.::KAJIAN KE TIGAPULUH DUA: Pembatal Syahadat 3::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim

Pada kesempatan ini kita akan melanjutkan pembahasan kita tentang syirik Akbar. Kemarin kita membahas dalil yang terdapat pada Surat Huud ayat 14-15, dimana Allah mengambarkan orang yang iradahnya hanya dunia, keinginanya hanya dunia. Karena manusia itu terbagi menjadi dua, ada orang yang iradahnya semata-mata untuk dunia, dan ada orang yang iradahnya itu adalah akhirat.

Jadi yang dimaksud syirik yang kedua ini adalah orang yang iradahnya hanya dunia, hidupnya hanya berpikir untuk dunia, semua kehidupannya tercurah hanya untuk dunia, tidak pernah berpikir untuk akhirat, karena yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana bisa senang di atas dunia.

Maka Allah SWT mengatakan bahwa orang yang seperti ini dia tidak akan dirugikan, malah akan diberi, tetapi di akhirat kelak dia tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali neraka. Jadi ini adalah termasuk dalam syirik yang kedua yaitu syirik niat, kehendak, dan tujuan.

Contoh orang-orang yang iradahnya hanya untuk akhirat adalah para sahabat Nabi. Mereka menyimpan dunia itu hanya di tangannya, telapak kakinya. Dunia itu hanya berlalu begitu saja, pemikirannya itu jauh untuk akhirat, bahkan orangnya masih hidup tetapi namanya sudah disebuatkan oleh Allah di syurga. Iradahnya itu betul-betul untuk akhirat, karena dia tahu dunia itu kecil, sesuatu yang bakal habis dan tidak ada apa-apanya.

Salah satu contoh adalah ketika Ubadah bin Shomit, ketika umat Islam menaklukkan Mesir dan ingin memasukinya, yang ketika itu mesir berada di bawah kekuasaan Romawi. Ketika panglima Amru bin Ash mengutus Ubadah bin Shomit untuk berunding kepada pembesar Mesir, maka ketika itu pembesar Mesir membujuk utusan umat Islam yang di ketuai oleh Ubadah bin Shomit.

Apa bujukannya? Bagaimana kalau Mesir itu dibagi dua, separuhnya untuk Raja Melkokis dan separuhnya untuk umat Islam. Maka ketika itu Ubadah bin Shomith membantah dengan kata-kata, “Ketahuilah wahai Melkokis, kami keluar dari negeri kami melalui kota demi kota, menghadapi musuh demi musuh, bukan dunia yang kami cari, tetapi yang kami kehendaki adalah bagaimana kalimat Allah itu menjadi kalimat yang tertinggi. Maka demi Allah wahai Melkokis, pasukan yang kami bawa ini, jika dia ditakdirkan dicukupkan kebutuhannya sehari dengan satu dirham, maka dia akan penuhi hanya dengan satu dirham, dan andaikata diperjalanan ditakdirka mendapat sekantong uang mas, maka ia akan tetap mencukupkan kebutuhannya hanya dengan satu dirham saja, dan selebihnya akan menginfakkan semua sisanya dijalan Allah”.

Ini adalah contoh orang yang iradahnya akhirat, karena dia tahu dunia ini tidak ada apa-apanya, yang pada hari ini orang sudah banyak yang terbalik.

3. Syirik Tha’ah (Syirik Ketaatan).

Allah SWT berfirman di dalam Surat At-Taubah ayat 31.

Artinya:
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Ayat ini turun menyindir orang-orang Nasrani, yang dimana orang-orang Nasrani menjadikan ulama-ulamanya, orang-orang alimnya sebagai Arbab (Tuhan-tuhan selain Allah). Ketika ayat ini turun dan tersebar di kota Madinah, maka datanglah anak seorang tokoh Nasrani yang terkenal dan sangat disegani dikaumnya untuk protes, dia adalah Adi bin Hatim. Setelah mendengar ayat ini turun maka dia datang ke Madinah dan ingin protes kepada Rasulullah, dan ketika itu dia masih memakai kalung salib.

Bagaimana Muhammad kok kami dituduh menjadikan orang alim kami sebagai tuhan, padahal kami tidak pernah menyembah mereka dan tidak pernah bersujud kepada mereka. Maka ketika itu Rasul balik bertanya, “Bukankah sesuau perkara itu di dalam kitabmu dikatakan haram tetapi oleh orang alim kalian mengatakan itu halal dan kalian ikut menghalalkannya? Bukankah di dalam kitabmu sesuatu perkara dikatakan halal, tetapi oleh orang alim kalian mengatakan itu haram, kemudian kalian ikut mengharamkannya? Maka Adi bin Hatim menjawab ia benar. Kemudian Rasul mengatakan itulah bentuk peribadatan kalian kepada mereka”.

Maka sekarang kita lihat, Allah menurunkan kitab-kitab kepada para Nabi yang berisi aturan-aturan yang mesti mereka amalkan, maka ketika ada orang yang tidak mengikuti aturan-aturan yang ada di dalam kitab-kitab itu dan lebih condong mengikuti kata tokoh-tokoh agamanya, orang-orang alimnya, maka Allah katakan mereka telah menyembah dan beribadah kepada orang-orang alim itu.

Lantas apa bedanya dengan kita pada hari ini yang telah Allah beri Al-Qur’an, di dalam Al-Qur’an dikatakan haram, maka kata tokoh-tokoh ini halal kemudian orang-orangpun mengikutinya. Di dalam Al-Qur’an dikatakan halal, tetapi oleh tokoh-tokoh mengatakan haram, dan merekapun ikut mengharamkannya. Mereka lebih mengikuti ornag-orang yang berani membuat aturan selain aturan Allah, padahal aturan itu menyelisihi kitabullah, tetapi mereka tetap mentaatinya. Maka orang yang membuat aturan itu apapun namanya, apabila aturan itu bertentangan dengan aturan Allah maka mereka itu telah menjadi Arbab (Tuhan-tuhan selain Allah), dan orang yang mengikuti aturan itu berarti telah syirik.

Kemudian orang yang ditaati itu, ketika dia rela ditaati dalam kedurhakaannya kepada Allah maka dia adalah thoghut, orangnya thoghut dan perbuatannya syirik. Maka inilah yang disebut syirik ketaatan. Mestinya seseorang itu taat hanya kepada kitabullah dalam semua perkara, tetapi ada manusia yang hidup belakang hari ini rajin membuat aturan untuk mengatur hidupnya manusia, syariatnya Allah mengataka haram, tetapi syariatnya manusia ini mengatakan halah, maka dihalalkan semua.

Maka apa bedanya dengan Adi bin Hatim ini, yang ketika Rasulullah balik bertanya Adi bin Hati tidak bisa mengelak. Karena tokoh-tokoh agama pada saat itu mereka tidak mau memakai kitab dalam memutuskan sebuah perkara, tetapi mereka membuat aturan berdasarkan hawa nafsunya mereka. Karena aturan itu ada dua, aturan yang datangnya dari Allah yang dinamakan wahyu yang kemudian diperjelas oleh sunnah, dan yang kedua aturan yang berdasarkan ro’yu (akal pikiran).

Tetapi karena mereka merasa diri sudah hebat, titelnya banyak, bisa mengatur, sehingga mereka berani membuat aturan yang aturannya menyelisihi aturan Allah. Aturan Allah itu dibuang dan orang disuruh taat pada aturan yang menyelisihi aturan Allah itu. Maka ketika aturan Allah itu dibuang kemudian dia ikuti aturan manusia, maka dia telah menjadikan orang itu sebagai tuhan. Dan orang yang rela dan senang diikuti di tengah penyimpangannya kepada syariat, maka itulah yang disebut thoghut.

Makanya Adi bin Hatim ketika itu tidak bisa mengelak dan akhirnya pulang. Akhirnya pada satu waktu Rasul memerintahkan untuk menyerang perkampungannya Adi bin Hatim, maka Adi bin Hatim kabur dan menyembunyikan diri di negeri Syam. Akhirnya ketika itu saudarinya yang bernama Sufanah ditawan dan dibawa ke Madinah. Setelah ditawan Sufanah membujuk dan merengek-rengek kepada Rasulullah meminta untuk dibebaskan sambil dia menceritakan kebaikan dari bapaknya.

Akhirnya Rasulullah membebaskan Sufanah, dan setelah dibebaskan Sufanah akhirnya masuk Islam, kemudian dia pergi ke Syam untuk menyusul kakaknya Adi bin Hatim. Setelah bertemu dengan Adi bin Hatim maka dia ceritakan semua kebaikan Rasul dan kaum muslimin ketika dia ditawan, sehingga membuat Adi bin Hatim merasa tertarik dan menyimpulkan untuk bertemu dengan Rasulullah.

Akhirnya Adi bin Hatim meminta kepada Sufanah mengantarkannya untuk menemui Rasulullah. Maka setelah bertemu dengan Rasulullah tangannya Adi bin Hatim di pegang oleh Rasulullah, dituntun dan diajak ke rumahnya. Sebelum masuk kerumah di depan pintu ada orang tua yang ingin bertemu dan berbicara dengan Rasul, sambil menunduk Rasul mendengarkan perkataan orang tua itu, sehingga di dalam hatinya Adi bin Hatim mengatakan tidak mungkin Muhammad itu raja, dia pasti Nabi.

Setelah selesai berbicara dengan orang tua itu maka Rasul menyilahkan Adi bin Hatim untuk masuk, dan ketika sudah berada di dalam rumah maka Rasul menyilahkan Adi bin Hatim untuk duduk di tempat duduk yang biasa dipakai oleh Rasul, tetapi Adi menolak, maka Rasul tetap menyuruhnya, sehingga Rasul duduk bersilah di atas tanah, sehingga membuat hatinya Adi bin Hatim makin mantap.

Kemudian Rasulullah mengatakan kepada Adi bin Hatim masuk Islamlah kamu supaya kamu selamat, tetapi pada saat itu Adi bin Hatim masih memakai kalung salib, sehingga Rasul mengatakan buang berahala itu. Maka saat itu Adi bin Hatim menyatakan keislamannya, dan akhirnya ia menjadi seorang sahabat yang baik.

4. Syirkul Mahabbah (Syirik Kecintaan).

Allah SWT berfirman di dalam surat Al-Baqarah ayat 165:

Artinya:
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

Maknanya ada sebagian manusia yang mencintai sesuatu perkara, apapun betuknya, cinta harta, pangkat, jabatan, istri, anak, kalau cintanya kepada semua ini melebihi cintanya kepada Allah maka dia telah jatuh pada kesyirikan. Kalau orang-orang hari ini ditanya cinta pangkat atau Allah? Pasti dijawab cinta pangkat dan Allah. Maka apabila sesuatu itu lebih dicintai daripada Allah, maka sesuatu itu punya nilai Andat.

Bagaimana cinta para sahabat itu kepada Allah, Rasul, jihad? Sangat luar biasa sekali, sebagaimana apa yang ditunjukan oleh sahabat Suhair bin Sinan, padahal dia adalah salah satu konglomerat dalam Islam, pedagang yang sukses, tetapi ia tertinggal dalam hijrah. Ketika sudah siap untuk berhijrah maka dia persiapkan barang-barangnya kemudian disimpan pada beberapa ekor unta.

Akhirnya dia keluar untuk melakukan perjalanan, ternyata keinginannya untuk hijrah sudah tercium oleh kaum Quraisy dan akhirnya dia ditangkap ditengah jalan. Kemudian dia di interogasi dengan beberapa pertanyaan oleh kaum Quraisy, kamu hendak kemana? Kemudian dia menjawab saya mau menemui kekasih saya Muhammad, apa yang kamu bawa? Akhirnya ditusuk karung bawaannya maka keluarlah uang logam, kamudian mereka mengatakan kami belum gila ntuk melepaskan kamu, maka kamu pilih tiga pilihan:

1. Kamu boleh tinggal di Makkah harta dan nyawa kamu aman tapi dengan catatan kamu tetap menyembah agama kami, minum-minum dengan kami, zina, judi dengan kami, maka kamu aman.

2. Apabila kamu memaksa ingin bertemu dengan Muhammad, maka tinggalkan semua hartamu dan kamu jalan kaki kesana.

3. Kalau kamu tidak mau pilh kedua-duanya maka kami bunuh kamu.

Maka Suhair mengatakan kalau begitu ambil semua harta saya, saya akan jalan kaki dari Makkah ke Madinah untuk menemui Rasulullah. Ketika sudah mau memasuki kota Madinah maka turunlah Surat Al-Baqarah ayat 207:

Artinya:
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.

Ketika ayat ini turun dan Rasul jadi bingung, maka tidak lama kemudian muncullah Suhair bin Sinan. Ternyata ayat ini memuji Suhair bin Sinan yang begitu cinta kepada Allah dan Rasul dari pada hartanya, sehingga ketika sudah mendekat maka dipeluklah oleh Rasulullah kemudian dikatakan beruntunglah perniagaanmu, karena dia menukar hartanya dengan kecintaan kepada Allah dan Rasulnya.

Download Mp3 Disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s