.::KAJIAN KE DELAPAN BELAS: Pentolan Toghut 3::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim.

Pada kesempatan ini kita akan melanjutkan pembahasan kita yang kemarin. Kemarin kita membahas pentolan toghut yang kedua yaitu “Hakim, penguasa yang dzolim yang suka merubah-rubah hukum Allah”. Dan sekarang kita akan memasuki pembahasan yang berikutnya yaitu pentolan toghut yang ketiga.

3. Pentolan Thoghut yang ke 3. Orang yang berhukum dengan selain apa yang diturunkan oleh Allah.
Apa yang diturunkan oleh Allah? Alkitab. Kalau ketika itu orang Yahudi diberi kitab taurat, kemudian orang Nasrani diberi kitab injil, yang dengan kitabnya itulah mereka diperintahkan oleh Allah untuk berhukum. Mana buktinya? Firman Allah di dalam surat Al-Maidah ayat 44-47.

Artinya:
Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah: 44)

Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qisas) nya, Maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Maidah: 45)

Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi Nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, Yaitu: Taurat. dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, Yaitu kitab Taurat. dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Maidah: 46)

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Maidah: 47)

Ayat 44 itu khitohnya kepada orang-orang Yahudi agar mereka berhukum dengan kitabnya itu, kemudian diikuti oleh orang Nasrani agar mereka juga berhukum dengan kitabnya itu. Sekarang permasalahannya, kita juga menerima kitab, kalau mereka setelah diberi kitab oleh Allah, kemudian mereka tidak berhukum dengan kitabnya itu, maka diancam oleh Allah yaitu dengan kafir, fasik, dan dzolim.

Sekarang pertanyaannya, kita menerima kitab, dalam kitab kita ada rincian hukum-hukum tentang qisos dan sebagainya, rambu-rambu aturan sebagai syariat Allah, hukum-hukum yang harus ditegakkan, kemudian kita tidak melaksanakan hukum itu, kafir nggak kita? Ada yang mengatakan nggak kafir, yang kafir itu orang yahudi. Jadi pada hari ini ada syubhat, kerancuan yang ditiupkan oleh salafi murji’ah.

Jadi mereka mengatakan penguasa-penguasa di dunia Islam pada hari ini yang tidak berhukum dengan hukum Allah itu nggak kafir, karena ayat itu khitohnya kepada orang yahudi. Jadi mereka itu hanya kufrun duna kufrin. Ini adalah syubhat, kerancuan yang ditiupkan oleh mereka. Maka kita bahas ini dengan tujuan agar kita paham dan jangan sampai kita termakan oleh isyu-isyu yang mengatakan bahwa ada sekelompok yang suka mengkafir-kafirkan orang. Ini perlu diketahui, karena berdasarkan keempat ayat tersebut mereka bisa kafir, fasik, dan dzolim.

Di ujung ayat 44 Allah SWT katakan “Barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir”. Maka dalam mengomentari ayat ini Syekh Muhammad bin Ibrahim alu Asy-Syaikh menjelaskan tentang kekafiran yang Allah maksudkan di dalam ayat tersebut. Beliau mengatakan bahwa ada dua kekafiran yang terkait dengan ayat ini, jadi bukan hanya satu kekafiran saja.

Jadi orang salafi murji’ah ini mengaburkan ayat ini, mereka hanya mengatakan kufrun duna kufrin, kekafiran yang tidak mengeluarkannya dari Islam sebagaimana pendapat dari Ibnu Abbas. Dan itu memang betul, dan tertera di dalam kitab Madarijus Syalikin, tetapi masih butuh penjelasan lagi. Maka Syekh Muhammad bin Ibrahim alu Asy-Syaikh menjelaskan, yang berkaitan dengan ayat ini maka kekufuran itu ada dua, yaitu kufur I’tiqodi dan kufur Amali.

Kufur I’tiqodi ini memang kufur I’tiqodnya dan bisa “Yukhriz minal millah, mengeluarkannya dari millah”. Kemudian yang kedua adalah “Kufur Amali, dan pelakunya tidak sampai keluar dari agama Islam, tetapi hanya kufrun duna kufrin”. Maka kita akan sedikit nukilkan penjelasan dari Syekh Muhammad bin Ibrahim alu Asy-Syaikh bahwa seseorang yang telah jatuh kufur I’tiqod maka otomatis dia sudah keluar dari agama Islam dengan enam sebab, diantaranya:

1. Jika dia mentah-mentah mengingkari hukum Allah ini, dia tidak mau mengikuti kebenaran hukum Allah. Maka orang yang seperti ini sudah jatuh pada kufur I’tiqod, yaitu kufur yang mengeluarkannya dari millah (agama Islam).

2. Bilamana dia menganggap ada aturan yang dibuatnya atau aturan apapun itu lebih baik daripada aturan Allah. Sekarang saya mau tanya, aturan yang dipakai di Negara ini apa? Aturan yang dibikin oleh Belanda, hukum Belanda yang dipakai. Belanda yang sudah menjajah selama 350 tahun, kemudian Indonesia bangkit melawan dan akhirnya merdeka. Belandanya keluar, tetapi hukum, aturannya ditinggal dan dipakai sampai sekarang. Jadi siapapun yang melakukan itu maka dia kufur I’tiqodi, dan keluar dari millah.

3. Orang yang beranggapan sama baiknya antara hukum Allah dan hukum buatan manusia. Katanya hukum Allah itu baik, hukum buatan manusia juga baik. Hukum toghut ini sudah universal dan berada di semua Negara, kalau Qur’an itu cuman berada di negara Arab, kalau hukum inikan sudah universal dan semua menerimanya.

4. Bilamana seseorang itu mengaku punya keleluasaan, mengaku bebas untuk memilih, boleh pakai hukum Allah kalau mau, boleh juga pakai hukum buatan manusia.

5. Orang yang memakai-makai hukum adat. Ada nggak di Indonesia ini? Ada, mereka lebih mengedepankan ra’yu, pikiran manusia, dari pada wahyu.

6. Orang yang mentah-mentah merubah, tidak mau sama sekali menggunakan hukum Allah.

Sekarang pertanyaannya, dari keenam penyebab orang jatuh kepada kufur I’tiqodi yang dikatakan sampai keluar dari agama, lantas kita ini yang mana, ada nggak kesesuaiannya? Inikan nyata sekali. Masihkah kita mengatakan hukum yang ada ini Islam, dan masihkah kita mengatakan orang-orang yang melegalkan hukum ini adalah orang Islam yang baik, padahal mereka sudah jelas-jelas telah merubah hukum Allah?

Inilah yang akhirnya menjadi pertentangan antara orang memurnikan tauhid dengan orang yang mengaburkan tauhid. Orang yang memurnikan tauhid dengan berbagai macam dalil yang dikemukakan secara jujur, serta mengkafirkan orang, penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah.

Tetapi pemahaman ini dibantah oleh salah satu kelompok yaitu salafi murji’ah yang mengatakan bahwa mereka itu tidak kafir I’tiqodi tetapi hanya kafir Amali, maka ia tetap dikatakan muslim. Jadi enam sebab inilah yang menyebabkan seseorang itu kufur I’tiqodi dan yukhriz minal millah, keluar dari millah, keluar dari Islam.

Kemudian yang kedua menurut Syekh Muhammad bin Ibrahim alu Asy-Syaikh adalah kufur Amali. Dia tidak menerapkan aturan yang diturunkan oleh Allah, tetapi disebut kufur Amali, atau dengan istilah yang disebutkan oleh Ibnu Abbas yaitu kufrun duna kufrin. Kufur amali ini adalah tidak mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. Kapan seseorang itu baru bisa dikatakan kufrun duna kufrin, kekafiran yang tidak mengeluarkannya dari millah, apabila memiliki tiga syarat, diantaranya:

1. Bila di Negara atau wilayah itu berlaku syari’at Allah, negeri itu melaksanakan syari’at Islam.
2. Dia meyakini bahwa hukum Allah itu benar.
3. Dia merasa berdosa ketika dia memutuskan hukum selain dengan hukum Allah.

Contohnya, Orang memutuskan perkara selain dengan apa yang diturunkan oleh Allah, bila tiga keadaan ini ada pada dirinya maka dia tidak sampai pada kufur I’tiqodi tetapi hanya kufur Amali, dan dia tidak keluar dari millah. Orang yang demikian ini bisa jadi ketika dia memutuskan perkara itu karena dia takut, karena mungkin yang melakukan kesalahan itu adalah pejabat yang dia segani maka dia memutuskan dengan hawa nafsunya. Apabila selama tiga keadaan ini ada pada dirinya maka dia disebut kufrun duna kufrin, itu baru benar.

Sekarang pertanyaannya, kita hidup di bumi Indonesia ini termasuk yang mana dari yang dibahas tadi? Coba suruh jawab salafi murji’ah itu. Negeri kita ini membuat hukum sendiri, mengenyampingkan, menendang hukum Allah. Kitabullah dan sunnah dibuang jauh-jauh, dan yang parah ketika ada orang yang ingin menegakkan hukum Islam malah mereka ditangkap dan dipenjara.

Ini adalah tulisan fatwa Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab yang dijabarkan oleh ulama-ulama yang jujur sehingga menghasilkan fatwa seperti ini. Jadi pentolan toghut yang ketiga adalah “Siapapun yang berhukum dengan hukum selain yang diturunkan oleh Allah maka dia kafir”, dia akan kafir I’tiqodi kalau dengan enam sebab tadi, dan kufrun duna kufrin atau kafir Amali, yaitu kekafiran yang tidak mengeluarkan dari millah manakala seseorang itu dalam tiga keadaan tadi, tetapi dia akan masuk pada fasik dan dzolim.

Tetapi syubhat yang dihembuskan oleh setan ini langsung dipukul rata tanpa melihat sebabnya itu. Sebab dikatakan seseorang itu tidak keluar dari millah salah satunya adalah apabila di negeri itu berjalan syari’at Allah. Sekarang pertanyaannya, jalan nggak syari’at Allah ini?

Inilah yang dilakukan pengekor-pengekor setan ini, mereka membuatkan syubhat sehingga umat ini menjadi bingung. Jadi pentolan toghut yang ketiga adalah siapa yang berhukum dengan selain apa yang diturunkan oleh Allah maka dia bisa kafir, kafir I’tiqodi dan kafir Amali.

Download Mp3 Disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s