.::KAJIAN KE EMPAT PULUH: Hadits Tentang Keselamatan::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim.

Pada kesempatan ini kita akan melanjutkan kembali pembahasan kita tentang kajian Hadits-Hadits Rasul. Pada kesempatan ini kita akan mengkaji sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Uqbah bin Amir. Hadits ini terdapat dalam kitab Sunan Tirmidzi, dengan derajat hadits hasan.

Beliau ini adalah sahabat besar yang berhijrah ke Madinah. Beliau terkenal sebagai seorang pemanah ulung, dia juga terkenal sebagai seorang sahabat yang mempunyai suara yang sangat merdu, sehingga Umar bin Khotthob pernah meminta Uqbah bin Amir untuk membacakan Al-Quran ketika beliau menjabat sebagai khalifah, sampai-sampai Khalifah Umar menangis tersedu-sedu mendengar bacaan dari beliau ini.

Beliau ini juga adalah seorang sahabat ahli shuffah, yang sehari-hari kerjanya adalah mengumpulkan dan mengkaji ayat ayat Al-Quran. Maka Hadits yang akan kita kaji ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Uqbah bin Amir. Uqbah bin Amir bertanya kepada Rasulullah “Apakah keselamatan itu ya Rasulullah? Maknanya adalah “Bagaimanakah bisa selamat dari api neraka ya Rasulullah? itu adalah arah pertanyaan daripada Uqbah bin Amir.

Maka Rasulullah menjawab: Supaya bisa selamat dari api neraka adalah:

1. Genggamlah lidahmu.

Makna hadits ini dijelaskan bahwa kuasailah lidahmu. Ibarat seperti seekor ular, kalau ular itu hanya kita pegang saja maka tidak akan bisa kita kuasai, tetapi harus kita menggenggam ular itu baru dia bisa kita kuasai. Hari ini perkara ini adalah perkara yang kadang-kadang diacukan oleh sebagian orang, padahal di dalam hadits ini ditekankan untuk menjaga dan menguasai lidahnya.

Banyak orang hari ini mereka bisa menjaga shalat, tetapi kadang-kadang untuk menjaga lidah itu sangat sulit. Suatu waktu ada seorang sahabat datang menghadap kepada Rasulullah dan melaporkan, “ya Rasulullah ada seorang wanita yang dimana dia rajin beribadah, dia ini rajin berpuasa di siang hari rajin qiyamul lail di malam hari, tetapi wanita ini suka menyakiti tetangganya dengan lidahnya.

Maka Rasulullah mengatakan tidak ada kebaikan pada wanita itu dan dia adalah penghuni neraka”. Padahal dia rajin puasa, rajin shalat malam, tetapi dia suka menyakiti tetangganya dengan lisannya, sehingga Rasul mengatakan dia adalah di neraka.

Dari apakah kita harus menjaga lidah? Paling tidak ada beberapa hal yang perlu kita jaga.

1. Komentar-komentar yang tidak penting.
Semua yang kita lihat itu tidak semuanya penting untuk kita komentari, tetapi kadang-kadang manusia pada hari ini semua apa yang dilihatnya pasti selalu dikomentari. Adanya komentar-komentar ini karena sesuatu yang pernah dilihat, tetapi tidak semua yang pernah dilihat itu semuanya harus dikomentari. Maka sebenarnya kata-kata itu adanya adalah di dalam hati bukan di dalam lidah, sehingga tidak mudah untuk bisa mengomentari.

Sesungguhnya kata-kata itu adanya di dalam hati lalu Allah menciptakan lidah untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hati”. Umar bin Khatthab pernah memperingatkan “Siapa yang banyak bicara maka pasti akan banyak salahnya, siapa yang banyak salahnya maka pasti akan banyak dosanya, dan siapa yang banyak dosanya maka neraka lebih baik untuknya”.

Maka jagalah lidahmu, kuasai lidah sehingga tidak mudah untuk bisa memberikan komentar-komentar yang tidak perlu, kalau ini tidak bisa kita kuasai maka banyak musibah yang akan terjadi. Maka Rasulullah mengatakan “Keselamatan manusia itu terletak pada lidahnya”.

2. Ghibah
Adalah membicarakan aib orang lain di saat orangnya tidak ada.

3. Nanimah (Adu domba)
Rasulullah pernah melewati kuburan bersama para shahabat-sahabatnya, kemudian kata Rasulullah dua makan ini saya mendengar penghuninya sedang diazab, dua-duanya diadzab bukan karena sesuatu yang besar, salah satu dari dua penghuni kubur itu kata Rasulullah adalah dia berjalan dengan namimah, yaitu dia selalu membawa omongan orang, kemudian itu disampaikan ke sana dan ke sini”, ini merupakan perkara yang kecil tetapi sangat berdampak besar.

2. Lapangkanlah rumahmu.

Imam Nawawi Rahimahullah menjelaskan tentang hadits ini, maksud dari kata lapangkanlah rumahmu adalah buatlah dirimu itu supaya bisa menjadi betah untuk tinggal di rumah, karena di luar rumah itu banyak sekali dosa, banyak kemaksiatan. Apalagi di zaman kita sekarang ini baru keluar dua tiga langkah sudah langsung ketemu dosa.

Bagaimana supaya bisa betah tinggal dirumah? Caranya adalah bagaimana supaya keluarga itu bisa menjalin komunikasi yang lebih baik dalam kehidupan keseharian. Kalau dalam keluarga itu komunikasinya tidak baik ataupun kurang baik, besar kemungkinan suami ataupun istri tidak akan betah di rumah, karena mereka merasa ketika memasuki rumah seolah-olah mereka merasakan seperti masuk dalam neraka.

Maka ada ungkapan dari ahli hikmah “Rumahku adalah syurgaku”. Bagaimana cara agar bisa mendapatkan kenikmatan ini ke dalam rumah? Paling tidak ada jaminan yang baik daripada keluarga itu sehingga mereka merasa aman, nyaman dan senang ketika bertemu antara suami istri dan anak-anaknya. Kalau itu tidak ada maka besar kemungkinan masuk rumah itu sangat tidak mengenakkan, akhirnya dia lebih senang berada di luar rumah.

Dan kenyataan pada hari ini banyak orang yang lebih merasa nyaman ketika berada di luar rumah, karena kedua-duanya sibuk, tidak berada di rumah, sehingga kebanyakan mereka pada hari ini masuk rumah hanya untuk tidur. Kalau rumah hanya sebatas untuk tidur, maka apa bedanya rumah itu dengan hotel, kalau masuk rumah hanya untuk makan, maka apa bedanya rumah itu dengan restoran?

Maka bagaimana caranya agar kita bisa merasa betah di rumah? Maka harus ada komunikasi yang baik antara keluarga. Perbanyaklah membaca Al-Quran dan dzikrullah, karena kebanyakan orang orang hari ini sudah lupa dengan Al-Quran, lupa dengan dzikrullah, padahal itu adalah benteng benteng yang kokoh, karena dengan dzikir Jiwa akan menjadi tenang. Rumah yang didalamnya dzikir selalu digalakkan, dzikir selalu diamalkan insya Allah akan ada ketenangan, ketika kita sudah merasa tenang, maka nyaman kita untuk tinggal di rumah, dan keinginan untuk keluar rumah menjadi berkurang.

3. Tangisilah dosa-dosamu

Semua kita ini tidak ada yang tidak punya dosa, tinggal kadarnya saja. Karena semua manusia yang hidup itu memiliki dosa, manusia itu adalah tempatnya salah dan dosa. Ada orang yang berdosa itu wajar karena statusnya itu adalah manusia. “Orang berdosa kemudian dia sadar dari dosanya lalu beristighfar maka itu adalah wajar, tetapi yang gak wajar itu adalah ada orang yang berdosa, hidupnya setiap hari dihiasi dengan dosa, tidak pernah merasa telah berbuat dosa, ini adalah musibah”.

Anas bin Malik yang merupakan sahabat sekaligus sebagai pembantu Rasulullah. Anas bin malik mengatakan ketika beliau hidup di zamannya, yaitu generasi awal Islam, “Salah seorang di antara kami melakukan dosa kecil, maka dia melihat dosa kecil itu ibarat seperti seolah-olah dia akan tertimpa gunung, sedangkan sekarang kata Anas bin Malik seseorang yang melakukan dosa besar tetapi seolah-olah seekor lalat itu nempel di hidungnya”. Itu di zamannya Anas bin Malik.

Dan hari ini orang melakukan perbuatan dosa bukannya menyesal, menangis, tetapi mereka malah tertawa. Maka Rasulullah SAW mengingatkan “Kalau engkau mengetahui seperti apa yang aku ketahui maka kamu pasti akan banyak menangis dan sedikit tertawa”. Sehingga para sahabat banyak mengisi kehidupannya dengan menangis, begitu juga orang-orang shaleh mereka selalu senantiasa mengisi kehidupan mereka juga dengan menangis, karena ketika mereka mendengar ayat-ayat tentang neraka mereka langsung menangis.

Download Mp3 Disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s