.::KAJIAN KE EMPAT BELAS: Syarat Syahadat 6::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim

Insya Allah kita masih akan melanjutkan pembahasan kita, dan kita masih akan membahas syarat-syarat syahadat, yang kemarin sudah memasuki pada poin yang keenam yaitu ikhlas. Dan kemarin baru beberapa dalil yang disampaikan. Sekarang kita akan melanjutkan syarat syahadat yang keenam yaitu ikhlas. Dalilnya yaitu dalam firman Allah SWT Surat Al-Bayyinah ayat 5:

Artinya:
Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Allah, dengan ikhlas mentaatinya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan sholat Dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yan lurus (benar).”

Dan mereka itu pada hakikatnya tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan benar dan ikhlas. Ayat ini Allah menjelaskan, pada hakikatnya manusia itu tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan dua syarat, maka ibadah itu baru dinilai oleh Allah yaitu yang pertama “Mukhlisina” yaitu ikhlas dan “Lahuddin” dengan cara-cara yang dibenarkan oleh Ad-diin (agama).

Jadi apapun bentuk pengabdian kita dalam kehidupan ini kalau tidak ada dua syarat ini maka akan tertolak, yaitu dengan niatan yang ikhlas, niatnya harus ikhlas karena Allah SWT kemudian cara melakukannya harus cocok dengan petunjuk Rasulullah SAW, jadi tidak cukup dengan niat saja. Nah hari ini banyak orang yang melakukan ibadah, banyak sekali contohnya, dia merasa niatnya sudah baik tapi dia tidak tau kalau yang dilakukannya itu tidak ada contoh dari Rasulullah. Contoh kecilnya seperti dalam kematian, biasanya di mana-mana kalau ada orang mati di kampung-kampung itu pasti akan diadakan ngaji, makanya kalau kita lewat terus ada yang ngaji malam-malam berarti ada yang mati.

Ini kalau umpama kita beri tahu bahwa itu tidak ada contohnya kita mengaji untuk orang yang sudah mati, kalau ada contohnya sudah pasti yang mencontokan dahulu adalah Nabi kita. Nabi kita sebelum beliau meninggal duluan beberapa orang istrinya yang meninggal, bahkan duluan anaknya yang meninggal. Kalau hal itu baik pasti sudah dicontohkan dan akan ada riwayat yang jelas, tetapi hari ini ketika kita sampaikan dan beri tahu bahwa apa yang mereka lakukan itu tidak ada contoh dari Rasul, kemudian mereka menjawab kenapa dilarang orang kita niatnya baik, orang mau ngaji kok dilarang.

Akhirnya yang terjadi otak atik otak, jadi dalilnya pakai akal, dari pada kita main kartu ya mending kita ngaji, ini seolah-olah benar tetapi sebetulnya tidak benar. Mengaji itu baik, pasti baik, tetapi bukan pada tempatnya, karena bukan pada tempatnya itulah yang menjadikannya tidak baik. Amalan yang tidak bersesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasul itu dnamakan bid’ah. Dalilnya adalah “Man amila amalan laisa fii amruna fahuwa raddun” Siapa yang melaksanakan amalan yang aku tidak pernah contohkan hal tersebut maka dia tertolak”.

Niatnya sudah ikhlas tetapi tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan maka akan tertolak. Maka benar kata Fudhail bin Iyadh “ Bahwa sesungguhnya sesuatu amal apabila dia ikhlas tetapi dia tidak benar maka dia tertolak”. Fudhail bin Iyadh ini adalah seorang ulama tabiut tabiin, seorang qodi’, juga sebagai hakim, dan kata beliau “Sesungguhnya suatu amal apabila dia ikhlas tapi tidak benar jalannya maka tertolak dan sebaliknya dia benar jalannya tetapi tidak ikhlas maka tertolak”.

Maka sesuatu amalan itu baru bernilai di sisi Allah maka dia harus berdiri di atas dua landasan yaitu ikhlas dan benar. Ini yang jarang bisa dipahami oleh orang. Orang menyangka sudah ikhlas melaksanakan tetapi mereka tidak pernah berpikir apakah amalan ini ada contohnya, ada perintahnya ataukah amalan itu adalah bid’ah, ini tidak pernah dipikirkan. Maka syarat syahadat yang keenam adalah ikhlas. Dalillnya adalah hadis Rasulullah SAW “Orang yang paling bahagia nanti di sisi Allah SWT dan mendapat syafaat Nabi yaitu orng yang mengucapakan Lailahaillah ikhlas dari hati” (H.R. Muslim).

Jadi kara Rasulullah orang yang bahagia dengan syafa’atku nanti di hari kiamat adalah orang yg mengucapkan Lailahaillallah ikhlas dari hati. Dalil yang lain lagi yaitu firman Allah dalam surat:

Artinya:
Katakanlah wahai Muhammad sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku semua hanya untuk Allah hurobbul alamin.

sekarang pertanyaannya, benarkah pernyataan kita itu shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah SWT? yang bisa menjawab hanya diri kita sendiri. Jangan-jangan hidup kita tidak kita tujukan kepada Allah, ibadah kita tidak kita tujukan untuk Allah swt, pengabdian kita bukan kepada Allah. Dan hari ini banyak pengabdian orang bukan kepada Allah, kepada Allah tidak mau mengabdi tetapi kepada manusia yang menentang Allah mereka mengabdi.

Dan sekarang banyak orang yang mengabdi kepada tanah dan air, padahal syukur-syukur masih menumpang, mereka mengikuti lagu padamu negeri sampai terakhirnya apa tidak bertentangan itu? Ini lagu yang mengarangnya adalah orang kafir asli, namanya Simanjuntak, syairnya musyrik tulen. Tetapi tidak disadari oleh orang-orang yang dengan baju keki saragam rapi yang kalau berbaris begitu khusu, begitu tegap, tapi gilaran shalat malas-malasan. Seharusnya pengabdian orang itu mestinya cocok dengan sumpahnya yang semua untuk Allah bukan selain Allah. Jika sudah terjadi pengabdiannya itu bukan untuk Allah maka dia sudah tidak ada keiklasan, tidak dikatakan ikhlas. Iklas itu lawannya riya dan syum’ah, riya yaitu ingin dilihat orang dan syum’ah itu ingin didengar orang.

Maka kita berusaha dalam hidup ini kita beramal, yang pertama harus luruskan niat dulu, makanya kalau kita buka kitab-kitab hadits yang pertama kita temukan adalah bab niat, karena niat itu berada di depan amal, niatnya apa? dalam kehidupan kita ini kita berusaha untuk beramal dengan ikhlas, perjuangan kita ikhlas karena Allah, iklhas betul-betul karena Allah. Dan orang baru dikatakan iklhas apabila dia berani menolak enam perkara, enam perkara ini tidak lagi menjadi pertimbangan bagi dirinya.

Enam perkara itu adalah:
a. Harta
Harta tidak lagi menjadi pertmbangan dalam dirinya dalam meniti kehidupan dalam beramal, dia berjuang tidak menjadikan enam perkara ini menjadi hambatan, yang penting yang dia inginkan adalah ridho Allah. Dia berusaha mengikuti petunjuk Allah dan Rasulnya, yang dicari hanya satu saja yaitu ridho Allah. Biasanya orang yang begitu akan banyak ditentang oleh setan.

Kalau dia berjuang mengikuti ketentuan Allah dan Rasulnya kemudian berdakwah itu kadang-kadang banyak syetan yg datang mengganggu dengan bisikan-bisikan “Kalau begitu cara berdakwahnya mana bisa kaya, orang yang lain sudah punya rumah, mobilnya mewah. Kalau kamu seperti itu terus nggak bakalan maju-maju, kalau seperti itu cara dakwahnya kita bakalan nggak dapat dunia”.

Makanya kita dalam berdakwah harus dengan ikhlas. Kalau ada perkataan seperti itu langsung dijawab saja “Nggak apa-apa, biarpun miskin seumur hidup, dari pada harus berdakwah liku-liku kiri kanan mengikuti pesan sponsor”, ya memang banyak duitnya, dan biasanya laku yang begitu, laris panggilannya. Maka kalau kita berdakwah dengan ikhlas kita harus berani menjawab dan mengatakan sepanjang Allah ridho miskin nggak apa-apa, yang penting lurus.

b. Pangkat tidak menjadi pertimbangan
Banyak sekarang ini orang-orang mengatakan “Kalau ente kayak gitu terus, model ente ini nggak bakalan naik pangkat”, nggak apa-apa nggak naik pangkat. Banyak orang-orang yang bilang begitu kalau di kantor-kantor dan instansi-instansi, kalau ente jujur gitu nggak bakalan naik pangkat nanti, ini yang banyak terjadi. “Kalau anda ini terlalu idealisme seperti ini nggak bakalan bisa maju-maju, kalau hari ini itu harus bisa miring-mring sedikit lah, harus bisa menyesuaikan diri, harus bisa bijaksana wal bijaksini. Anda mau jujur di sini nggak bakalan bisa, susah katanya, nanti konditenya menurun, nanti nggak naik-naik pangkat.

Nggak apa-apa nggak naik pangkat yang penting saya ini tidak dimurkai Allah, yang saya cari bukan pangkat, tetapi yang saya cari ridhonya Allah. Tapi bahaya kalau anda terlalu jujur seperti ini, nanti anda bisa dipindahkan. Jadi zaman kita sekarang ini, umpama kalau disebuah instansi ada 25 karyawan, dan diantara 25 itu hanya ada dua orang yang jujur, maka dua orang yang jujur ini akan dianggap sebagai ancaman, ia akan terus disorot oleh teman-temannya yang lain. Karena akan dianggap mengancam stabilitas setan, maka dua orang ini akan dipindahkan jauh-jauh, ini sudah banyak terjadi. Itu karena apa? Terlalu idealis katanya.

Jadi yang benar itu dan dikatakan Islam yang Rahmatan lil Alamin menurut mereka apabila ada yang istilahnya “bijaksana wal bijaksini”. Katanya minimal ada bijaksananyalah, kitakan hidup di dunia, harus bijaksana sedikit lah, nanti kalau sudah puasa baru kita istighfar. Ini memang kenyataan, kalau yang jujur itu akan selalu dimusuhi, nggak naik-naik pangkat itu nggak apa-apa yang penting tidak dimurkai oleh Allah.

c. Nama baik.
Mereka juga mengatakan “Kalau anda masih seperti itu model dakwahnya, wah terlalu keras nggak bisa itu, ngggak terkenal nantinya. Tuh lihat seperti si fulan itu bisa lihat sikon dia, sehinggak karena bisa membaca sikon jadi melejit namanya, namanya naik, terkenal dia”. Itu karena apa? bisa menyesuaikan sikon. Nggak terkenal juga nggak apa-apa, yang penting kita melaksanakannya ikhlas karena Allah.

Umar bin Khattab itu ketika dia jadi khalifah, dia itu tidak terkenal, bahkan ada yang tidak tahu kalau dia itu adalah khalifah. Pada suatu hari Umar itu mencari tahu informasi dan berita tentang pasukan yang diberangkatkan ke Parsi, dia menunggu di pintu kota Madinah. Setelah lama menunggu akhirnya orang yang ditunggu itupun datang, tetapi orang yang diutus ini adalah orang yang tidak pernah kenal sama Umar. Akhirnya setelah utusan ini sampai di pintu kota Madinah kemudian dicegat oleh Umar, kemudian Umar bertanya kamu mau kemana? Ia menjawab saya mau melapor kepada khalifah, apakah kamu membawa kabar gembira? Utusan ini tidak mau turun dari atas kudanya, ia mengatakan saya mau ketemu sama khalifah dan ingin menyampaikan kabar gembira tentang pasukan yang diutus ke Parsi.

Umar mengikuti orang tersebut dengan berjalan kaki sambil memegang tali kekang kudanya. Sampai akhirnya setelah dilihat oleh orang-orang, kemudian mereka geleng-geleng kepala melihat orang tersebut. Akirnya diberi tahu oleh orang-orang kamu ini apa-apa’an, kemudian ia menjawab memangnya kenapa, salah saya apa? sayakan hanya mau bertemu dengan khalifah, Akhirnya dijawab, itu khalifah yang memegang tali kekang kudamu. Mendengar kalimat tersebut dia langsung turun dari kudanya, kemudian dengan tenangnya Umar duduk di sebuah pohon dan menerima laporan itu.
Siapa yang kenal dia seorang khalifah, sampai-sampai raja di Palestina ketika kaisar mau menyerahkan kunci Palestina, dia tidak mau menyerahkannya selain kepada Umar, dia meminta umar langsung yang menerimanya. Karena dia adalah seorang pemimpin, maka dia tidak mau menyerahkannya kepada yang lain, pemimpin levelnya harus pemimpin katanya. Akhirnya diutuslah satu orang untuk menyampaikannya kepada khalifah. Akhirnya umar datang, dia datang dengan hanya membawa tikar shalatnya, gerabah air minumnya dan bekal secukupnya.

Setelah dia sampai kemudian disambut oleh tentara Islam, dan tentara-tentara Islam sudah kelihatan gagah dengan pakaiannya, karena semuanya didapat dari hasil rampasan perang, dan itu dipakai semuanya untuk menunjukkan kegagahannya kepada musuh. Jadi kalau di depan musuh itu harus angkat kepala, tidak boleh menunduk. Setelah itu Umar masuk ke dalam istana dan ingin bertemu dengan rajanya. Setelah diberitahu oleh pasukan Islam bahwa ini adalah khalifah kami, raja ini bengong dan geleng-geleng kepala, tidak percaya bahwa itu adalah khalifah, kemudian dia bertanya ini khalifahnya kalian? Heran dia nggak habis pikir.

Karena dia melihat sosok umar yang sangat berwibawa, biar pakaiannya compang-camping tetapi dia sangat berwibawa. Akhirnya raja yang congkak itu menundukkan kepala karena melihat sosok umar yang berwibawa dan tidak terkenal. Kalau dibandingkan dengan orang sekarang ini mereka maunya namanya itu tersohor, terkenal kemana-mana. Tetapi kalau kita ikhlas, lurus mengikuti Allah dan Rasulnya, biar tidak terkenal sampai mati juga tidak menjadi masalah.

d. Kemenangan
“Kamu tidak bisa menang kalau berjuang dengan cara seperti itu, lain zaman nabi dengan zaman sekarang, sekarang zamannya internet, zamannya pesawat, kalau dulu zamannya unta, ente mau berjuang dengan cara seperti itu nggak bakalan bisa. Sekarang berjuang itu ada metodenya, yaitu lewat jalur parlemen, jalur ini sekarang baru bisa, kalau tidak dengan cara seperti ini ngak bisa menang nanti”. Ini kata-kata orang sekarang ini, jadi mereka lebih memilih jalan setan ketimbang jalan yang telah di tempuh oleh Rasul.

Paling banyak orang seperti itu, di sati sisi mereka mengakui orang yang berjuang itu, mereka mengatakan “Anda memang betul, cuman kalau pakai itu sudah nggak bisa, jadi sekarang ini harus mengikuti mayoritas”. Kalau seandainya Rasulullah dulu mau menerima tawarannya Abu Jahal dan kawan-kawan, karena dakwahnya Rasul sudah tidak bisa di bendung, apa tawarannya mereka? “Hai Muhammad begini sajalah, bagaimana kalau kamu kami angkat jadi pemimpin kami, kalau kamu menginginkan harta, kami akan kumpulkan semua harta yang kami miliki dan akan kami berikan kepadamu. Kalau kamu ingin wanita cantik, maka silahkan plihlah mana yang kamu mau, kemudian apa jawaban Rasul? beliau mengatakan tidak”.

Dan ternyata tiga tawaran itu berlaku sepanjang masa. Coba kalau itu ditawarkan kepada orang-orang sekarang ini, tentu mereka akan membenarkan dan menerima tawaran itu. Maka pada saat itu juga Rasulullah langsung menolak tawaran itu. Kalah tidak apa-apa yang penting Allah ridha, dari pada menang tetapi kita dimurkai oleh Allah, ya lebih baik kalah.

e. Maju
Kalau nggak maju-maju nggak apa-apa, kalaupun seperti ini terus, dan kemudian dikatakan kita nggak maju-maju itu nggak apa-apa. Kita dianggap mundur oleh manusia tetapi kita maju di sisi Allah. Orang menyangka kita ini dengan jujur, lurus itu akan hina, tetapi di sisi Allah kita adalah mulia.

f. Mundur
Tidak apa-apa kita mundur , mau maju, mundur tidak ada urusan, yang penting Allah itu ridha. Maka orang itu baru bisa dikatakan ikhlas apabila dia menolak enam perkara ini, enam perkara ini tidak lagi menjadi pertimbangan, karena memang ikhlas itu ringan untuk diucapkan tetapi berat untuk dilaksanakan. Coba kalau kita renungkan sebuah hadits dari Rasulullah SAW ketika Rasulullah mensifati orang yang ikhlas. Rasulullah SAW mengatakan “Beruntunglah orang-orang yang ikhlas, kalau dia hadir ditengah-tengah orang banyak kehadirannya tidak dikenal orang. Kalau dia tidak ada ditengah perkumpulan orang, orangpun tidak mencarinya, mereka itulah pelita-pelitanya petunjuk. Dan lantaran karena adanya orang-orang seperti itulah sehingga Allah berkenan mengangkat fitnah yang gelap”, inilah orang yang ikhlas.

7. Cinta
Syarat syahadat yang ketujuh adalah cinta. Apa maknanya? Dia menempatkan kecintaan kepada Allah SWT itu di atas yang lainnya. Bukan berarti dia juga tidak cinta kepada yang lainnya, tetapi cinta kepada selain Allah itu tidak mengalahkan cintanya kepada Allah. Dalilnya adalah surat At-Taubah ayat 24:

Artinya:
Katakanlah: “Jika bapak-bapak , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNYA”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Ayat ini tujuannya bukan untuk orang kafir, tetapi untuk orang beriman, ini Allah yang mengancam. Di akhir ayat itu dikatakan orang yang fasik, siapa orang fasik itu? Yaitu orang yang lebih cinta yang delapan itu daripada Allah dan Rasulnya, jadi hati-hati. Bukan dilarang cinta harta, istri, anak, rumah, dagang, boleh mencintainya, karena itu adalah fitrah, tetapi kalau itu semua kita tempatkan di atas dan lebih dicintai dari pada Allah dan Rasulnya serta berjihad, maka tunggulah Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-porang yang fasik.

Kemudian Rasulullah pernah diancam oleh Allah disalah satu hadits Qudsyi “Ya Muhammad berbuatlah kamu sesukamu, tetapi ingat kamu itu pasti akan mati. Cintailah apa yang hendak engkau cintai, tetapi ingat sesungguhnya engkau akan berpisah dari apa yang engkau cintai. Beramallah kamu dengan apapun bentuk amal, tetapi ingat bahwa apa yang kamu perbuat itu semuanya akan di pertanggung jawabkan di hadapan Allah”.

Jadi tidak ada satupun amal yang tersembunyi dari catatan Allah, semuanya nanti akan di bongkar di hadapan Allah. Ketika itu orang-orang kafir berlutut di hadapan Allah sambil menunduk, dia tidak bisa menghindar lagi. Apalagi orang-orang sekarang ini yang belagu-belagu, akan mati semua nanti, yang sok hebat, sok kuasa, mampus kamu nanti. Itulah tujuh syarat syahadat yang bilamana tujuh syarat syahadat ini kita tahu dan kita amalkan insya Allah syahadat kita akan lurus. Sebagaimana kata Imam Ibnu Taimiyah “Kuatnya Islam seseorang itu tergantung sungguh kuat akidahnya, kuatnya akidah seseorang itu tergantung sungguh bagaimana dia memaham kalimat Laailaahaillallah”. Maka itulah pentingnya kita semua mempelajari tentang kalimat Laailaahaillallah.

Download Mp3 Disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s