.::KAJIAN KE DUAPULUH SEMBILAN: Alwala Wal Baro 9::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim.

Kita akan melanjutkan pembahasan kita tentang Alwala wal baro. Kemarin kita sudah membahas tentang contoh-contoh Alwala wal baro dari para sahabat-sahabat Rasulullah dalam periode Madinah.

Kemarin telah kita membahas sedikit tentang bagaimana sikap baronya Asmah kepada ibunya, yang dimana ibunya datang dengan membawa oleh-oleh dengan tujuan ingin menjenguk Asmah. Maka Asmah tidak berani membukakan pintu bagi ibunya karena dia meyakini bahwa ibunya masih musyrik. Sehingga Asmah mengutus seseorang untuk memberitahu Aisyah untuk bertanya kepada Rasulullah bagaimana sikap yang harus dilakukan oleh Asmah terhadap ibunya tersebut.

Ketika Aisyah menanyakan perihal hal tersebut, maka Rasulullah SAW terdiam, “Karena Rasulullah tidak berbicara sesuatu melainkan atas dasar wahyu”. Sampai akhirnya Allah SWT menurunkan Surat Al-Mumtahanah ayat 8-9 untuk menjawab pertanyaan daripada Asmah.

Artinya:

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

Jadi tidak dilarang untuk berbuat baik, berlaku adil kepada orang musyrik yang tidak memerangi kita, memusuhi kita, dan tidak mengusir kita lantaran karena agama.

Kemudian Allah SWT mengatakan “Sesungguhnya hanya orang-orang yang memerangi kamu karena agamamu, mengusirmu, dan membantu orang lain untuk mengusirmu karena agamamu, maka kepada ketiga kelompok ini Allah melarang kepada kita untuk berbuat baik dan berlaku adil. Dan siapa yang menjadikan mereka sebagai temannya, orang-orang dekat, orang-orang kepercayaan, penolong-penolong, maka sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dzolim”.

Maka dengan turunnya ayat ini sebagai isyarat bahwa Allah membolehkan Asmah untuk membukakan pintu, mempersilahkan ibunya masuk dan menerima oleh-olehnya. Ini merupakan sebuah pelajaran bahwa tidak semua kafir itu dimusuhi, dan juga sebaliknya tidak semua kakfir itu tidak dimusuhi. Ada mizan, timbangan, ukuran, tetapi sayangnya hari ini ayat ini sudah tidak berlaku terhadap mayoritas kaum muslimin.

Karena hubungan kenegara’an, hubungan bilateral, hubungan perdamaian, sehingga orang-orang musyrik, kafir yang jelas-jelas memusuhi Islam dijadikan wali, penolong, teman setia, dan diundang masuk untuk menjaga dinastinya mereka.

Hari ini orang-orang yang mengklaim diri paling bertauhid dengan baik dan benar, perkara-perkara seperti ini mereka tidak bicarakan. Yang dibicarakan itu hanyalah tauhid tentang bagaimana supaya jangan menyembah kuburan, pohon besar, jangan percaya dukun, tetapi wala wal baro ini tidak lagi menjadi pembicaraan. Musuh Allah yang seharusnya kita baro malah mereka berwali. Inilah kenyataan hidup hari ini, maka hati-hati, jangan tertipu. Itulah salah satu contoh sikap baro dari generasi pertama.

Kemudian atsar dari Ibnu Abbas adalah “Siapa yang mencintai karena Allah, benci kaena Allah, berpihak karena Allah, memusuhi karena Allah, maka orangyang memiliki sikap demikian layak untuk mendapatkan pertolonga Allah”. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Yunus ayat 62-64:

Artinya:

Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.

Allah SWT berjanji di dalam ayat ini akan memberikan satu sikap yaitu tidak takut dan tidak lemah. Kemudian Ibnu Abbas mengatakan “Seseorang itu tidak akan bisa merasakan nikmatnya iman walaupun dia banyak shalat, puasa, melainkan dia harus memiliki sifat-sifat tadi”.

Syekh Sulaiman bin Muhammad bin Abdul Wahhab ketika mengomentari atsar dari Ibnu Abbas, beliau mengataka bahwa cinta dan benci itu memerlukan bukti, yaitu hal-hal yang melazimi kecintaan itu harus ada, begitu juga sifat permusuhan itu juga perlu dibuktikan.

Apa bukti loyalitas, kesetiaan seseorang kepada pemimpin, sesama muslim, orang beriman? Paling tidak ada empat.

  1. Menolong.

Yaitu memberikan pertolongan, dan ini telah dibuktikan dengan indah di dalam sejarah, yaitu bagaimana sikap sahabat-sahabat Anshor dalam menerima saudrara-saudara mereka kaum Muhajirin. Bagaimana bentuk pertolongan mereka? Contoh salah satunya adalah ketika awal hijrah Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshor.

 Ada lebih kurang dari 90 orang sahabat dikumpulkan di rumahnya Anas bin Malik, kemudian mereka dipersaudarakan. Salah satu contoh sikap An-Nushroh itu dikisahkan ketika Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan seorang dari Madinah yang bernama Sa’ad bin Ar-Robi. Bagaimana bentuk pertolongannya?

 Ketika mereka sudah dipersaudarakan, Sa’ad bin Ar-Robi berkata kepada Abdurrahman bin Auf, wahai Abdurrahman, saya diberikan oleh Allah kelebihan rizki, saya memiliki harta yang banyak, maka saya akan bagi harta saya, separuh untuk engkau dan separuh untuk keluarga saya. Kemudian saya punya dua orang istri, silahkan engkau lihat mana yang engkau suka beritahu saya, maka akan saya ceraikan dia, dan setelah habis masa iddahnya maka kau nikahi dan ambil dia. Tetapi Abdurrahman meolak dengan mengatakan sudah terima kasih, cukup tunjukan kepada saya dimana pasar.

 Luar biasa sikap menolongnya, bahkan sampai harta dan istri mau dibagi. Ini tidak mungkin kalau bukan karena tarbiyah yang luar biasa dari Rasul.

 Kemudian contoh sifat menolong yang lain yaitu ketika Rasul sedag duduk-duduk bersama para sahabat-sahabatnya, maka muncullah salah satu sahabat Muhajirin kemudian dia membisiki Rasul, apa yang dibisiki? Ya Rasulullah saya lapar. Maka Rasul ketika itu mengatakan siapa yang mau menjamu tamu saya pada malam ini mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepadanya.

 Maka ketika itu Abu Thalhah mengangkat tangan dan mengatakan saya yang akan menjamunya ya Rasulullah. Akhirnya Abu Thalhah pulang ke rumah kemudian bertanya kepada istrinya, apakah ada makanan yang akan dipergunakan untuk menjamu tamunya Nabi malam ini? Kemudian istrinya menjawab, makanan ini ada tetapi tidak banyak, ini hanya cukup untuk kedua anak kita, untuk makan malam mereka.

 Kemudian Abu Thalhah mengatakan ya sudah tawakkal saja kepada Allah, nanti kalau tamu itu sudah makan disini, kemudian kalau anak kita minta makan maka matika saja lampunya biar mereka tertidur. Akhirnya malam itu anak mereka tidur dalam keadaan lapar. kemudian besok hari Allah SWT menurunkan satu ayat yang terdapat di dalam surat Al-Hasyr ayat 9:

 Artinya:

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.

 Dengan turunnya ayat ini Allah SWT memuji sahabat-sahabat Anshor, termasuk Abu Thalhah dan istrinya. Kemudian Rasulullah mengatakan kepada para sahabat-sahabatnya, Allah takjub kepada si fulan dan fulanah, yaitu kepada Abu Thalhah dan istrinya. Apa bentuk takjubnya Allah kepada mereka? Mereka menolong sedangkan mereka sendiri dalam keadaan susah.

 Kemudian bukti loyalitas yang selanjutnya adalah.

  1. Menghormati
  2. Memuliakan
  3. Merasa dekat lahir dan bathin.

Itulah bukti daripada loyalitas. Sedangkan bukti dari pada baro adalah sebaliknya. Begitulah penjelasan Syekh Sulaiman bin Muhammad bin Abdul Wahhab. Jadi sikap baropun harus ada buktinya. Dan bukti yang paling besar adalah memusuhi orang-orang musyrik.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan “Sesungguhnya seseorang itu tidak akan lurus Islamnya walaupun dia mentauhidkan Allah dan memberantas syirik, kecuali dia harus memusuhi orang-orang musyrik, kalau tidak begitu maka Islamnya belum lurus”.

 Download Mp3 disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s