yang ada semua orang itu berubah status menjadi pemberi zakat. Ini terjadi dan sudah terjadi yaitu melimpahnya harta dan tidak butuhnya manusia kepada harta. Dan kata Ibnu Hazar Al-Asqalani masih akan terjadi lagi nanti di zaman Imam Mahdi.

9. Adanya kenyataan mengikuti pola hidup orang orang terdahulu.

Rasulullah di dalam sebuah hadistnya yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri, dimana Rasulullah mengatakan “Nanti pada suatu hari kalian itu akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai mereka masuk lubang biawak kamu akan mengikutinya. Sehingga sahabat bertanya, ya Rasulullah apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani? Kata Rasulullah siapa lagi kalau bukan mereka.

Maksud dari hadits di atas adalah pelan tapi pasti kamu akan mengikuti tingkah lakunya mereka, dan ini pun sudah terjadi, inilah zamannya. Karena hari ini sudah tidak ada lagi kepribadian Islamiyah, jarang orang Islam merasa bangga sebagai seorang muslim, tetapi yang ada mereka kadang merasa malu.

Keadaan yang digambarkan oleh Rasulullah pasti akan terjadi yaitu mengikuti mereka, pelan tapi pasti. Mulai dari pakaian, cara bergaul, cara hidup, adat istiadat, cara mengatur rumah tangga, sampai cara mengatur negara mengikuti mereka padahal orang kafir itu sangat hina, Yahudi dan Nasrani itu sangat hina.

Ketika di zamannya Rasulullah mengatakan kalau kamu berjumpa orang kafir di jalan atau berpapasan dengan mereka maka suruh dia yang minggir dari jalan, jangan kamu yang minggir. Ini Nabi yang mendidik dan mengajarkan kita.

Di zaman Umar bin Khattab, dalam rangka melaksanakan ayat dan mengamalkan Surat At-Taubah ayat 29 tentang kewajiban orang kafir, sampai mereka membayar jizyah dengan tangannya sendiri dalam keadaan tunduk dan hina.

Ketika sudah banyak negeri-negeri yang sudah ditaklukan, maka Umar menyuruh kepada amir-amirnya untuk membuat peraturan yang terkenal dengan risalah umariyah yang harus dipatuhi oleh orang orang kafir yang hidup di bawah pemerintahan Islam.

Adapun isi peraturannya adalah orang Kristen atau Yahudi, kalau ada orang Islam yang datang dari luar kota kemudian tidak ada tempat penginapan maka gereja harus dibuka dan dijadikan tempat penginapan.

Apabila ada orang Islam jalan kemudian mereka mau duduk maka orang Kristen dan Yahudi harus menyingkir dari tempat duduknya. Orang kafir tidak boleh memperlihatkan senjata dihadapan orang Islam, tidak boleh menyalakan lonceng gereja dengan besar, mereka tidak boleh naik unta ataupun kuda dengan pelana. Orang kafir punya jalan sendiri atau jalan yang paling pinggir. Sampai sampai orang kafir tidak boleh meniru cara berpakaian dan cara menyisir orang Islam serta tidak boleh meniru terompahnya orang Islam.

Itu semua diterapkan oleh Umar untuk menghina dan merendahkan orang kafir. Tetapi sekarang sudah terbalik, orang kafir nggak memaksa kita tetapi dengan sukarela kita mengikuti orang kafir, serta dengan senang hati dan bangga. Dan benar apa yang dikatakan oleh Rasulullah yaitu mengikuti tingkah laku orang-orang sebelum kalian yaitu Yahudi dan Nasrani, semuanya telah kita lihat pada hari ini.

10. Nyalanya api yang sangat besar yang akan menerangi unta-unta di daerah Busyroq.

Dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir ternyata ini kejadiannya terjadi di zamannya Imam Ibnu Katsir dan Imam Nawawi, yaitu api yang akan menerangi leher-leher unta di daerah Busyroq. Kata Imam Ibnu Katsir terjadi kebakaran yang dahsyat di timur kota Madinah, api itu tinggi dan sangat panjang, sehingga sinar kilatan api itu bisa dilihat sampai di kota Makkah, padahal jarak dari kota Makkah Madinah dan Busyroq sangat jauh.

Itu terjadi di tahun 654 Hijriyah dan peristiwa itu pun dibenarkan oleh Imam An-Nawawi, karena saking dahsyatnya kobaran api itu sehingga unta-unta yang ada di Makkah itu bisa terlihat dengan jelas.

Download Mp3 Disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s