.::KAJIAN KE TIGAPULUH SEMBILAN: Kajian Hadits Tentang Tiga Golongan Yang Tidak Dilihat Oleh Allah::.

Oleh: Ust. Abdul Hakim.

Pada kesempatan ini kita akan melanjutkan kembali pengajian kita, dan kita masih akan mengkaji tentang hadits-hadits Rasulullah. Pada kesempatan ini kita akan mengkaji sebuah hadits, hadits ini terdapat dalam kitab Shahih Muslim dan disyarah oleh Imam Nawawi dengan kedudukan Hadits shahih.

Hadits ini diriwayatkan oleh seorang sahabat Rasul yang bernama Junduh bin Junadah atau yang lebih dikenal dengan Abu Dzar Al-Ghifari. Abu Dzar Al-Ghifari ini adalah seorang yang bermukim di sebuah perkampungan yakni bani Ghiffar. Ketika berita tentang Islam itu sampai kepada Abu Dzar yang ketika itu dia terkenal sebagai seorang yang taat beribadah, tentunya dalam agamanya, yaitu masih dalam kemusyrikan, maka dia tidak membuang waktu, cepat-cepat dia datang ke Makkah dan ingin bertemu dengan Nabi.

Setelah bertemu Rasul kemudian dia langsung menyatakan ke-Islamannya, yang mana ketika itu orang masuk Islam tidak berani secara terang-terangan tetapi harus sembunyi-sembunyi. Setelah dia bersyahadat masuk Islam kemudian dia datang ke dekat Ka’bah yang mana di dekat Ka’bah itu menjadi tempat pertemuan para kaum Quraisy Makkah kemudian tidak ragu-ragu dia membacakan kalimat syahadat secara keras sehingga ketika itu mengundang amarah daripada kaum musyrikin Quraisy.

Maka setelah itu Abu Dzar dikeroyok rame-rame, digebukin sampai babak belur. Di tengah-tengah mereka menyiksa Abu Dzar maka datanglah paman Nabi yang bernama Abbas yang kemudian mendekat dan mengenali orang yang sedang dikeroyok itu, ternyata dia adalah Abu Dzar. Maka Abbas mengatakan kepada musyrikin Quraisy tahukah kalian siapa orang yang kalian siksa ini? Dia adalah Abu Dzar Al-Ghifari, dia berasal dari suku bani Ghiffar, yang dimana bani Ghiffar adalah perkampungan preman-preman pada saat itu.

Maka mendengar bahwa Abu Dzar Al-Ghifari ini bearasal dari bani Ghiffar, maka sontak mereka langsung menghentikannya dan melepas Abu Dzar Al-Ghifari. Itulah Abu Dzar Al-Ghifari, dia adalah seorang yang taat memegang agamanya. Pada saat itu Rasulullah SAW kalau ingin menghibur dirinya dan para sahabat, maka Rasulullah meminta Abu Dzar Al-Ghifari untuk menceritakan bagaimana pengalamannya ketika masih musyrik.

Maka Abu Dzar Al-Ghifari bercerita, ketika dia masih musyrik tiap hari dia menyembah patung yang kecil yang patung itu diletakkan diruangan terbuka menghadap ke arah timur, kebiasaan sebelum menyembah patung itu, dia selalu mengadakan sesajen yang dipersembahkan untuk tuhannya itu. Pada suatu hari ia memberikan sesajen kepada patungnya yaitu semangkok susu yang kemudian diletakkan didepan patungnya.

Di tengah-tengah sedang khusuk menyembah patung itu maka datanglah seekor anjing, anjing ini meminum susu itu sampai habis, kemudian setelah diminum sampai habis dia kencing di atas muka patung itu. Ketika itu akal sehat Abu Dzar mulai bereaksi, ini tuhan saya tidak bisa menolong dirinya, bagaimana dia bisa menolong saya?

Maka ketika dalam keraguan itu dia mendengar ada orang yang mengaku sebagai Nabi, maka dia tidak membuang waktu dia langsung bertemu dengan Nabi dan menyatakan untuk masuk Islam. Maka hadits yang akan kita kaji pada kesempatan ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzar Al-Ghifari.

Rasulullah SAW bersabda: “Ada tiga kelompok manusia yang nantinya tidak akan diajak bicara oleh Allah, Allah tidak melihatnya, dia tidak akan disucikan oleh Allah, dan dia nanti akan mendapat siksa yang pedih”. Siapa sajakah orang-orang yang dikatakan dalam hadits itu?

1. Orang yang menjulurkan kainnya dibawah mata kaki.

Kenapa orang yang menjulurkan kainnya di bawah mata kaki itu digolongkan ke dalam golongan orang yang mendapat azab yang pedih? Karena kebiasaan orang orang Nasrani dan pembesar-pembesarnya, orang-orang Romawi dan Majusi itu kalau mereka pakai jubah maka jubahnya itu lebih panjang. Maka panjangnya itu merupakan identitas dari status sosialnya, semakin panjang jubahnya maka semakin tinggi status sosialnya.

Artinya menunjukkan keangkuhan dan dengan pakaian itu dia menunjukkan bahwa dia adalah orang penting. Maka setelah datanglah Islam kita dilarang supaya jangan menyerupai mereka. Tetapi dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat, ada yang mutlak mengharamkan, ada juga yang membolehkannya.

Di antara yang membolehkannya ada beberapa ulama yang cukup terkenal dan ada satu hadits pula yang dijadikan sandaran, hadis ini sahih riwayat Imam Bukhari dari sahabat Ibnu Umar ra. Rasulullah bersabda “Siapa yang menjulurkan pakaiannya karena sombong dan angkuh maka Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat”. Jadi ada sebab di sini, yakni yang memanjangkan gamisnya karena sombong dan angkuh maka Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat.

Dalam menafsirkan hadits ini para ulama membolehkan dengan syarat sepanjang tidak sombong dan ada keangkuhan di dalam hati, seolah-olah ini ada kontradiksi dan pertentangan, tetapi nyatanya tidak, maka di sini saya sampaikan. Ketika Umar bin Khotob menjelang detik-detik kematiannya para sahabat semuanya berdatangan di rumah Umar untuk memberikan kata-kata perpisahan kepada Umar sambil mencium keningnya.

Di antara orang yang datang berziarah menemui Umar ini ada seorang anak muda yang kemudian menciumi Umar, mengucapkan kata-kata pujian, tetapi setelah itu dia pergi. Umar melihat kepada anak muda itu dan memerintahkan para sahabat untuk memanggilnya.

Maka ketika anak muda itu datang mendekat kepada Umar, Umar kemudian mengatakan “Wahai anak muda tinggikan pakaianmu, angkat lagi pakaianmu, karena itu nanti akan bisa membuat engkau lebih taqwa kepada Robbmu, bisa membuat hatimu lebih bersih dan lembut, pakaianmu lebih awet gak gampang rusak”. Padahal sudah mau mati masih sempat melakukan nahi mungkar menegur orang.

Maka mengingat ada atsar dari Umar bin Khotthob maka untuk lebih selamat, untuk menjaga dan lebih mensucikan hati serta mendekatkan diri agar bertaqwa kepada Allah, maka yang lebih baik dan utama naikkan kainnya diatas mata kaki walaupun sebagian para ulama ada yang membolehkan, tetapi dengan syarat asalkan tidak ada sombong.

2. Orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian.

Kalau dia sudah memberi kemudian pada suatu waktu ada sedikit masalah dengan orang yang sudah pernah diberi, maka dia akan mengungkit-ungkit apa yang sudah pernah diberinya. Allah SWT mengingatkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 264:
Artinya:

Hai orang orang yang beriman janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebut dan menyakiti hati orang yang menerima.

Inilah banyak yang terjadi pada hari ini ketika sedikit ada masalah mulai dia mengungkit-ungkit apa yang telah diberi nya. Maka sikap yang terbaik adalah sebagaimana yang telah Allah gambarkan dalam Surat Al-Insan ayat 9-10:

Artinya:
Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan azab tuhan kami pada suatu hari yang dimana hari itu orang-orang bermuka massam penuh kesulitan.

Allah menggambarkan tentang seseorang yang memberikan makanan. Orang yang baik itu kalau sudah memberi maka dia tidak mengharapkan balasan dan tidak pula mengharapkan orang mengucapkan terima kasih kepadanya. Karena apa? Dia paham akan datangnya suatu hari dimana hari itu muka manusia menjadi masam, yaitu ketika ketika manusia dikumpulkan di mahsyar. Jadi hati-hati, ini merupakan pelajaran bagi kita jangan sampai kita mengungkit ungkit pemberian kita.

3. Orang orang yang bersumpah dalam jualan dengan sumpah palsu.

Orang yang menjual dagangannya dengan sumpah palsu. Hari ini banyak orang-orang yang berbuat demikian, yaitu orang yang berdagang, berjualan dengan sumpah palsu supaya barangnya menjadi laku. Maka orang yang seperti ini akan mendapatkan kutukan dari Allah. Apa kutukannya? yaitu sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dalam Surat Al-Mutaffifin ayat 1-3:

Artinya:
Kecelakaan besarlah bagi oran yang curang. Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi.

Itulah tiga kelompok yang kata Rasulullah tidak akan diajak bicara, tidak akan dilihat, tidak disucikan dan akan mendapat siksa yang pedih.

Download Mp3 Disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s