.::KAJIAN KE DUA PULUH: Pentolan Thoghut 5::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim

Pada kesempatan ini kita akan melanjutkan pembahasan kita. Dan sekarang kita akan membahas pentolan thoghut yang kelima.

5. Orang-orang yang diibadahi selain Allah dan dia ridho dengan peribadatan itu.

Bahasa umumnya adalah orang-orang yang disembah selain Allah dan dia ridho dengan penyembahan itu. Adapun makna dari pentolan thoghut yang kelima ini adalah “Orang-orang yang mempunyai kekuasaan, baik kekuasaan yang berupa pemerintahan maupun yang berupa keilmuan, yang dengan itu dia bisa mempengaruhi orang banyak”. Jadi mereka itu adalah para ulama dan para umaro.

Jadi hari ini ada orang yang tanpa disadari dia telah mempertuhankan ulama dan umaro, dimana para ulama dan umaro ini dia tidak berjalan sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dan Rasulnya, dan dia melenceng daripada ketentuan Allah dan Rasul. Jadi simpelnya kalau bisa diambilkan contoh, ada model manusia yang namanya ulama-ulama, yang ulama-ulama itu tidak mengikuti ketentuan Allah.

Dia membuat fatwa-fatwa sendiri dan fatwa dari penguasa yang dengan fatwa itu dia memaksakan dan membujuk orang banyak untuk mengikutinya, yang dimana fatwanya itu bertentangan dengan kehendak Allah. Dan ketika orang banyak itu mengikuti fatwanya yang sesat itu maka dia ridho dan rela. Namanya ulama, jadi yang keluar dari mulutnya itu seolah-olah dianggap pasti benar. Apalagi hari ini orang banyak tertipu dengan sorbannya ulama dan tasbih yang besar.

Orang-orang seperti ini kadang-kadang yang diucapkan, disampaikan, ataupun perbuatannya itu menyimpang. Tetapi dengan modal keulamaanya itu dia dapat mempengaruhi orang banyak untuk mengikutinya, dan ketika orang banyak mengikutinya maka dia ridho. Nah inilah yang termasuk pentolah thoghut yang kelima.

Maka jangan heran ulama itu nggak semuanya benar. Memang benar ulama itu pewaris para Nabi, tetapi tidak semua ulama, karena ada kriteria-kriterianya. Ulama itu dikatakan pewarisnya para Nabi selama dia tidak mengikuti kemauannya, kemauan para penguasa, dan tidak gila terhadap dunia. Jika dia mengikuti penguasa yang menyesatkan, dzholim, dan gila dunia, maka dia itu adalah maling.

Dan pada hari ini banyak model ulama seperti itu, yang keluar dari mulutnya itu seolah-olah kebenaran dari ayat dan kebenaran dari hadits, tetapi sebetulnya itu semua melenceng dari makna kebenaran itu sendiri. Yang parahnya lagi mereka diikuti karena ketokohannya sebagai ulama, dan dia ridho ketika diikuti, sementara dia tahu kalau itu adalah salah. Kemudian andaikata ada orang yang tahu tentang kebenaran itu yang menegur dia, dia tidak mau mencabut fatwanya yang salah atau keliru tadi. Dia bertahan, dia tetap berpegang di atas hawa nafsunya.

Jadi dia tidak mau mengikuti kebenaran, karena kebenaran itu diukur dengan hawa nafsunya atau mengikuti pesan dari sponsor, kemudian dia diikuti oleh orang banyak, maka ini adalah pentolan thoghut. Ketaatan itu baru dikatakan sah kalau orang yang ditaati itu mengikuti kebenaran atau ketentuan Allah. Tetapi kalau ketaatan itu selain kepada Allah, maka itu dinamakan pentolan thoghut. Di zaman kita ini maaf-maaf orang mengukur seseorang itu dengan symbol dan tampilan dzohirnya.

Satu contoh, ada orang yang diklaim sebagai seorang wali, dia ini pernah ngomong bahwa orang Kristen, Yahudi, dan Nasrani itu tidak kafir. Sedangkan Allah SWT berfirman yang terdapat dalam surat Al-Maidah ayat 72-73:

Artinya:
Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata, sesungguhnya Allah itu adalah Al-masih putra maryam, padahal Al-masih (sendiri) berkata, wahai bani israil sembahlah Allah, tuhanku dan tuhanmu. Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan syurga baginya, dan tempatnya adalah neraka, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang dzholim itu. (QS. Al-Maidah: 72)

Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain tuhan yang esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih. (QS. Al-Maidah: 73)

Kata si wali itu bahwa Yahudi dan Nasrani itu tidak kafir karena mereka memiliki agama, tetapi Allah mengatakan dalam ayat tersebut bahwa mereka itu kafir. Terus yang benar itu siapa, Apakah ayat itu atau si wali yang nyeleneh? tentu yang benar ayatnya itu. Tetapi oleh orang banyak “Oh dia itu pasti benar, dia itu keturunan wali”. Karena melihat figur, nama besar, anak seorang tokoh, jadi dianggap wali. Tetapi kalau dia salah tetap nggak bisa untuk diikuti, karena kalau ketika dia salah kemudian diikuti dan dia ridho dengan pengikutan itu, apalagi memaksa orang untuk mengikutinya, maka dia itulah pentolan thoghut.

Jadi disini saya ingatkan, “Hati-hati, jangan tertipu dengan simbol-simbol, belum tentu bapaknya kiyai kemudian anaknya otomatis benar semua, atau sekolah di Madinah lantas benar semua. Dan jangan tertipu juga dengan ketokohan seseorang, karena semasih dia bukan Nabi dia mempunyai potensi untuk salah, ketika benar kita ikuti tetapi kalau salah jangan diikuti.

Imam Malik pernah mengatakan, “Setiap orang itu ucapannya bisa diambil dan bisa juga kita buang kecuali apa yang dikatakan oleh penghuni kubur yang satu ini, yaitu Muhammad SAW sambil menunjuk kuburan Nabi. Siapapun punya potensi untuk salah, jadi jangan tertipu dengan simbil-simbol, dan lambangnya. Karena belum tentu orang besar itu sudah pasti benar, karena para sahabatpun bisa salah.

Contohnya pada saat terjadi perang zaman atau perang unta, dimana Aisyah r.a berperang memerangi sayidina Ali yang pada saat itu menjadi seorang khalifah. Dalam satu kasus sayidina Ali ini diperangi karena tidak mau mengusut siapa pembunuhnya Utsman bin Affan, karena Utsman ini saudara sepupunya Aisyah. Ali bukannya tidak mau mengusut, karena pada saat itu keadaan masih kacau sehingga belum ada kesempatan untuk mengusut karena, itu semua karena kehati-hatian beliau. Tetapi oleh Aisyah dianggap bahwa Ali ini mengabaikan.

Lalu Aisyah mengumpulkan kekuatan yang didukung oleh dua sahabat besar yaitu veteran perang badar, yang kata Rasulullah veteran perang badar itu kalau dia berdoa maka do’anya akan tembus ke langit. Dua sahabat besar ini adalah Thalhah dan Zubair, dua orang ini termasuk sepuluh sahabat yang dijamin melalui lisan Rasulullah pasti akan masuk surga. Perang ini berlarut-larut dan sampai memakan korban yang ribuan. Sebagian sahabat ada yang mendukung Aisyah dan sebagian lagi mengikuti Ali, dan ada juga yang tidak ikut-ikutan karena takut salah.

Kemudian dalam kondisi itu datang orang khawarij untuk menemui sayidina Ali untuk memanaskan suasana dan mau menguji Ali. Ali bagaimana dengan pendapatmu tentang Thalhah dan Zubair, benar atau salah mereka? ini pertanyaan untuk memancing Ali. Maka kata Ali, “Saya tidak mengukur kebenaran itu karena melihat ketokohan seseorang, tetapi kami akan pahami dulu hakekat kebenaran itu. Maka kita akan tahu siapa yang berpegang pada kebenaran, maka itulah ahli kebenaran”. Jadi jangan melihat ketokohan seseorang nanti kita akan tertipu.

Akhirnya pada suatu malam, dahulu sebelum Rasulullah meninggal, Rasulullah pernah mengatakan kepada istrinya Aisyah. Aisyah kamu nanti akan terkena suatu fitnah dan ketika itu terjadi maka kamu berada dalam posisi yang salah, mendengar kata Rasulullah itu maka Aisyah merasa kaget. Tandanya bila itu datang bahwa kamu keluar pada suatu malam kemudian kamu akan digonggong oleh seekor anjing.

Maka setelah perang itu berkepanjangan dan belum selesai-selesai, pada suatu malam Aisyah keluar untuk membuang hajat, maka disaat itulah aisyah digonggong oleh seekor anjing. Ketika itu Aisyah kaget kemudian dia teringat dengan perkataan Rasulullah yang mengatakan kepadanya. Maka setelah Aisyah mendengar gonggongan anjing tadi, Aisyah lalu mengumpulkan Thalhah dan Zubair kemudian dia katakan berhenti berperang kita dalam posisi yang salah. Akhirnya terjadilah perdamaian antara Aisyah dan Ali, walaupun telah terjadi peperangan yang berkepanjangan dan telah memakan korban yang banyak. Tetapi oleh Ali, Aisyah ini tetap dimuliakan dan dihormati karena dia adalah istri Rasulullah.

Pentolan thoghut yang kelima yaitu “Orang-orang yang mempunyai ilmu, para ulama, para penguasa, yang kemudian dia tetap tidak mau mengikuti kebenaran. Kemudian di atas kesesatannya itu dia diikuti oleh orang banyak sedangkan dia rela dan ridho.

Thoghut-thoghut ini mesti harus diingkari, kalau kita hanya paham kebenaran tetapi tidak ada upaya mengingkari thoghut, jangan-jangan kita terkena seperti apa yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab “Sesungguhnya manusia itu dia belum dikatakan beriman kepada Allah sampai dia mengingkari thoghut”. Jadi hati-hati kita jangan sampai mengikuti orang-orang yang tidak paham Islam. Dalilnya adalah terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 256-257:

Artinya:
Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama Islam, sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa yang ingkar kepada thoghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah maha mendengar maha mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 256)

Allah pelindung orang yang beriman, dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan, mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah: 257)

Kapan seseorang itu baru dikatakan berpegang pada agama yang benar? Apabila dia ingkar kepada thoghut dan beriman kepada Allah. Jangan samar-samar, taat pada thoghut kemudian taat juga pada Allah, atau sebaliknya ingkar kepada thoghut kemudian ingkar juga kepada Allah, ini orang super bingung. Jadi berdasarkan ayat ini “Seseorang baru dikatakan benar Islamnya kalau dia mengingkari thoghut dan beriman kepada Allah, maka orang yang demikian ini dianggap telah berpegang pada tali diin yang sangat kokoh yang tidak mungkin putus”.

Kemudian ada peringatan dari Allah SWT yang terdapat dalam surat Al-Anbiya ayat 98:

Artinya
Sungguh kamu (orang kafir) dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah bahan bakar jahannam kamu (pasti) masuk ke dalamnya. (QS. Al-Anbiya: 98)

Maka hati-hati kita jangan ikut-ikutan prinsip yang salah, taqlid buta. Mereka beranggapan, “Kita ini orang awam, ikut saja kata penguasa. Kita ini tidak punya kekuatan apa-apa, ikut saja mereka itu, toh kalaupun mereka sesat dan salah mereka sendiri yang sesat bukan kita”.
Dan pemahaman ini dibantah oleh ayat yang terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 166:

Artinya:
(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikuti, dan mereka melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus. (QS. Al-Baqarah: 166)

Ini jelas Allah mengatakan ketika orang-orang yang diikuti tersebut berlepas diri, bukannya dia menolong. Dan dalam ayat-ayat yang lainnya juga mengatakan bahwa mereka saling berbantah-bantahan. Jadi jangan jadi penurut saja, nggak pake akal, nggak pake ilmu. Sepanjang dia benar maka ikut saja, tetapi kalau itu nggak benar mau datangnya dari ulama atau kiyai, maka buang saja ajarannya.

Tetapi walaupun dia bukan ulama, bukan kiyai, nggak sekolah di Madinah, sekolah di kolong jembatan, tetapi dia berpegang pada Al-Qur’an dan sunnah serta benar pemahamannya maka ikuti dia. Jadi bukan hanya melihat gelarnya LC, MA, kemudian menjamin pasti ajarannya benar semua, belum tentu itu. Sahabat saja bisa salah. Kapan orang itu baru benar? ketika dia berpegang teguh pada sumber kebenaran, maka ikutilah dia, tetapi kalau tidak jangan diikuti

Download Mp3 Disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s