.::KAJIAN KE TIGAPULUH LIMA: Pembatal Syahadat 6::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim.

Pada kesempatan ini kita akan melanjutkan kembali pembahasan kita tentang Nifak I’tiqodi (Nifak Akbar).

Nifak I’tiqodi yang ketiga adalah:

3. Membenci Rasulullah SAW.

Allah SWT berfirman didalam surat Al-Munafiqun ayat 7:

Artinya:

Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): “Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada disisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).” Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami. (QS. Al-Munafiqun: 7)

Kita sudah ketahui dalam sejarah, bagaimana luar biasa hebatnya pertolongan orang-orang Anshor kepada saudara mereka kaum Muhajirin yaitu orang-orang yang berhijrah dari Makkah ke Madinah. Jangankan harta, istri, rumah, dan tanah pun dibagi, Ini sangat luar biasa. Belum ada sejarahnya orang seperti itu. Maka di dalam ayat ini orang-orang munafik menghasut orang-orang Anshor agar tidak mau membantu saudara-saudara mereka yaitu kaum Muhajirin.

Orang-orang munafik sangat membenci Rasulullah, tetapi mau menapakkannya mereka tidak mampu, maka berbagai carapun ditempuh. Kemudian orang-orang Yahudi di Madinah pun dihasut untuk memusuhi Rasul. Kebencian orang-orang munafik dan kafir itu tidak terputus dahulu saja, bahkan sampai hari inipun mereka sangat benci.

Kalau orang kafir mereka pura-pura masuk Islam, pelihara jenggot kemudian masuk ditengah-tengah aktivis Islam, dan orang-orang seperti ini akan tetap ada. Tujuannya apa? Yaitu untuk menghancurkan Islam dari dalam. Orang kafir itu kebenciannya tidak pernah padam kepada Islam, Rasul, dan bahkan sampai hari ini mereka luar biasa menghina dan melecehkan Islam. Tetapi apa yang terjadi? “Allah membalas makar dan rencana jahat mereka, karena Allah adalah sebaik-baik penolong dan pembalas tipudaya”.

Mereka tidak akan pernah melemahkan Islam, karena Islam akan selalu dilindungi oleh Allah. Mereka membenci dengan tujuan untuk melemahkan Islam, tetapi tidak bisa, yang terjadi malah orang kafir banyak yang masuk Islam, itu semua karena hidayah. Tetapi hidayah itu tidak akan turun begitu saja, ada prosesnya, yaitu dia mahu tahu, belajar, dan menggunakan akalnya untuk berpikir.

Bukan seperti orang sekarang, mereka berputus asa dengan alasan “Mau gimana lagi tidak ada hidayah. Ketika ditanya kenapa kamu tidak shalat? Maka dengan entengnya mereka menjawab, mau gimana lagi tidak ada hidayah”. Enak amat, begitulah kalau orang-orang sekarang.

Allah SWT membuktikan bahwa Islam itu semakin di dzolimi maka akan semakin dimuliakan oleh Allah. Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka. Tetapi Allah tidak pernah ingkar janji, tinggal tunggu tanggal mainnya. Bendera Islam akan berkibar, tetapi itu bukan sesuatu yang harus ditunggu, melainkan sesuatu yang harus diupayakan.

Janji itu sudah ada, tetapi tinggal siapa yang mau meraih janji Allah. Apakah kita ini termasuk pemain yang melalui mulut, otak, harta kita, Islam ini akan jaya, ataukah justru kita ini adalah merupakan dari bagian yang akan melemahkan Islam? Hanya kita yang bisa menjawabnya.

Hari ini banyak orang Islam yang melemahkan Islam, kalau orang kafir tidak suka dengan Islam itu sudah biasa, karena memang tidak ada dalilnya orang kafir itu suka terhadap Islam. Tetapi ada orang Islam, namanya Islam, tetapi dia benci kepada syariat Islam, ini adalah merupakan keajaiban dunia yang ke delapan.

Islam semakin dimusuhi maka akan semakin diangkat oleh Allah. Seperti apa yang dikatakan oleh Sayyid Qutb “Islam itu diibaratkan seperti air yang ada di dalam satu wadah, apabila air semakin ditekan maka akan semakin naik dan muncrat airnya” itulah karakter Islam. Maka masa depan Islam ada ditangan kaum muslimin, suka tidak suka orang kafir tinggal menunggu waktu saja untuk hancur.

Barang siapa yang menolong agama Allah maka Alah akan menolong dan meneguhkan keinginannya. Jadi orang munafik itu sangat benci kepada Rasul, dan nifak akbar yang ketiga adalah membenci Rasulullah SAW.

4. Senang kalau Islam itu dapat musibah,dan sedih kalau Islam itu jaya.

Allah SWT berfirman di dalam surat Ali-Imran ayat 120:

Artinya:

Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.

Ayat ini berkisah tentang orang munafik,  apabila di dalam peperangan mereka selalu menunggu kapan umat Islam itu kalah, begitulah kerjaannya mereka. Ayat ini turun ketika mereka mendengar kabar bahwa orang-orang Islam itu cepat kalah dalam perang uhud. Dalam perang itu orang-orang munafik awalnya masuk dalam barisan kaum muslimin, tetapi akhirnya sepertiga dari orang-orang munafik itu keluar dari barisan.

Ketika mereka mendengar kaum muslimin sempat terpukul di uhud, mereka senang sekali dan bergembira, maka akhirnya turunlah ayat ini. Jadi mentalnya orang munafik seperti itu, mereka tidak suka Islam itu jaya, dan sangat senang mendengar Islam itu mundur, rusak, dan lemah.

Jadi kalau mereka mendengar Rasul dan kaum muslimin itu menang maka mereka tidak suka, tetapi begitu mereka mendengar kaum muslimin itu kalah, maka mereka berkata kepada orang-orang Anshor, “Saya sudah peringatkan, saya sudah tahu kalau kalian pasti akan kalah, makanya kami tidak mau ikut”. Begitulah katanya dan mereka bergembira setelah itu.

Itulah orang-orang munafik, dan mereka ini memang tidak mau beresiko. Maka kalau kita baca siroh, kita akan mendapati salah satu mental munafik itu mereka tidak mau yang capek-capek dan berat-berat, tidak mau beresiko, tidak mau susah, dan berpayah-payah.

Peperangan zaman Rasul itu banyak sekali, dan salah satu bukti dari sifat orang munafik itu adalah ketika terjadi perang tabuk, perang yang paling berat. Mereka awalnya tidak mau ikut, tetapi akhirnya ketahuan belangnya. Dan akhirnya mereka terpaksa ikut dulu.

Dalam perjalanan satu persatu mereka mundur, karena jarak Tabuk dengan Madinah hampir 700 Km, kemudian ditempuh dipuncaknya musim panas dan dalam kondisi paceklik. Pasukan yang berangkat itu banyak tetapi dengan persediaan logistik yang sedikit, maka orang-orang yang kuat imannya itu jalan saja. Digambarkan dalam perang itu satu unta dinaiki secara bergantian dua sampai tiga orang.

Orang-orang munafik mereka ikut tetapi lama kelamaan karena jaraknya jauh sehingga akhirnya mereka mundur. Sehingga para sahabat yang dekat dengan Rasul melapor, “Ya Rasul si fulan sudah tidak ada wajahnya, kemudian Rasul menjawab biarlah, kalau imannya mereka itu benar pasti mereka akan ikut kita”. Sehingga makin lama makin banyak pula dari orang-orang munafik itu yang tidak kelihatan. Itulah sifatnya orang-orang munafik, mereka tidak mau beresiko, tidak mau yang berat-berat.

Download Mp3 Disini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s