.::Kajian Ke Limabelas: Surat An-Nahl: 36::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim

Pada kesempatan ini kita akan melanjutkan kajian kita. Dan pada kesempatan ini kita akan sama-sama mengkaji satu ayat Allah SWT yang terdapat dalam surat An-Nahl ayat yang ke 36:

Artinya:
Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah Thaghut”.

Jadi ayat ini kalau kita buka pada kitab-kitab tauhid, semua sepakat bahwa ayat ini merupakan satu landasan dari pada tauhid, ulama menyebut ayat ini sebagai ushul risalah. Karena di dalamnya ada satu perintah Allah yang sangat mendasar dan sangat penting, dimana Allah SWT menjelaskan bahwa “Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut”.

Semua Rasul dengan membawa misi yang paling penting dan semua Rasul misinya sama, apa misinya? Beribadahlah kepada Allah dan jauhilah toghut. Kita akan membicarakan ayat ini, mudah-mudahan kita mendapat satu gambaran yang jelas tentang ayat yang penting ini. Bahwa perintah yang paling penting dalam ayat itu, dan ini merupakan pekerjaan semua para Rasul, kepentingannya diutus di muka bumi ini hanyalah ini pekerjaannya, yaitu mengajak orang untuk beribadahlah kepada Allah saja dan jauhilah toghut.

Jadi toghut ini, seolah-olah orang yang kenal toghut itu hanya kalangan tertentu saja, mereka melihat bahwa bahasa toghut ini hanya keluar dari mulut orang yang berjenggot, dari mulutnya aktivis. Jadi mereka menilai istilah toghut ini kita yang bikin, sehingga orang yang betul-betul toghut itu akan marah. Toghut yang aslinya marah dia, karena merasa di toghut-toghut kan, padahal memang toghut, mau nggak mau ya toghut. Kesannya seolah-olah kita ini meledek, padahal ini ayat Allah, dan semua Rasul kepentingannya cuman itu saja.

Maka dikatakan sebagai ushul risalah, landasannya risalah, “Beribadahlah kepada Allah saja dan jauhilah toghut”. Maka kita perlu sedikit menjelaskan tentang ibadah. Apa itu ibadah? Menurut Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziah, ibadah itu bermakna “Ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan baik yang bersifat lahir baik batin, baik yang disenangi oleh Allah maupun yang dicintai dan diridhoi oleh Allah”. Jadi kalau kita memahami ini, maka luas sekali pengertian dari pada ibadah itu, jadi bukan hanya menyembah.

Akibat orang tahunya hanya menyembah saja, jadi seperti inilah keadaan Islam pada hari ini. Mereka berpikir yang penting sudah menyembah, ruku’, sujud saja sudah selesai. Kemudian pengertian yang lain yang lebih luas lagi, ulama memberikan satu pengertian bahwa ibadah itu maknanya “Taat tunduk dan patuh kepada apa yang telah di syariatkan di dalam ad-din”. Yang disyariatkan di dalam dien itu bukan hanya shalat, zakat, puasa, haji, zikir-zikir, baca Qur’an, bukan hanya itu saja, tetapi kalau sudah bicara syariah berarti sudah mencakup seluruh aspek kehidupan, jadi itulah ibadah.

Dan kalau sudah menyebut taat dan patuh berarti gambaran ibadah itu bukan hanya shalat, tetapi patuh disini adalah patuh juga kepada aturan. Karena banyak ulama yang menyimpulkan bahwa ibadah itu juga “Taat dan berhukum kepada hukum Allah”. Tidak cukup seseorang itu hanya taat kepada Allah dengan jalan ia shalat dan menyangkut ibadah yang mahdoh, tetapi di sisi lain dia tidak berhukum dengan hukum Allah, berarti dia belum beribadah kepada Allah.

Jadi perintah Allah yang pertama kepada para Nabi itu adalah menyerukan kepada umat itu untuk beribadahlah kepada Allah saja kemudian jauhilah toghut. Ini thogut kalau mereka dengar pasti akan panas kupingnya. Karena memang benar mereka itu adalah toghut. Apa toghut itu? Para ulama salaf maupun para sahabat punya pengertian yang banyak sekali. Umar bin Khatab mengatakan bahwa toghut itu adalah setan, kemudian menurut sahabat Jabir bin Abdullah toghut itu yaitu “Para dukun yang setan-setan itu turun kepada para dukun itu.

Jadi para dukun itu dia bekerja dengan bantuan setan, dan apa yang dikatakan oleh dukun itu tidak boleh kita percayai. Semua yang dikatakannya itu walaupun itu benar tidak boleh kita mempercayainya, harus kita selisihi semuanya. Itu karena apa? Dia bekerja menyampaikan hajatnya itu melalui perantara setan. Maka kata Rasulullah SAW “Siapa yang mendatangi dukun, kemudian membenarkan apa yang dikatakan oleh dukun itu, maka dia telah kafir dengan apa yang dibawa oleh Muhammad SAW. Kemudian kata Imam Malik bin Anas bahwa toghut itu adalah “Setiap yang diibadahi selain Allah”, dan masih ada pengertian dari ulama-ulama yang lainnya. Jadi toghut ini kalau kita periksa di kitab Fathul Majid ia berasal dari kata “Tughian, togho”, “Maknanya melampaui batas kebenaran”. Dalilnya terdapat dalam surat Al-Fajar ayat 10-14.

Artinya:
Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri. Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.

Ayat ini jelas sekali, Allah mengatakan Firaun itu memiliki tentara yang banyak. Fir’aun dia merasa dirinya hebat dan tentaranya banyak, kemudian dia berbuat sewenang-wenang. Sehingga kata Rasul SAW “Tiap-tiap zaman itu ada Firaun nya. Fir’aun itu digambarkan oleh Allah memiliki tentara yang banyak, tetapi apa kerjaannya Fir’aun itu? “Ia berbuat sewenang-wenang dan melampaui batas”, dan juga ia banyak membuat kerusakan.

Maka Allah timpakan kepada Fir’aun itu azab, sesungguhnya Allah itu maha mengawasi dan meneliti”. Jadi dengan keterangan-keterangan ini jelaslah bagi kita seluruh Nabi-Nabi itu diperintahkan hanya untuk taat tunduk dan patuh dan melaksanakan semua ucapan dan perbuatan yang diridhoi oleh Allah di dalam syariat. Kemudian menjauhi toghut, menjauhi setan, menjauhi orang yang tidak beribadah kepada selain Allah dan yang mengajak untuk taat kepada selain Allah, jadi itu harus di jauhi karena itu adalah toghut.

Menurut Syekh Yusuf Al-Qardhawi, beliau memberikan gambaran bahwa “Toghut itu adalah pemimpin, raja, penguasa, kepala Negara” yang membuat satu aturan kemudian dengan aturan yang dibuatnya itu memaksa orang untuk taat kepada aturannya dengan jalan meninggalkan aturan Allah. Baik bentuk penyuruhan itu dengan paksaan ataupun dengan bujukan maka dia adalah toghut. Maka hati-hati kita yang hidup di zaman sekarang, jangan tertipu dengan nama orang.
Namanya muslim-muslim, tetapi tidak ada jaminan namanya Islam tetapi perbuatannya juga Islam. Karena banyak orang sekarang ini yang sudah terindikasi toghut. Kapan dia terindikasi toghut? Ketika dia menolak untuk diajak taat kepada aturan Allah, tetapi dia tidak mau, maka dia adalah toghut.

Jadi kalau ada orang tahu itu aturan Allah yang paling benar, kemudian diajak untuk tunduk kepada aturan Allah, tetapi dia tidak mau dengan berbagai alasan maka dia adalah toghut. Baik itu “Ulama, pemimpin, raja”, maka dia adalah toghut. Ini adalah pengertian dari semua para ulama. Jadi seperti itu penjelasannya, silahkan pelajari kitab-kitab tauhid. Jadi siapapun orangnya yang mengajak untuk taat dan tunduk kepada selain Allah maka dia adalah toghut. Aturannya toghut dan orangnya pun adalah toghut. Maka Allah SWT berfirman di dalam surat Az-Zumar ayat 64-65:

Artinya:
Katakanlah: “Maka apakah kamu menyuruh Aku menyembah selain Allah, Hai orang-orang yang bodoh?”. Dan Sesungguhnya Telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.

Di dalam ayat ini Allah menyuruh mempertanyakan “Katakan kepada mereka wahai Muhammad apakah kepada selain Allah kalian menyuruh saya untuk beribadah? Makna ibadah tadi adalah taat dan berhukum. Jadi makna ayat ini adalah “Apakah kepada selain Allah kalian menyuruh saya ini untuk berhukum hai orang-orang bodoh? Jadi orang yang mengajak untuk berhukum dan menegakkan satu sistem, aturan selain aturan Allah dan yang bertentangan dengan aturan Allah maka mereka itu adalah bodoh, hatta dia itu pejabat, hatta dia itu gelarnya panjang Prof, Dr,Ir, SH, MH, PH, KH, SPd, MPd, BCh, BCi, maka dia adalah toghut dan menurut Allah dia itu bodoh.

Jadi dia itu bukan orang yang pintar, karena apa? Abu Jahal pada waktu itu adalah seorang yang ahli hukum, dia itu pintar. Makanya salah satu nama kuniyahnya adalah Abu Al-Hakam, dan nama aslinya adalah Amr bin Hisyam. Dia adalah orang yang pintar, tetapi kenapa disebut Abu Jahal (Bapaknya orang-orang bodoh)? Karena dia tahu bahwa keponakannya itu benar. Mana buktinya? Ketika Abu Dzar Al-Ghifari ingin masuk Islam, orang yang ditanya tentang Muhammad itu adalah Abu Jahal.

Bagaimana gambaran tentang Muhammad, kok saya mendengar dia membawa agama baru, apasih yang dibawanya? Diceritakan oleh Abu Jahal, dia tidak sadar ketika dia menceritakan semuanya sambil memuji Rasulullah. Kemudian kata Abu Dzar, “Lha kamu katakan keponakan kamu itu baik, jujur, tetapi kenapa kamu tidak mau mengikutinya? Ah nggak mau saya mengikutinya. Itulah kebodohannya, tahu itu benar tetapi tidak mau mengikutinya, nah itulah toghut.
Jadi hati-hati jangan menganggap remeh hal-hal seperti ini, mungkin terkesan membosankan kalau kita bahas mengenai hukum dan syariat, tetapi hati-hati tidak ada jaminan dengan shalat saja kemudian kita mengenyampingkan ini dan mau berharap masuk syurga? Jadi hati-hati. Nabi saja diancam oleh Allah SWT di dalam surat Almaidah ayat 72:

Artinya:
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.

Makna ayat ini adalah orang yang melakukan kesyirikan itu ”Hatta dia haji dua puluh lima kali, umrah lima puluh kali, masjid sepuluh dia bangun, jidatnya hitam sampai hangus, jenggotnya sudah panjang, tetapi dia tolak dan tidak mau taat kepada aturan Allah, satu saja aturannya maka dia syirik”. Umpama dia mengatakan “Oh ini nggak benar, nggak cocok lagi ini Al-Quran, untuk konteks kekinian sudah tidak bisa di pakai lagi. ada tidak sekarang ini orang yang ngomongnya seperti itu? Pasti ada.

Itu professor-profesor yang mengaku pintar itu, katanya “ini zamannya sudah lain pak, Qur’an ini sudah tidak bisa mengikuti konteks kekinian”, itu bahasa syirik, orangnyapun musyrik. Orang yang seperti itu hatta banyak amalnya tetapi batal semua berdasarkan ayat di atas. Ini menjelaskan tentang orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah , Allah itu mengatakan mereka itu adalah orang yang bodoh dan orang itu adalah toghut, itu karena apa? Melampaui batas kebenaran, karena dia mengajak untuk taat kepada selain Allah.

Sebagaimana pengertian yang diberikan oleh Imam Malik bin Anas, setiap yang mengajak kepada selain Allah maka itu adalah toghut, orangnyapun adalah toghut, dan aturannya adalah aturan toghut. Makanya kalau ada orang yang tidak terima suruh saja dia buka kitab-kitab tauhid, karena mereka itu adalah orang-orang bodoh, dan yang paling memilukan itu adalah para ulama-ulama yang membingungkan yang selalu berdakwah kepada masyarakat.

Nanti yang paling besar dosanya di hadapan Allah itu adalah ulama-ulama yang membingungkan. Dua kelompok nanti yang siksanya akan lebih berat dari orang lain, yaitu ulama dan umaroh. Sehingga kata Rasulullah SAW “Ada dua model manusia, yang kalau mereka itu baik maka akan baik semua orang, kalau dua itu buruk, maka akan buruk semua orang, mereka itu adalah ulama dan umaro”. Tetapi ulama hari ini hampir tidak ada yang menyampaikan demikian, toghut itu hanya dilihat-lihat, toghut itu katanya hanya setan, toghut itu katanya patung, karena apa? Dia tidak mau jujur hidup di dunia ini, tidak mau beresiko, sehingga tidak mau menerangkan kebenaran itu dengan apa adanya.

Kita kalau caci maki orang tanpa dasar maka kita akan berdosa, tetapi kalau orang merasa kita mencaci maki mereka, tetapi kita membawa kebenaran, apa boleh buat, kalau tidak mau maka jangan berbuat yang rusak. Bukan kita mencaci maki, tetapi ayatnya memang begitu. Sehingga pada zaman Rasulullah itu membuat orang-orang Quraisy itu marah, mereka mengatakan Muhammad itu mencaci maki tuhan-tuhan kami, berhala-berhala kami, karena berhala itu adalah toghut.

Akhirnya mereka datang kepada Abu Thalib. Abu Thalib anda memang pemimpin kami, tetapi kami tidak bisa terima dengan perlakuan keponakanmu Muhammad. Kasih tahu keponakanmu Muhammad, sebelum kami bertindak sendiri, tetapi kami masih menghargai kamu sebagai pemimpin kami. Beritahu Muhammad agar berhenti mencaci maki tuhan kami. Dia merasa di cacimaki oleh Rasulullah, padahal saat itu Rasulullah hanya menjelaskan dan menyampaikan tentang toghut. Akhirnya Abu Thalib terpaksa, karena takut ancaman Quraisy maka dipanggillah Rasulullah.

Muhammad, mereka datang kepada saya dan mengatakan bahwa kamu seperti itu, tolonglah Muhammad kamu jangan bebani di luar kesanggupan saya. Rasulullah ketika itu mengira Abu Thalib ini sudah tidak mau lagi melindunginya. Maka Rasul ketika itu mengatakan “Demi Allah wahai pamanku, andaikata matahari mereka letakkan ditangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, yang dengan itu mereka menghendaki agar aku menghentikan dakwahku ini maka sekali-kali tidak, hingga Islam itu menjadi jaya, Islam itu di dhohir, atau aku hancur binasa karenanya”. Setelah Rasul mengatakan seperti itu maka luluh juga Abu Thalib. Lakukan sudah Muhammad, saya berada di belakangmu.

Download Mp3 Disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s