.::KAJIAN KE TUJUH BELAS: Pentolan Toghut 2::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim

Pada kesempatan ini kita akan melanjutkan pembahasan kita yang kemarin. Kemarin kita membahas pentolan toghut yang kedua yaitu “Hakim, penguasa yang dzolim yang suka merubah-rubah hukum Allah”. Kemudian kami akan tambahkan dalil yang lainnya yaitu yang terdapat di dalam surat An-Nisa ayat 60:

Artinya:
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.(QS. An-Nisa 60)

Orang yang mengaku beriman kepada Allah tetapi dalam kenyataannya ia rela berhukum dengan hukum toghut, berarti orang yang seperti itu dia rela menyenangkan setan, dan dia disesatkan dengan kesesatan yang jauh oleh setan. Jadi kita tidak boleh mentoghut-toghutkan orang, tetapi kalau indikasi toghut itu memang ada, jadi bukan kita yang mentoghutkan, Allah sendiri yang mentoghutkan. Kitapun bisa jadi toghut, kapan? Kalau indikasi itu ada pada kita.

Ayat ini turun berkenaan dengan dua orang yang berselisih tentang suatu masalah, yaitu si muslim yang munafik dengan orang yahudi. Kata si muslim, coba kita tanya keputusan fatwanya kepada orang yahudi, kemudian si yahudi menolak dan menginginkan keputusan dari Rasulullah SAW. Si Yahudi ini tidak mau bertahkim kepada orang yahudi karena dia tahu bahwa orang yahudi itu licik, suka merubah-rubah hukum Allah. Si muslim ini menginginkan bertahkim kepada ulama yahudi pada saat itu yang bernama Kaab Al-Asraf. Padahal si Kaab ini beserta ulama dan pendeta-pendeta yahudi yang lain sudah diketahui sering merubah-rubah dan mengganti ayat-ayat, serta tidak menempatkan ayat pada tempatnya, dan juga suka menerima suap. Orang Islam ini senang dia berhukum kepada toghut.

Begitu juga Rasulullah ketika melihat ada orang yang diarak dengan menunggangi unta dalam kondisi badannya dibalikkan dengan arah jalannya unta. Kepalanya dibotakin, dicat hitam kemudian diarak keliling. Rasulullah bertanya ada apa itu? Maka orang-orang menjawab, itu ada orang yahudi berzina. Rasulullah merasa kaget, kenapa orang yang berzina dihukumya seperti itu. Kemudian Rasulullah bertemu dengan beberapa orang ulama yahudi dan bertanya, apa benar di dalam kitab taurat itu hukumannya zina seperti itu?

Akhirnya mereka mengakui, sebenarnya dalam kitab taurat itu hukumnya razam. Lantas kenapa kamu tidak melaksanakan hukum razam? Soalnya begini, bisa jadi nanti yang berzina itu orang gedean, orang-orang terpandang diantara kami. Kalau mereka berzina, itu nanti kami repot menentukan hukumannya. Maka akhirnya kami berkumpul dan bersepakat merubah dari hukum razam menjadi hukum seperti itu.

Lalu apa bedanya sekarang dengan anggota Dewan, mereka bersepakat dan berkumpul untuk merubah hukum Allah, nggak ada bedanya. Jadi mereka itu adalah toghut. Mereka orang-orang yahudi merubah hukum Allah itu, padahal di dalam kitab taurat itu jelas bahwa orang yang berzina itu hukumannya adalah di razam.
Kemudian dalil yang selanjutnya adalah terdapat di dalam surat Al-Maidah ayat 44-45:

Artinya:
Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh Nabi-Nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir .(QS. Almaidah:44)

Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qisas) nya, Maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (QS. Almaidah: 45)

Ayat ini berkaitan dengan orang yahudi, karena orang yahudi diberi oleh Allah kitab taurat dan disuruh berpegang pada kitabnya sebagai sumber hukum. Barang siapa yang tidak mau berhukum dengan kitab taurat itu maka kafir dia. Jadi dalam ayat itu dijelaskan dan ditetapkan, apa yang ditetapkan? Yang ditetapkan adalah jiwa dibayar dengan jiwa, membunuh maka harus dibunuh, congkel matanya orang, congkel lagi matanya dia, gibeng hidung orang, pukul lagi hidungnya, merontokkan gigi orang, dirontokkan lagi giginya, luka-lukapun ada balasannya.

Kemudian dalil lainnya juga terdapat di dalam surat Almaidah ayat 46-48:

Artinya:
Dan Kami iringkan jejak mereka (Nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, Yaitu: Taurat. dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, Yaitu kitab Taurat. dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. (QS. Almaidah: 46)

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (QS. Almaidah: 47)

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.(QS. Almaidah: 48)

Setelah Nabi Musa diberi kitab Taurat, kemudian kami teruskan kepada orang nasrani, kami berikan kepada Isa putra Maryam kitab yang namanya Injil, yang kitab Injil itu membenarkan isinya Taurat, aturannya sama. Itu untuk apa? Yang dengannya supaya orang-orang itu berhukum dengan hukum injil itu. Maka siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka itulah orang-orang yang fasik. Sekarang mari kita berpikir, yahudi ada Nabinya dan diberi kitab taurat, kemudian disuruh berhukum dengan hukum taurat. Kaum nasrani ada Nabinya dan diberi oleh Allah kitab injil, yang injil itu membenarkan isi taurat dan disuruh berhukum dengan kitabnya itu.

Dan Nabi kita Muhammad diberi mukjijat oleh Allah yaitu kitab Al-Quran, yang Al-Quran itu sebagai penyempurna dari semua kitab yang ada dan disuruh kita untuk berhukum pada kitab Al-Quran itu. Sekarang pertanyaannya? Statusnya sama nggak antara kita, orang yahudi, nasrani yang sama-sama punya kitab, yang ketika mereka tidak lagi berhukum dengan hukum Allah, yang dimana konteks ayat tadi itu sudah jelas kafir, fasik, dan dzolim.

Maka di dalam surat Al-Maidah ayat 50, Allah membuat satu pertanyaan:

Artinya:
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?

Artinya apa? Hukum yang tidak bersumber daripada kitab Taurat, Injil, dan Al-Quran, maka hukum itu disebut hukum jahiliah. Biarpun yang bikin hukum itu titelnya SH, MH, KH, PH, OH, botak kepalanya, maka goblok, jahil dia.

Jadi orang yang tidak mau berhukum dengan aturan Allah untuk mengatur dirinya, keluarganya, lingkungannya, negaranya, ketika aturan itu sudah ada, kemudian tidak mau dia berhukum, maka dia itu kafir, fasik dan dzolim, itu kata Allah. Dan hukum apapun di luar sumber hukum, yang di mana mereka mengatakan hukum positif, positif apa’an, ini hukum negative, orang masuk neraka kalau dipegang. Hari ini, inilah yang memprihatinkan kita, sehingga ketika kita membahas ini, itu label-label yang sumbang langsung dialamatkan kepada kita, katanya “Itu cirri-ciri teroris, kalau dia bicara soal hukum, nah itu cirri-cirinya”. Tetapi kalau hanya berbicara shalat, puasa, mereka mengatakan nah itu bagus, tetapi kalau kita bahas masalah ini pasti pada marah semua. Lantas pertanyaannya, Apa ayat nggak boleh dibahas?

Sehinnga Allah SWT mengatakan di dalam surat Al-Baqarah: 85

Artinya:
Apa kamu ingin beriman kepada sebagian kitab kemudian kafir kepada sebagian yang lainnya.

Ayat ini turun berkenaan dengan orang yahudi, ini adalah salah satu sifatnya mereka, mereka beriman pada sebagian dan ingkar pada sebagiannya. Mereka mengambil sebagiannya yaitu yang enak-enak, yang menguntungkan, tetapi yang tidak menguntungkan tidak mau mereka ambil. Ada nggak orang seperti itu di tengah-tengah kita? Banyak.

Coba kalau kita datangi anggota Dewan, kemudian kita katakana, pak saya mau amalkan Al-Quran 30 juz dan salah satunya ayat ini, pasti dijawab tidak boleh, jangan, itu berbahaya. Katanya Indonesia ini adalah pluralisme, agama Hindu baik, Kristen baik, Budha baik, Konghuchu baik, Islam baik, semuanya baik. Katanya, semua agama itu sama, bukan Islam saja yang baik, itu kata orang-orang sekuler, orang-orang yang makan dan kenyang dengan didikan PMP. Akidahnya sudah sakit parah, bahkan sudah moot. Katanya, ayat ini memang benar, tetapi jangan dibahas.

Masa mau mengamalkan ayat ini tunggu ridhonya manusia. Katanya mereka, “Ini nggak bisa, kalau mau bicara Islam di Makkah sana baru boleh”. Ini kurangajarnya mereka, Al-Qur’an itu diusir dan disuruh diamalkan di Makkah. Kalau disini katanya tidak boleh, kenapa? Kita ini menganut paham pluralisme, semua agama itu sama, kita harus saling hormat-menghormati, harus toleransi.

Jadi kalau semua agama itu sama, ini adalah pelajaran PMP yang dulu diajarkan di sekolah-sekolah dan rata-rata semua orang dididik dengan PMP. Kata gurunya anak-anak semua agama itu sama, semua agama itu benar, karena semua agama itu mengajarkan budi pekerti, maka semua agama itu sama, sama-sama menyembah tuhan. Karena semua agama itu sama-sama mengajarkan budi pekerti, sama-sama menyembah tuhan. Karena menurut mereka ada bagian tertentu yang sama, maka akhirnya dipukul rata dan dikatakan semua agama itu sama, itu bisa fatal.

Coba dulu kita tanya saja, “Pak guru, bu guru, kalau begitu saya ingin buat satu permisalan, ayam kakinya dua, itik kakinya dua, angsa kakinya dua, monyet kakinya dua, pak guru/bu guru kakinya dua, berarti ayam, itik, angsa, monyet, dan pak/bu guru sama”. Apa begitu? Berarti yang baik itu bukan hanya Islam?

Di sinilah cacatnya akidah yang diajarkan, moral yang diajarkan untuk mendidik banga ini, sehingga bangsa ini rusak, tidak punya akidah yang baik dan benar karena menganggap semua agama itu sama. Lantas dibuang dimana ayat Allah surat Ali-Imran ayat 85:

Artinya:
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Hanya Islam yang baik, hanya Islam yang diterima, tetapi kata paham yang diajarkan untuk mendidik akidah moral bangsa ini semua agama itu sama, semua agama itu baik, bukan Islam saja yang baik, bukan Islam saja yang diterima, bertentangan nggak itu? Inilah yang membuat akidah kita ini rusak.

Maka oleh karena itu hati-hati, jangan sampai kita ini terkena syubhat, yaitu syubhat yang dihembuskan oleh orang-orang yang mengaku pintar, yang mengaku ahlu tauhid. Jadi orang-orang ini berangapan bahwa seolah-olah ada satu kelompok tertentu itu diklaim suka mengkafir-kafirkan orang, itu jelas salah, dengar dulu, teliti dulu. Kalau kita mengatakan kamu kafir, kemudian kekafiran itu tidak nyata menurut nash-nash dan dalil, maka kekafiran itu bisa kembali kepada kita berdasarkan hadits, jadi nggak gampang mengkafir-kafirkan. Tetapi kalau sudah ulama yang menjelaskan kekafiran itu dirinci seperti itu, terus mau bilang apa. Maka kekafiran inilah yang harus dijelaskan supaya orang tahu.

Download Mp3 Disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s