.::KAJIAN KE TIGAPULUH EMPAT: Pembatal Syahadat 5::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim.

Pada kesempatan ini kita akan melanjutkan kembali pembahasan kita tentang Pembatal Keislaman, dan sekarang akan memasuki pembahasan tentang Kufur Asghar, kufur kecil (Kufur Amali). Pelakunya tidak dihukum atau divonis keluar dari millah, tidak sebagaimana Kufur Akbar

Ada beberapa contoh diantaranya adalah dosa-dosa besar yang oleh Allah pelakunya dihukumi sebagai kafir, tetapi tidak keluar dari millah. Contohnya adalah kufur nikmat, ini adalah kekafiran, dihukumi dosa besar, tetapi tergolong dalam kufur asghar. Kemudian contoh yang lain adalah membunuh sesama muslim dengan sengaja.

Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang membunuh seorang muslim dengan sengaja, maka sungguh dia telah kafir kepada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad. (HR. Bukhari Muslim). Ini oleh Allah pelakunya sudah divonis kafir, tetapi para ulama menjelaskan kekafiran ini adalah kekafiran yang tidak membuat seseorang keluar dari millah dan hanya masuk dalam kategori kafir asghar. Inilah kekafiran yang tergolong dalam Kufur Asghar, pelaku dosa besar yang digolongkan dalam kufur asghar, tetapi tidak membawa konsekwensi keluar dari millah.

Pembatal Keislaman yang kedua: Nifak (Munafik).

Adalah menampakkan Islam secara dzahirnya tetapi di dalam hatinya membenci dan mengingkari. Nifak ini terbagi menjadi dua yaitu Nifak I’tiqodi (Nifak Akbar) dan Nifak Amali (Nifak Asghar).

A. Nifak I’tiqodi (Akbar). Yang digolongkan termasuk dalam kategori Nifak Akbar oleh para ulama yaitu:

1. Mendustakan Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman di dalam Surat Al-Munafikun ayat 1: Artinya:

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.

Ayat ini turun di Madinah, ketika Rasulullah SAW hijrah, orang-orang Yahudi sebagiannya menolah mengakui Rasulullah SAW sebagai Nabi, mereka menolak karena dalam kitab mereka, mereka meyakini akan datang seorang Nabi yang bernama Ahmad (Muhammad), tetapi menurut mereka Nabi yang akan datang itu adalah dari keturunan mereka (Bani Israil), tetapi kenyataannya Nabi yang datang itu bukan dari keturunan mereka.

Maka mereka mendustakannya, sebagian ada juga yang beriman, tetapi tidak mau mengikuti, itupun setelah mereka menguji Nabi. Tetapi orang munafik tidak begitu modelnya, mereka nyata-nyata memusuhinya, begitu mereka merasa Islam ini sudah tidak bisa diganggu ketika itu maka apa boleh buat mereka terpaksa pura-pura masuk Islam dengan tujuan untuk menghantam Islam dari dalam.

Ketika awal-awal mereka bertemu Nabi, mereka mengatakan kami mengakui bahwa ini benar-benar Nabi, tetapi pengakuan orang-orang munafik yang membenarkan Muhammad itu Rasulullah hanyalah bohong, inilah cirri-ciri orang munafik, secara dzohirnya Nampak tetapi bathinnya benar-benar kafir, mengingkadi dan mendustakan.

2. Mendustakan apa yang dibawa oleh Rasul. Kemudian ciri-ciri yang kedua adalah mereka mendustakan ayat-ayat Allah, sabda-sabda Rasul, titah-titah Nabi, tidak mau mentaati apa yang dikatakan Nabi, mengingkari ayat. Padahal Allah SWT mengatakan Apa yang di perintahkan oleh Rasul maka kerjakan itu, jangan ditanya-tanya lagi, apa yang menjadi titah Rasul itu maka ikuti saja, dan apa yang Rasul larang atasmu maka itu sudah bersih. Tetapi orang munafik itu tidak, mereka mendustakan apa yang dibawa oleh Rasul.

Allah SWT berfirman di dalam surat An-Nisa ayat 60-61:

Artinya: Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu Lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.

Asbabun nuzul dari ayat ini adalah yaitu orang-orang munafik yang mengaku beriman, ketika itu orang Munafik bersengketa dengan orang Yahudi, orang yahudi ingin mendatangi Rasul untuk dimintakan fatwa atau keputusan, karena orang yahudi tahu pendeta-pendeta dan orang alim mereka banyak yang bohong dan suka menerima suap, dan mereka juga tahu bahwa Rasul itu jujur. Maka dia menginginkan permasalahannya itu diselesaikan oleh Rasul.

Tetapi orang munafik ini mereka tidak mau dan lebih menginginkan berhukum kepada thoghut, dalam hal ini si munafik ingin mengambil hukum dan keputusan dari seorang yahudi yang bernama Ka’ab Al Ashraf, maka turunlah ayat ini, disuruh berhukum kepada Allah malah dia tidak mau dan lebih memilih hukum thoghut.

Mereka mengaku beriman, tetapi ketika diajak untuk berhukum dengan hukum Allah mereka tidak mau, maka itulah munafik. Lalu apa bedanya hari ini dengan orang-orang yang mengaku beriman tetapi tidak mau taat kepada hukum Allah. Ketika diajak dan dikatakan kepada mereka marilah kembali kepada Allah, Rasul, Qur’an, dan hadits, maka kamu akan lihat orang munafik itu menghalangi manusia untuk kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah.

Inilah cirri-ciri orang munafik yang kerjaannya adalah menghalang-halangi dengan sekuat tenaga agar tidak kembali kepada hukum Allah dan Rasulnya. Mereka juga mengingkari Rasul, mengingkari apa yang dibawa oleh Rasul , tidak mau berhukum kepada hukum Allah, dan tidak mau menerima ketentuan Rasulullah SAW, padahal yahudi saja mengakui dan ingin bertahkim kepada Rasul.

Maka sebenarnya sikap orang beriman itu adalah kebalikan dari sikap orang munafik, sebagaimana yang Allah SWT firmankan di dalam surat An-Nuur ayat 51:

Artinya:

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan Kami patuh”. dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.

Mestinya orang mukmin itu seperti itu kalau Allah dan Rasul sudah buat aturan, maka tidak ada kata lain selain kami dengar dan kami taat. Tetapi hari ini Allah dan Rasul sudah buat aturan tetapi kata manusia nanti dulu, kita godok dulu, rundingkan dulu, kalau disetujui boleh tetapi kalau tidak maka tidak boleh dipakai.

Inilah kurangajarnya, aturan Allah dirundingkan dulu, maka mereka ini adalah bukan orang mukmin, padahal orang mukmin itu kami dengar dan kami taati, tetapi hari ini tidak, kami dengar, kami Tanya dan kami rundingkan.

Jadi ayat ini jelas, kebalikan dari sikap orang munafik yaitu mereka mengikuti, taat dan menerima, bukan diolah, dirunding kemudian di voting. Tetapi hari ini kenyataan yang ada justru sebaliknya, bahkan ayat Allah sudah tidak berlaku lagi, inilah keadaan hari ini. Jadi munafik adalah mendustakan Rasul dan mendustakan apa yang dibawa oleh Rasul.

Downlad Mp3 Disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s