.::KAJIAN KE DUAPULUH DUA: Alwala Wal Baro 2::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim

Kita akan melanjutkan pembahasan kita yang kemarin yaitu tentang Alwala wal baro. Alwala wal baro ini  merupakan satu keharusan, satu kelaziman daripada syahadat, karena konsekuensi dari syahadat harus melahirkan dua sifat ini. Kemarin kita sudah membahas satu dalil yaitu surat Al-Imran ayat 128. Jadi di dalam ayat ini Allah melarang orang kafir untuk dijadikan sebagai wali, pemimpin, penolong, orang yang kita cintai, dan orang yang kita percayai. Lantas pertanyaannya kepada siapakah kita harus berwala, harus loyal, siapa yang harus dijadikan pemimpin? Maka Allah SWT menjelaskan di dalam surat Al-Maidah ayat 55:

 

Artinya:

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).

Ini adalah wali kita, karena Allah yang menjelaskannya. Jadi yang harus dijadikan pemimpin adalah Allah, Rasul, orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, serta mereka yang ruku dan tunduk kepada Allah. Yang dimaksud dengan ruku’ di dalam ayat ini adalah orang yang tunduk kepada hukum Allah. Jadi wali, penolong-penolong, pemimpin-pemimpin kita yaitu Allah, Rasul, orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, serta yang tunduk kepada hukum dan aturan Allah.

Kepada merekalah kita harus berwali, loyal, tawalla, memihak, mencintai, mendukung, dan memberikan kesetiaan, karena itulah wali kita. Jadi kalau ada orang yang beriman, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, tetapi tidak tunduk kepada hukum Allah, maka dia tidak pantas untuk dijadikan wali. Tetapi hari ini hanya karena  orang itu shalat walaupun dia tidak tunduk kepada hukum Allah, dia mengingkari hukum Allah, oleh sekelompok manusia dibela karena shalatnya, disuruh kita berwali dan setia kepadanya.

Hari ini ada sebagian orang yang mengkaji tauhid, tetapi tauhidnya ompong, seperti singa yang tidak bertaring. Hanya karena melihat shalatnya, zakatnya seseorang, dituntut kita ini untuk berwali, taat kepadanya, meskipun dia tidak tunduk kepada hukum Allah, padahal ayat ini sangat jelas sekali. Ini adalah syubhat, kerancuan yang ditanamkan kepada kaum muslimin, dimana orang-orang ini mengatakan meskipun dia tidak taat kepada hukum Allah, kemudian taat kepada hukum kafir, tetapi sepanjang dia masih shalat, maka harus ditaati, harus dijadikan wali, pemimpin, ulil amri.

Jadi di dalam ayat ini jelas sekali kepada siapa kita harus memberikan loyalitas, kesetiaan, yaitu kepada Allah, Rasul, orang beriman yang menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, dan yang tunduk kepada hukum-hukum Allah. Dengan memahami ayat ini maka terjawablah syubhat oleh sebagian kelompok yang mengatakan wajib kita berwali kepada siapapun sepanjang dia shalat, walaupun dia tidak berhukum dengan hukum Allah.

Kemudian dalil yang lain adalah terdapat di dalam surat Al-Mumtahanah ayat 4:

 

Artinya:

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu  daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.

Di dalam ayat ini Allah SWT mengisahkan tentang Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim tinggal di Babilonia dan diutus kepada bangsa haran. Ketika Nabi Ibrahim menerima perintah untuk mendakwahkan tauhid, pada saat itu semua penduduknya kafir kecuali tiga orang yaitu Nabi Ibrahim, istrinya Siti Hajar, dan keponakannya Nabi Luth, ini dijelaskan di dalam kitab Al Bidayah Wan Nihayah karya Imam Ibnu Katsir.

Pada saat itu di Babilonia berkuasa seorang raja yang bernama Namrud. Bangsa haran ini kerjaannya adalah menyembah planet dan berhala-berhala. Nabi Ibrahim diutus untuk mendakwahkan tauhid dan melarang orang untuk menyembah  planet, berhala-berhala, termasuk bapaknya yang bernama Azar yang pekerjaannya  adalah pembuat berhala. Bangsa haran adalah bangsa kafir dan diperingatkan oleh Nabi Ibrahim agar mereka hanya menyembah Allah saja.

Tetapi mereka mengingkarinya sambil berkata “Kami hanya mau menyembah sebagaimana orang tua kami dulu menyembah, kami mau beribadah sebagaimana beribadahnya orang tua kami dulu”. Diperingatkan berkali-kali tetapi tidak mempan, akhirnya Nabi Ibrahim mencari kesempatan ketika mereka berkumpul pada satu hari raya, Nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala yang mereka miliki.

Kaum haran yang menyembah selain Allah diperingatkan berkali-kali tetapi mereka tidak perduli, akhirnya Nabi Ibrahim berbaro, berlepas diri dari mereka. Sayangnya hari ini ketika kita membahas ayat ini orang justru mengatakan suka mengkafir-kafirkan, kelompok takfiri, padahal ayatnya jelas. Tetapi orang sekarang kepada orang yang tidak mau taat, tunduk, patuh kepada Allah, yang seharusnya dibenci tetapi malah dicintai, karena seluruh yang ditaati selain Allah itu punya nilai berhala, itu thoghut.

Maka sikap yang benar adalah seperti sikapnya Nabi Ibrahim, sehingga Allah SWT mengatakan ada Uswah Hasanah pada diri Nabi Ibrahim. Itu untuk apa? Untuk ditiru. Tetapi kenyataan pada hari ini uswah hasanah Nabi Ibrahim tidak ditiru, yang ditiru hanya uswahnya Nabi Muhammad. Itupun nirunya pilih-pilih, tidak semuanya, yang mau-maunya saja, yang kira-kira menurut hawa nafsunya cocok.

Boleh kita kembali tidak membenci mereka, tetapi dengan syarat sampai mereka kembali beriman kepada Allah yang satu, baru sifat baro itu hilang. Kalau mereka mau beriman, taat, tunduk, patuh kepada Allah saja, maka sifat baro itu berubah dan berganti menjadi sifat wala, loyal. Tetapi sepanjang dia tidak mau taat kepada Allah, aturan Allah, maka berdasarkan ayat ini kita harus baro, berlepas diri, sebagaimana berlepas dirinya Nabi Ibrahim kepada kaumnya.

Apa yang bisa kita ambil dari kisah Nabi Ibrahim? Ketegaran Nabi Ibrahim dalam membawa tauhid, inilah yang disebut memurnikan tauhid. Nabi Ibrahim memperingatkan berkali-kali kepada kaumnya untuk menyembah Allah, tetapi mereka tidak mau, akhirnya Nabi Ibrahim berlepas diri, berbaro kepada kaumnya. Sikap ini yang hari ini tidak ada, sudah tahu orang itu mengingkari Allah, tetapi tidak mau berlepas diri. Orang yang jelas menantang Allah dan hukumnya yang ada malah didukung, padahal dalam ayat ini jelas.

Pernahkah ayat ini dibahas di luar sana? Tidak pernah, sehingga akibatnya apa orang tidak tahu tauhid yang benar. Maka sikap tegasnya Nabi Ibrahim ini seharusnya jadi uswah untuk diikuti oleh generasi yang akan datang. Intinya adalah kita harus berbaro kepada orang yang tidak taat kepada Allah, kepada musuh-musuh Allah, kepada orang yang beribadah kepada selain Allah. Bukan saja kepada orang kafir yahudi, nasrani, tetapi orang Islam yang tidak mau taat kepada hukum Allah, syariat Allah, aturan Allah dia juga bisa jatuh kafir.

Kalau kita sudah tahu begitu maka kita harus baro, tidak boleh mendukung. Sikap ini yang hari ini tidak ada, karena mereka tidak mau beresiko, tidak mau repot, karena mereka ditakut-takuti, belajar Islam kok takut, bahkan sampai ada ibunya nangis-nangis karena anaknya belajar tauhid. Kenyataan ini sangat bertentangan dengan kisah seorang ibu yang buta di zaman Rasulullah yang bernama Khonsah.

Ketika Rasulullah hendak memberangkatkan pasukan jihad, Abdullah bin Ummi Maktum seorang buta yang merupakan tukang adzan Rasulullah, dia mendatangi Rasulullah dan berkata ya Rasulullah ijinkan saya untuk ikut berjihad. Kemudian Rasul mengatakan kamu kan buta nanti bisa apa, biarkan saya ikut, simpan saja saya di depan biar saya kibas kibas pedangnya. Dilarang oleh Rasul tetapi tetap ngotot mau ikut. “Kalau orang sekarang dilarang dia malah senang, Alhamdulillah saya nggak jadi mati”.

Sedangkan sahabat-sahabat dulu dicoret namanya dari pasukan jihad mereka malah menangis, dan di ayat yang lain ada beberapa orang sahabat yang tidak mendapatkan kendaraan untuk ikut berjihad mereka malah menangis. Akhirnya Abdullah bin Ummi maktum diijinkan oleh Rasulullah. Kepergian Abdullah ini didengar oleh Khonsah, dan akhirnya dia merasa iri.

Akhirnya dia memanggil empat orang anak laki-lakinya dan berkata kepada mereka ibumu memerintahkan agar kalian segera menyusul pasukan Rasulullah dan berjihad bersama Rasulullah dan para sahabat, kemudian anaknya mengatakan kami siap untuk pergi berjihad. Maka berangkatlah mereka untuk berjihad bersama Rasulullah. Setelah beberapa lama pasukan Islam pulang, kemudian Rasulullah mengutus beberapa orang sahabat untuk pergi kerumahnya Khonsah untuk memberitahu bahwa empat orang anaknya sudah Syahid.

Setelah sampai di rumah Khonsah para sahabat menyampaikan bahwa ada kabar gembira dari Rasul yaitu empat orang anakmu telah syahid, ia merasa senang mendengar berita itu kemudian ia mengucapkan Alhamdulillah. Di mana ibu seperti Khonsah pada hari ini? Padahal Khonsah diceritakan ketika dia masih musyrik, ketika bapak dan saudaranya meninggal ia menangis berhari-hari sambil memukul pipi dan mengoyak-ngoyak baju saudaranya yang meninggal.

Tetapi anaknya sendiri yang meninggal, dan kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah Alhamdulillah anak saya syahid semuanya. Ada nggak ibu seperti khonsah pada hari ini. Ini baru anaknya ikut pengajian sudah ketakutan seolah-olah mereka tidak mati. takut mati karena pengajian, eh malah ditabrak mobil, takut mati karena Islam. Orang hari ini lebih senang mati karena penyakit-penyakit kronis, pergi keluar negeri dengan menghabiskan biaya yang mahal. Tetapi mati karena memperjuangkan Islam mereka tidak mau, takut mereka.

Jadi saya peringatkan disini, orang kafir, fasik, munafik, muslim, mukmin, pengecut, penghianat, pasti akan mati. Tinggal kita mau pilih, mau jadi apa kita dan mau mati dengan jalan bagaimana, karena matinya pasti. Tetapi aneh hari ini orang lebih memilih kematian yang hina, mestinya sebagai umat Nabi Muhammad dia memilih satu prestasi yaitu ingin mati dengan cara yang terbaik. Coba tanamkan dalam diri kita sebuah cita-cita mudah-mudahan saya mati karena Islam. Mudah-mudahan Allah mengabulkan, dan jangan sampai kita tidak memiliki cita-cita.

Mp3: Download di sini

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s