.::KAJIAN KE DUAPULUH ENAM: Alwala Wal Baro 6::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim

Pada kesempatan ini kita akan melanjutkan kembali pembahasan kita tentang Al-wala wal-baro, yaitu loyalitas dan permusuhan. Karena ini merupakan dua sifat yang mesti ada. Sepanjang sejarahnya sifat Al-wala wal-baro ini telah dipraktekan oleh Rasul dan orang-orang terdahulu, hanya saja karena kita hidup di zaman sekarang ini, masalah wala wal baro ini tidak pernah dibicarakan.

Akhirnya umat Islam ini dalam kondisi tidak jelas, bahkan dalam kondisi keliru. Setan dan musuh Allah itu tetap tidak akan suka kepada Islam, maka mesti ada wali Allah, penolong-penolog agama Allah. Hari ini kita dimana, apakah termasuk walinya setan atau walinya Allah? Ini dapat kita ketahui kalau kita memahami sifat wala wal baro ini dengan benar.

Kemarin kita sudah membahas beberapa dalil. Dan sekarang kita akan membahas dalil yang selanjutnya yaitu yang terdapat di dalam Surat Al-Maidah ayat 57:

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.”

Ayat ini jelas sekali, Allah SWT melarang kita mengangkat, menjadikan pemimpin, teman dekat, orang kepercayaan, penolong, orang-orang yang menjadikan agama ini sebagai bahan permainan. Di dalam tafsir Ibnu Katsir katika menafsirkan ayat ini bahwa orang-orang Yahudi, Nasrani itu, dengan turunnya ayat ini, mereka adalah orang-orang yang memperolok-olok syariat Allah.

Maka Allah SWT memperingatkan, tentunya ayat ini bukan cerita masa lalu saja. Karena Qur’an itu untuk masa lalu, sekarang, dan masa akan datang. Tentunya ayat ini merupakan peringatan bagi kita, bahwa Allah SWT memanggil orang yang mengaku beriman agar tidak menjadikan pemimpinnya, teman setia, penolongnya, adalah orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai bahan permainan dan olok-olok.

Bagaimana contohnya orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan olok-olok? Contohnya adalah, hari ini terlalu banyak orang yang mengaku Islam, mengaku benar Islamnya, tetapi ketika berkaitan dengan syariat Allah dia berkomentar “Tidak bisa, memang benar kita ini Islam, mayoritas Islam, tetapi kalau mau melaksanakan syariat Islam disini tidak boleh”. Mengaku benar tetapi mengataka tidak bisa dantidak boleh, maka ini sudah jelas-jelas memperolok-olok.

Kemudian contoh yang lain adalah MTQ dilaksanakan tiap tahun dari tingkat kelurahan sampai Nasional, ayat Al-Qur’an diperlombakan. Suara merdu-merdu diadu seperti burung perkutut, dan dewan hakam menilai Qori-Qori’ah sambil hisap rokok. Dibaca ayat-ayat tentang neraka tetapi mereka tenang-tenang saja dan tidak ada pengaruhnya.

Kalau di zaman sahabat ketika mendengarkan ayat tentang neraka mereka banyak yang pingsan, terutama Umar. Tetapi kalau orang-orang sekarang tidak ada pengaruhnya, dengar syurga dan neraka senyum saja. MTQ nya diperingati tiap tahun, tetapi coba kalau kita datangi mereka, pak pejabat anda muslim, saya muslim, ini Qur’an isinya perintah Allah untuk menegakkan syariat. Bapak yang memperingati MTQ tiap tahun difasilitasi, dikasih dana, sekarang saya mau melaksanakan isi Qur’an ini, bisa nggak? Oh tidak bisa. Ini sudah mempermainkan Allah.

Ini adalah salah satu bentuk memperolok-olok, MTQ nya jalan terus, tetapi ketika orang mau melaksanakan isi dari pada Qur’an yang didilombakan tiap tahun itu mereka mengatakan tidak bisa. Padahal Al-Qur’an itu bukan hanya dijadikan sebagai bahan bacaan saja kemudian diperlombakan. Allah SWT berfirman di dalam surat Ali-Imron ayat 138:

Artinya:

“Al Quran ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”

Jadi Al-Qur’an itu adalah petunjuk hidup, pelajaran. Tetapi baru bisa Al-Qur’an itu menjadi petunjuk apabila dibaca, dikaji, dan diamalkan. Maka ketika Rasulullah wafat anak-anak sahabat yang masih kecil bertanya kepada Ummahatul Mukminin Aisyah ra, “Wahai ummahatul mukminin bagaimanakah akhlak Rasulullah? maka dijawab akhlak Rasul adalah Al-Qur’an”.

Dengan Al-Qur’an ini jugalah Rasul mencelup dan mentarbiyah para sahabat sehingga menjadi orang-orang pilihan yang tidak tertandingi kualitasnya sepanjang masa, sehingga mereka juga diberi gelar Qur’an-Qur’an yang berjalan di tengah manusia. Diotak mereka ada Al-Qur’an, lisan mereka basah dengan Al-Qur’an, dihati mereka ada Al-Qur’an, bahkan sikap hidup mereka merupakan cerminan dari Al-Qur’an. Tetapi sayangnya generasi seperti itu hari ini hampir tidak ada.

Al-Qur’an hari ini paling tinggi hanya dibaca, setelah itu selesai, persis seperti kita membaca buku komik. Mestinya Al-Qur’an itu jadi petunjuk, tetapi kata orang sekarang Al-Qur’an yang di dalamnya berisi syari’at-syari’at Allah tidak bisa diamalkan. Ini adalah mengolok-olok, mempermainkan, membenarkan tetapi dilarang untuk diterapkan.

Bahkan ada lagi yang mengatakan Al-Qur’an ini sudah tidak cocok dengan konteks kekinian. Ini adalah orang yang merasa lebih pintar, yang disekolahkan di Israel, titelnya banyak. Bahkan mereka mengatakan hukum waris sudah tidak adil, ini adalah perkataan orang-orang JIL. Ini adalah orang-orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai permainan dan bahan olok-olok.

Berdasarkan ayat ini maka orang seperti ini tidak boleh kita jadika sebagai teman dekat, pemimpin, penolong, walaupun dia mengaku Islam. Bahkan kalau orang yang memperolok-olok ayat-ayat Allah kalau dia tahu dan sengaja melakukannya maka Islamnya bisa batal. Jadi hati-hati jangan sampai kita termasuk orang-orang yang memperolok-olok syariat Allah seperti memperolok-olok sunnah Nabi, orang berjenggot, orang bercadar.

Jadi di dalam ayat ini Allah SWT melarang kita menjadikan sebagai teman setia, pemimpin, penolong, orang-orang yang menjadikan agama sebagai bahan olok-olok. Kemudian dalil selanjutnya adalah surat Al-Mumtahanah ayat 1:

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; Padahal Sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. dan Barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, Maka Sesungguhnya Dia telah tersesat dari jalan yang lurus.”

Di dalam ayat ini Allah melarang musuhmu, musuh Allah dan Rasul untuk dijadikan sebagai teman setia, yang kamu sampaikan berita Muhammad kepada mereka. Asbabunnuzul dari ayat ini adalah ketika Rasul mengumpulkan kekuatan dan bersiap-siap untuk menyerang Makkah. Kemudian Rasul berdo’a “Ya Allah butakanlah mereka tentang berita kami”.

Tetapi ternyata ada seorang muslim yang bernama Hatim bin Abi Balto’ah, dia ini punya keluarga di Makkah. Dia tidak tega kalau dia tidak memberitahu keluarganya, dia merasa kasihan kepada keluarganya walaupun mereka masih musyrik. Karena merasa iba maka Hatim ini menulis sepucuk surat kemudian dititipkan kepada seorang wanita dan disuruh dibawa ke Makkah secara diam-diam.

Maka ketika itu Malaikat Jibril datang untuk memberitahu Rasul “Hai Muhammad si fulan sudah mengutus seorang wanita untuk membawa sepucuk surat yang isinya berita tentang kalian untuk disampaikan kepada keluarganya”, maka turunlah ayat ini. Kemudian Rasul memerintahkan Ali dan Al Miqdad bin Al Aswad untuk mengejar perempuan itu. Akhirnya setelah ditangkap maka perempuan itu ditanya apa yang kamu bawa? Kemudia ia menjawab saya tidak membawa apa-apa. Kemudian Ali bertanya apakah kamu membawa surat? Ia menjawab saya tidak membawa surat . kemudian mereka mengatakan kalau kamu tidak mau ngaku maka kami telanjangi kamu.

Akhirnya wanita ini ketakutan dan mengeluarkan surat itu dari balik rambutnya. Akhirnya surat itu diterima oleh Ali, kemudian dia melapor kepada Rasulullah dan mengatakan surat ini dari Hatim bin Abi Balto’ah. Maka dipanggillah Hatim kemudian Rasulullah menyampaikan ayat ini kepada Hatim, yang dimana ayat itu mengatakan melarang orang orang-orang beriman untuk menyampaikan berita tentang Muhammad kepada musuh-musuhmu.

Lantas bagaimana dengan orang sekarang ini? mereka menguping, menginteli orang sedang pengajian. Maka akhirnya Hatim tidak bisa mengelak karena wahyu sudah turun. Peristiwa itu membuat para sahabat menjadi geram dan marah. Umar  mendekati Rasulullah dan mengatakan ya Rasulullah biar saya saja yang mengeksekusi orang ini, akhirnya Rasulullah terdiam.

Setelah Umar meminta eksekusi maka Rasulullah mengatakan kepada Umar, ya Umar temanmu Hatim ini telah ikut dalam perang badar, tahukah kau wahai Umar? bahwa orang yang ikut dalam perang badar itu Allah mengatakan kepada mereka “Berbuatlah sekehendakmu wahai ahli badar, maka saya akan ampuni”. Maka kaget Umar setelah Rasul mengatakan seperti itu.

Itulah kehebatan ahli badar, bahkan kata Rasulullah kalau ahli badar itu mengangkat tangan untuk berdo’a maka tembus do’anya ke langit. Sehingga di zaman khalifah Umar prioritas panglima perang itu adalah ahli badar, karena perang pertama dan yang paling sulit adalah perang badar.

Intinya adalah ayat ini melarang untuk menyampaikan berita-berita rahasia kepada musuh. Jangan kamu menjadikan musuh-musuhmu itu sebagai penolong, kawan, teman setia, orang dekat yang kamu sampaikan berita-berita tetang Muhammad kepada mereka. Maknanya jangan kau sampaika rencana, rahasia kaum muslimin yang ingin menegakkan syariat Allah kepada mereka.

Download Mp3 Disini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s