.::KAJIAN KE DUA PULUH SATU: Alwala Wal Baro::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim

Insya Allah pada kesempatan ini kita akan membahas tentang sesuatu hal, yaitu yang melazimi kalimat syahadat, yaitu tentang “Al-Wala wal baro”.

Sangat sedikit  jumlahnya kaum muslimin pada hari ini yang membahas tentang alwala wal baro, itupun ada yang membahas dengan tidak jujur. Kalau kita periksa makalah-makalah, kajian-kajian tentang wala wal baro, dan juga kitab-kitab yang ditulis oleh sebagian ulama Timur tengah, itu kelihatan sekali wala wal baro yang bukan pada tempatnya dan dibahas dengan samar-samar pada sebagian pembahasan. Sehingga bisa kita simpulkan ulama itu ada dua, ada ulama robbani dan ada ulama syu’.

Al-Wala wal baro ini adalah merupakan satu kelaziman, satu kemestian, yang harus ada pada orang yang bersyahadat dengan benar, maka dia harus memiliki dua sifat ini. Karena ini merupakan intisari daripada syahadat, kalau tidak ada dua hal ini maka syahadat seseorang itu kosong melompong. Apa itu alwala wal baro? Alwala memiliki beberapa arti yaitu loyalitas, penolong, pelindung, teman dekat, orang kepercayaan, pemimpin, artinya banyak, dan tergantung dari konteks dalilnya.

Artinya adalah kepada siapa kita harus berloyalitas, meminta pertolongan, meminta perlindungan, menyerahkan kepemimpinan. Siapa yang harus kita jadikan pemimpin, siapa yang harus kita cintai, siapa yang harus kita berpihak kepadanya, ini adalah al-Wala. Sementara al-Baro adalah satu sikap keberlepasan diri, permusuhan, kebencian, tidak berpihak, tidak membela. Maka dua sikap ini mesti  ada bagi orang yang bersyahadat dengan benar, karena orang yang benar syahadatnya wajib  melahirkan dua sifat ini, kepada siapa dia harus berwala dan kepada siapa dia harus berbaro.

Kenyataan dalam hidup manusia ini secara garis besar, manusia terbagi menjadi dua, yaitu iman dan kafir. Orang yang beriman garisnya jelas, jalannya jelas, tujuan dan prinsip hidupnya jelas, ideologinya jelas, dan muara akhirnya jelas. Sedangkan orang kafir juga jelas ideologinya kafir, jalan hidupnya jalan kafir, tujuan akhirnya juga jelas.

Jadi hanya ada dua, kelompok orang beriman yaitu kelompoknya Allah, ada penolongnya yang disebut Hizbullah, sedangkan yang kedua kelompok albathil, kelompoknya orang-orang kafir disebut Hizbussaithan. Dan antara al-haq dan al-bathil ini tidak akan pernah bertemu dan bersatu seperti tidak mungkin menyatukan antara air dan minyak. Jika mencintai salah satu dari keduanya mesti  melahirkan kebencian pada salah satunya, karena tidak mungkin harus mencintai keduanya.

Sifat ini yang hampir hilang pada hari ini sehingga umat Islam tidak jelas siapa yang dicintai dan siapa yang dimusuhi. Yang lebih parah lagi adalah yang seharusnya dimusuhi itulah yang dicintai, dan yang harusnya dicintai justru itulah yang dibenci dan dimusuhi, karena mereka tidak paham al-wala wal baro. Maka sungguh beruntung kita pada hari ini diberi hidayah oleh Allah untuk bisa memahami ini sehingga kita bisa membuka mata untuk memahaminya.

Dan wala wal baro ini telah dipraktekkan dengan sangat indah oleh para sahabat, mereka jelas wala wal baronya, dua sifat ini begitu jelasnya dipraktekkan oleh para sahabat. Jadi hizbullah dan hizbussaithan tidak mungkin bisa bertemu. Mencintai hizbullah maka harus membenci hizbusaithan, begitu juga sebaliknya memcintai hizbussaitan konsekwensinya harus membenci hizbullah. Sekarang pertanyaannya dimanakah kita berdiri pada hari ini? Tentukan hari ini dimana kita.

Mencintai kedua-duanya adalah satu hal yang mutlak, kalau mencintai salah satunya, maka harus membenci salah satunya, karena Allah SWT berfirman didalam surat Al-Ahzab ayat 4:

Artinya: Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya

Insya Allah pembahasan ini kalau kita tekuni dan kita hayati akan melahirkan satu akidah yang kuat, ikatan seseorang itu akan kuat. Tetapi selama orang tidak paham ini maka seperti apa yang kita saksikan pada hari ini, yaitu ada satu sikap yang tidak dimiliki oleh orang-orang pada hari ini yaitu “Muwalatul mukminin dan muadatul kafirin, Cinta kepada orang mukmin yang disebut dengan alwala, loyalitas dan membenci orang kafir”, ini  harus dimiliki oleh kaum mukminin.

Tetapi sayangnya hari ini sifat ini tidak ada bahkan terkesan terbalik. Maka akibatnya seperti sekarang ini, Islam gado-gado, Islam peringatan-peringatan, sementara akidahnya rusak amburadul. Maka itulah pentingnya kita memahami Alwala wal baro, supaya akidah kita menjadi kuat dan menjadi akidah yang selamat.

Ada beberapa dalil yang menjadi rujukan dalam pembahasan ini, diantaranya adalah firman Allah yang terdapat dalam surat Ali-Imran ayat 28:

Artinya:

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali (mu).

Larangan Allah begitu jelas dalam ayat ini. Sekarang berapa banyak di dunia ini orang kafir yang sudah diangkat menjadi pemimpin. Contohnya banyak sekali, dan ulama-ulama sudah menyebut kekafirannya mereka. Masalahnya kalau kekafirannya tidak disebut maka orang-orang akan tertipu. Contohnya seperti Bassar assad, dia itu shalat, tetapi di vonis kafir, siapa yang memvonis kafir? Ulama dari timur tengah seperti syekh Bin Baz.

Para ulama itu memvonis dia itu kafir padahal dia masih shalat. Tidakkah pada hari ini ada sebagian orang mengatakan tidak boleh mengatakan dia itu kafir karena masih shalat. Karena mereka menjadikan shalat sebagai patokannya, dan tidak dilihat lagi kondisinya dia yang lain yaitu menentang hukum Allah, merubah hukum Allah, menginjak-injak syariat Allah. Pertanyaannya, apa karena mereka tidak shalat sehingga ulama Saudi memvonis dia itu kafir? Dia itu shalat.

Tetapi itulah syubhatnya orang pada hari ini yang katanya ingin memurnikan akidah, ingin memurnikan tauhid, tetapi orang-orang seperti itu malah dijadikan pemimpin. Maka sepakatlah ulama-ulama Saudi mengatakan siapa yang menentang, merubah syariat dan hukum Allah maka dia kafir, meskipun dia shalat. Berapa banyak orang di dunia ini menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, karena pemahaman orang pada hari ini bahwa orang kafir itu hanyalah orang Kristen, Hindu, Budha, padahal bukan hanya itu saja, orang Islampun bisa jadi kafir.

Maka berdasarkan ayat ini hati-hati dalam mengangkat dan memilih pemimpin, pemimpin itu ibarat lokomotif dan kita ini sebagai gerbongnya. Maka gerbongnya ikut saja apa yang dibawa oleh lokomotif, rakyat banyak ini ikut saja apa kata pemimpinnya. Pemimpinnya terjun masuk neraka, rakyatnyapun ikut saja, maka hati-hati. Jangan mempunyai sikap yang tidak jelas karena tidak paham syahadat, apalagi wala wal baro, itulah yang menyebabkan timbulnya kebodohan seperti sekarang ini. Kadang-kadang apa katanya mereka, “Ah kita ini ikut saja, kita ini tidak tahu apa-apa, ikuti saja kata pemimpin”.

Hari ini sudah terlalu banyak orang mengatakan hal-hal seperti itu, dimana disimpan ayat ini? Nggak paham dia, shalat saja tidak, apalagi mau memahami ayat yang seperti ini. Jadi siapapun orangnya, di negara manapun dia, kalau dia menolak, mengganti syariat Allah maka kafir dia, itu kata ulama, ayatnya jelas, kitab-kitabnyapun banyak. Kalau orang sekarang mereka nggak mau tahu terhadap permasalahan ini, mereka masa bodoh, malah mau masuk syurga, syurga dari mana? Apa tidak takut diprotes oleh Bilal, Amar bin Yaser, gampang-gampang mereka berpikir mau masuk syurga.

Orang dahulu karena syahadat mereka sampai berdarah-darah, tetapi orang sekarang kok gampang-gampang hanya modal shalat satu sampai dua menit saja mau masuk syurga. Rasul dan orang-orang beriman berjuang menegakkan tauhid ini, karena mau menegakkan tauhid sehingga mereka dimusuhi dan diperangi. Berapa banyak nyawa syuhada , berapa banyak air mata, darah, dihabiskan untuk tegaknya kaliman ini dengan segala konsekwensinya. Sampai-sampai karena saking beratnya penderitaan sehingga sahabat-sahabat mengatakan “Mataanasrullah, kapan pertolonganmu datang ya Allah”.

Tetapi hari ini ada orang bicara tauhid, salafus saleh, beraninya hanya di masjid saja, di luar tauhidnya ompong, tidak bertaring. Jadi hati-hati terhadap mereka ini, para penipu-penipu agama, jangan sampai mau dibodohi oleh mereka. Tauhid itu jika ditegakkan tidak pernah ada yang mulus, carikan satu Nabi saja yang bawa tauhid dapat hadiah, bintang jasa, dapat penghargaan.

Alangkah jauhnya kita dengan para pendahulu, karena apa? Begitu mengucapkan syahadat mereka langsung paham, tetapi kalau kita sekarang ini masih perlu dijelaskan, fatalnya yang seperti ini tidak pernah dijelaskan. Maka hati-hati, ini perkara akidah, perkara tauhid, perkara al-wala wal baro, itu sangat penting. Kalau ini kita pahami dengan benar sebagaimana tuntutan maka tauhid kita akan lurus, tetapi kalau ini tidak ada maka syahadat kita tidak punya ruh seperti syahadat kebanyakan orang pada hari ini yang dari  TK sampai jenggotan tua tahunya hanya tiada tuhan selain Allah.

Karena apa? Tidak mau belajar Islam sementara merasa drinya cukup. Kadang-kadang mereka juga nyeleneh “Ya sudahlah kita ikuti saja kata bapak kita dulu, ribet lagi ikut pengajian sekarang, sedikit-sedikit pengajian”. Pengajian nggak suka mereka, tetapi kalau makan sering dia, hitung vulhus sampai tangannya bengkok mau dia, tetapi kalau ilmu yang akan menuntunnya ke syurga nggak mau dia. Padahal salah satu jalan yang yang memudahkan seseorang untuk menuju syurganya Allah itu adalah ilmu.

Maknanya jalan ke syurga itu harus ditempuh dengan ilmu, karena ilmu menentukan kualitas amal. Pantas keadaan kita hari ini rusak, karena apa? Meninggalkan ilmu. Benarlah kata Rasulullah celakanya, binasanya, hancurnya umatku itu ada dua penyebabnya, yaitu meninggalkan ilmu dan mengumpulkan harta. Ini adalah penyebab dari kehancuran maka hati-hati. Tidak ada batasannya kita belajar, bahkan sampai tua bongkok, sampai mau mati, jangan jauh dari ilmu.

Mp3 Download di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s