.::KAJIAN KE TIGABELAS: Syarat Syahadat 5::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim

Kita akan melanjutkan pembahasan kita, kemarin kita sudah pada syarat syahadat yang keempat, dan sekarang kita akan lanjutkan untuk membahas syarat syahadat yang kelima. Mungkin pembahasan ini terkesan sangat membosankan, tapi kita harus sabar karena kita sedang membicarakan sesuatu permasalahan yang sangat-sangat penting. Karena ini pondasinya Islam, yang menentukan benar tidaknya keislaman seseorang dalam perjalanannya hidupnya adalah syahadatnya. Kalau titik starnya benar, insya Allah semuanya akan benar, tapi kalau titik starnya salah, maka perjalananya susah untuk diharapkan untuk menemui tujuan.

Maka pondasi inilah yang telah diletakkan oleh Rasulullah ketika mendakwahkan tauhid selama 13 tahun, kalau Nabi saja berdakwah selama 13 tahun, maka kita ukurannya berapa tahun? Rasulullah berdakwah selama 13 tahun tidak ada lain menjelaskan tentang tauhid, menjelaskan, mengajarkan dan mempraktekkan tauhid. Maka tidak heran kalau hasil yang dicapai pada saat itu sanggup melahirkan generasi-generasi terbaik, generasi yang tidak tertandingi sepanjang masa. Karena tauhid yang benar itulah yang telah diletakkan di dada para sahabat, sehingga menghasilkan generasi yang tidak ada tandingannya sepanjang masa, generasi yang terbaik. Generasi yang Allah sendiri mengatakan Radiallahuanhum waraduanhum, Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada Allah, yaitu para sahabat-sahabat Rasulullah.

Mereka ditanamkan tauhid dengan benar oleh Rasulullah, sehingga menghasilkan orang-orang pilihan yang namanya dikenang sampai sekarang dalam sejarah Islam. Maka oleh karena itu perlunya kita membahas hal ini, jadi kalau syahadat yang dipahami dengan benar rukun dan syaratnya insya Allah akan menghasilkan aqidah yang benar, aqidah yang selamat. Ini sudah terbukti pada diri sahabat-sahabat Rasulullah, sebagaimana Allah telah mengabadikan mereka dalam surat Ibrahim ayat 24:

 

Artinya:

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah Telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.

Di dalam ayat ini termasuk kalimat yang baik ialah kalimat tauhid, segala ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran, kalimat tauhid Laailaahaillallaah. Indah sekali Allah membuat perumpamaan, ini kriteria pohon yang baik, kalimat toyyibah. Dan di dalam tafsir dijelaskan itulah kalimat yang telah ditanamkan sehingga menghasilkan sahabat-sahabat Nabi yang diibaratkan seperti pohon yang baik, akarnya kuat tertancap di dalam tanah, rantingnya tinggi menjulang.

Para sahabat-sahabat Nabi yang mereka aqidahnya kuat sekali, tertancap keras dalam dada mereka, sementara cita-cita mereka tinggi menjulang ke langit. Orangnya masih hidup, tetapi bahkan namanya sudah disebut di syurga. Karena cita-cita mereka bukan dunia, tetapi cita-citanya akhirat. Itu akibat daripada tauhid yang ditanamkan oleh Rasulullah, yaitu kalimat toyyibah yang benar yang ditanamkan oleh rasulullah. Jadi kalimat itu diibaratkan seperti pohon yang baik, akarnya tertancap kuat di dalam tanah, dan ranting-rantingnya tinggi menjulang ke langit.

Orang yang aqidahnya kuat diibaratkan seperti sebuah pohon yang akarnya tertancap kuat di dalam tanah, kemudian menghasilkan ranting-ranting yang tinggi yang menjulang ke langit. cita-cita mereka itu tinggi, tetapi bukan dunia yang ada pada hati mereka. Maka arti dunia ini adalah sesuatu yang dekat, sesuatu yang pendek. Sahabat-sahabat itu cita-citanya bukan dunia ini, tetapi cita-citanya akhirat, adapun dunia ini sebagai alat saja untuk menuju akhirat. Maka tidak heran mereka hanya melirik saja dunia ini, dunia ini tidak ada apa-apanya, tidak ada artinya dihadapan para sahabat. Itulah kalimat yang baik, jika dia benar maka akan seperti itu.

5. As-Sidik (jujur).

Syarat syahadat yang ke lima adalah sidik, jujur, membenarkan, jujur dengan apa yang diucapkan dan jujur dengan apa yang diperbuat. Adapun dalilnya adalah berdasarkan hadits dari Rasulullah SAW “Syafaatku nanti akan diberikan kepada orang yang mengucapkan kalimat Lailahaillallah dengan ikhlas, lisannya membenarkan hatinya, dan hatinya membenarkan lisannya”. Maknanya adalah jujur dengan apa yang diucapkan dan jujur dengan apa yang di perbuat. Syafaatku nanti akan diberikan kepada orang yang mengatakan Laailaahaillallah ikhlas dari hatinya, lidahnya membenarkan hatinya, hatinya membenarkan lidahnya.

Jadi ketika dia mengucapkan Lailahaillallah, kemudian dia berpegang teguh pada kalimat Lailahaillallah. Diawal-awal pembahasan sudah saya jelaskan panjang lebar bahwa syahadat itu bukan sebagai syafaat tetapi sebagai aqidah, setelah kita tahu dan mengilmui apa itu Lailaha illallah, jadi dia jujur dengan ucapannya. Para sahabat ketika masih musyrik, tetapi begitu mengenal Islam, bersyahadat, kemudian dia jujur dengan ucapannnya. Bahwa diantara makna syahadat itu adalah “Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah , tidak ada yang berhak kita ibadahi/ditaati kecuali Allah, tidak ada yang berhak dipegang teguh kecuali kebenaran yang datang dari  Allah SWT, tiada hukum/aturan kecuali hokum Allah SWT.

Para sahabat begitu mereka mengucapkan Lailahaillallah mereka sudah paham semua terhadap syarat-syaratnya itu, kalau kita sekarang ini masih perlu untuk dijelaskan. Nah setelah mengucapkan kalimat itu mereka selalu jujur, lisannya membenarkan hatinya, hatinya membenarkan lisannya, dan amalannya membenarkan semanya. Mereka mengucapkannya sekali saja, dia bersyahadat tidak diulang-ulang.

Setelah mereka bersyahadat tidak ada lagi ketaatan kecuali kepada Allah, tidak ada lagi penyembahan kecuali kepada Allah, jujur mereka. Lain dengan kita yang hidup sekarang ini, mengucapkan Laailahaillalah tetapi taat kepada syaitan,  taat kepada thogut. Tetapi para sahabat-sahabat Nabi sekali saja dia mengucapkan Laailaahaillallah dan tidak di ulang-ulang, lalu dia perpegang teguh kemudian jujur dengannya.

Biasanya Allah itu menguji seseorang hamba itu benar atau tidak ucapannya itu, akan diuji oleh Allah. Apakah dia jujur atau berbohong dengan ucapannya, pasti itu akan di uji oleh Allah SWT. Maka dalil dari syarat syahadat yang kelima adalah firman Allah SWT di dalam surat Al- Ankabut ayat 2 dan 3:

 

Artinya:

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami Telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut: 2-3)

Di akhir ayat itu Allah mengatakan, “Dan dengan itu Allah mengetahui siapa orang yang jujur atau benar dan siapa pula orang yang dusta”, prosesnya apa untuk mengetahui benar atau dustanya seseorang? ya dengan diuji. Ahasibannasu aiyyutrokuw aiyyakuulu aamanna wahum laa yuftanuun, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan,”kami telah beriman,”padahal mereka itu belum diuji?”

Maknanya, Allah hendak mengatakan “Hai orang yang mengatakan beriman,jangan percaya dulu  dengan pernyataanmu, jangan menyangka dirimu beriman dulu, padahal kalian belum di uji”. Maka pernyataan iman seseorang itu pasti akan di uji oleh Allah, saya sering sampaikan ayat ini pada ikhwan-ikhwan ketika mereka memulai memperdalam Islam, itu karena apa? jangan sampai kaget. Karena begitu iman yang benar itu masuk, maka tidak lama akan langsung di uji oleh Allah, berdasarkan ayat ini salah buktinya bahwa mereka pasti akan diuji.

Contohnya, emas yang mau dibeli sama orang itu pasti akan diuji dulu, apakah asli atau imitasi. Begitu juga dengan iman, setelah seseorang berani mengucapkan saya telah beriman dengan pemahaman yang benar, maka siap-siap untuk di uji. Sebagaimana para sahabat setelah berani mengucapkan syahadat, maka nggak lama kemudian mereka langsung diuji oleh Allah. Lihatlah bagaimanasi Bilal di tindis dengan batu besar, Yasser itulah syuhada dalam Islam yang pertama di zaman Rasulullah, mereka sekeluarga dibaringkan di tanah, Abdullah disiksa oleh orang kafir Quraisy.

Mereka disuruh untuk mengingkari Laailahailallah,  disuruh mengakui thogut latta dan uzza itu yang berhak disembah, tetapi mereka tidak mau, karena mereka paham. Tidak seperti kita yang harus diartikan, tetapi mereka tetap berpegang teguh pada kalimat Laailahailallah, itu  merupakan tanda kejujuran mereka. Mereka terus dipaksa, tetapi mereka tetap berpegang pada Laailahailallah. Kemudian mereka mengatakan “Kamu akan saya bunuh, kemudian mereka menjawab “Bunuh saja. Ahirnya apa? Yaasir ditombak jantungnya hingga meninggal,dan itulah ujian.

 Jadi ini tolong diperhatikan, saudara-saudara yang akan beriman dengan benar, jangan pernah menyangka tidak diuji oleh Allah, pasti akan diuji. Belum ada dalilnya iman yang benar tidak di uji, semuanya pasti akan diuji. Yaasir ditombak jantungnya di depan istri dan anaknya, kemudian mereka mengatakan bagaimana dengan mu Sumayah? kamu sudah melihat suamimu mati. Tetapi sumayah tetap perpegang teguh pada kalimat Laailahailallah. Akhirnya Sumayah diikat kakinya kemudian ditarik dengan kuda yang berlainan arah, kemudian ditusuk kemaluannya hingga menembus perutnya. Nah diuji itu, dan Bilal ditindis dengan batu besar, dan masih banyak sahabat-sahabat yang lain yang diuji dengn sangat luar bisanya.

Nah ayat ini jelas,bahwa setiap orang yang berani mengatakan beriman dengan benar, siapapun yang berani mengatakan insya Allah saya sudah beriman dengan benar, dia menemukan kebenaran , kemudian dia pegang teguhi, maka pasti dia akan diuji oleh Allah, dari yang ringan sampai dengan yang paling berat. Ujian itu seperti kata Rasulullah akan sesuai dengan kadar imannyaseseorang, semakin kuat imannya semakin besar pula ujianya. Jadi saya ingatkan di sini, siapa yang ingin bertauhid dengan benar, siap-siaplah untuk diuji.

Ujian itu bermacam-macam, dari yang ringan sampai yang berat. Yang paling ringan biasanya yang sering kita temukan di kampung-kampung, ada orang yang mengatakan “Orang gila itu,  ngaji apaan lagi sih itu? dihina karena berjenggot, celana di atas mata kaki. Kemudian berjalan dengan istri yang menutup auratnya dengan baik,malah dibandingkan dgn istri tuan guru yang jilbabnya biasa saja, kemudian mereka mengatakan “Padahal mereka juga berjilbab, tetapi nggak seperti itu.

Ujian itu datangnya bermacam-macam, dari empat penjuru mata anngin.Saya perlu sampaikan ini, jangan sampai antum-antum semua kaget nantinya, karena seringan-ringannya ujian seperti  itu, dijauhi oleh orang-orang. Teman yang dulunya duduk satu meja dengan kita, setelah kita kenal tauhid, dia langsung atur jarak dan menjauhi kita. Bahkan bisa jadi keluarga menjauhi,  sampai anak dan istripun menjauhi, itu juga termasuk bentuk ujian, karena pasti akan diuji.

Jangan pernah berpikir berislam dengan benar itu tidak diuji, justru kalau orang yang sudah mengatakan saya sudah benar Islamnya, tetapi mulus-mulus saja, nggak ada orang yang mengejek, mencaci maki, setan senang dekat dengan dia, orang kafir senang bergaul dengan dia, orang yang zolim dekat dengan dia, nah itu yang nggak ada dalilnya. Jadi akan diuji seringan-ringannya siap untuk dicibirkan.  Kalau itu kita temui, Alhamdulillah, ada tanda-tanda kita benar.

Kalau itu kita jumpai, berarti ada tanda-tanda benar, kenapa? sebaik-baiknya manusia, kekasihnya Allah seperti itu, Rasulullah itu diperlihatkan ujiannya. Tetapi sekarang orang bicara Islam, bicara sunnatullah, tidak diuji, mulus semua, setan senang, genderuwo senang, dalilnya mana? cari satu saja satu Nabi yang tidak diuji oleh Allah, nggak ada. Untuk mengetahui benar atau tidaknya, jujur atau tidaknya, itu akan diuji. Maka kata Allah dalam ayat ini “Maka dengan ujian itu nanti aku akan tahu siapa orang yang benar siapa pula orang yang berdusta”.

Ada kadang orang sudah berislam dengan baik, baru dicibirkan oleh orang kampung dengan mengatakan “Nanti bahaya ini, nanti teman-temanmu akan menjauhi kamu, kamu tidak akan punya teman lagi”, ada juga yang nggak kuat. kemudian ada juga yang ditakut-takutin ”Nama kamu sudah masuk dalam catatan thogut”, ditakut-takutin oleh setan. kalau orang yang menakut-nakuti tadi bilang namumu sudah masuk dalam catatan, “Jawab saja Alhamdulillah, suruh tulis yang besar”.

Nah itu baru ditakut-takutin begitu sudah takut, berarti belum benar imannya. Jadi siap-siap untuk diuji, sedikit-sedikitnya ujian itu dicela, sampai nanti bertingkat-tingkat, dimusuhi, ditakut-takuti, diteror, sampai nanti akhirnya harus berakhir  ditiang gantungan atau berakhir diujung peluru. Itu sejarah berkata dari dulu sampai hari ini begitu, dengan itulah nanti Allah akan mengetahui siapa yang benar dan siapa yang dusta. Kalau itu dijumpai oleh kita, Alhamdulillah kita benar, insya Allah ada tanda-tanda benar, walaupun tidak boleh mengatakan kami yang paling benar. Tetapi ada tanda-tanda kebenaran pada kita, itulah karakter Islam.

Maka syarat syahadat yang kelima adalah As-sidik (jujur), ucapanya itu dibenarkan dengan amal yang nyata. Sudah dijelaskan tadi dalilnya yaitu dalam surat Al-Ankabut ayat 2-3. Dan dalil yang lain dari syarat syahadat yang kelima terdapat dalam Firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 70-71:

 

Artinya:

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia menang dengan kemenangan yang agung”.

Semua orang itu kalau dia benar Islamnya dia selalu ingin bisa berbuat baik, ingin melakukan kebaikan yang banyak, cita-citanya ingin berbuat baik. Contohnya, umpama ada orang mengetahui bahwa shalat sunnat dua rakaat sebelum subuh itu pahalanya lebih besar daripada dunia dan isinya. Walaupun dia sudah tahu itu dan ada keinginan seseorang untuk melakukannya, itu sesuatu yang tidak mudah walaupun dia tahu, kecuali kalau dia mendapatkan taufik dari allah SWT. Apa taufik itu? Taufik artinya mendapatkan bimbingan dari Allah, dia sudah tahu, dia ingin mengerjakan itu, melaksanakannya itu. Maka itu tidak mudah kecuali orang yang diberi taufik oleh Allah, baru dia bisa melaksakan kebaikan itu.

Taufik ini akan diberikan oleh Allah, tetapi syaratnya ada dua, yaitu takwa kepada Allah dan jujur. Dengan mengatakan kata-kata yang baik dan jujur, kalau dua ini sudah dilakukan, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Jadi seseorang yang ingin baik amalnya syaratnya ada dua, takwa kepada Allah dan jujur. Kemudian hadits dari rasulullah SAW “Hendaklah engkau selalu berbuat jujur, karena kejujuran itu akan memimpin seseorang nanti, akan menunjukkan kebaikan-kebaikan yang banyak, kemudian kebaikan-kebaikan yang banyak itu akan menuntun seseorang menuju jannah. Begitupun sebaliknya hati-hati kamu akan menjadi dusta karena perbuatan yang dusta itu akan menuntun seseorang kepada kefajiran, dan kefajiran itu nanti akan menuntun seseorang ke neraka”.

Maka syarat syahadat yang kelima yaitu sidik (jujur), untuk kita yang sudah mengetahui maknanya, sudah mengilmui kalimat Laailahaillallah, kita berusaha untuk jujur. Maka saya sudah sampaikan dalam pertemuan awal diantara makna illah yang sepuluh menurut Syekh Sayyid Shabieq perlu untuk dihafal, ketika kita hafal insya Allah mantap kita, terutama ketika kita membaca syahadat. Jadi kita tidak hanya tahu tiada tuhan selain Allah, tetapi di jadikan akidah dan itu juga harus menjadi prinsip kita diluar sholat.

6. Ikhlas.

Dalilnya adalah terdapat dalam firman Allah SWT dalam surat Al-Bayyinah, ayat ke 5.

 

Artinya:

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.

Tidak ada tujuan hidup kita ini kecuali beribadah kepada Allah, dengan ikhlas dan cocok dengan apa yang diperintahkan di dalam Ad-din. Jadi kata Allah engkau pada hakikatnya tidak diperintah kecuali beribadajh kepada Allah dengan ikhlas. Ikhlas itu dia melakukan perintah-perintah Allah itu tidak pakai pertimbangan-pertibangan manusia, mau dicela orang, di ejek orang, dipuji orang, tidak ada urusan, tahu kebenaran, dia lakukan.

Kata-katanya orang itu tidak menjadi pertimbangan. Ikhlas, yang penting yang dicari itu cuman satu, yaitu mancari ridhonya Allah, sepanjang Allah itu ridha nggak ada urusan. Tetapi hari ini orang mau melaksanakan ajaran Islan itu lihat kiri kanan, sehingga ketika dia mau melaksanakan kebenaran yang sudah dia ketahui, dia takut nanti akan ada yang mengingatkan, “Kalau kamu melakukan seperti itu apa kata orang nanti”. Itu paling banyak hari ini, ketika mau melakukan sesuatu, kamudian yang dipikirkan apa kaa orang, akhirnya karena mengikuti apa kata orang sehingga melanggar perintah Allah.

Jadi mau melaksanakan aturan Allah, ajaran Allah, yang dipikirkan apa kata orang. Tapi dia tidak pernah berpikir, kalau saya tidak lakukan ini apa kata Allah, pernah dengar orang seperti itu? Tetapi yang jadi pertimbangan mereka adalah apa kata orang, padahal orang tu tidak punya syurga dan neraka. Mestinya apa kata Allah nanti kalau saya tidak kerjakan, tetapi hari ini sudah terbalik, katanya orang lebih dimenangkan dari katanya Allah. Maka orang yang beribadah dengan ikhlas itu nggak lihat kiri kanan, kalau dia tahu itu benar maka dia laksanakan saja. Mau dipuji orang, mau dicela orang, nggak ada urusan yang penting Allah ridho.

Seperti apa yang dikatakan oleh Fudhail bin Iyadh, “Sesungguhnya ibadah itu jika dia benar tetapi tidak ikhlas maka dia tertolak, begitupun sebaliknya jika dia sudah ikhlas tetapi tidak benar, maka ia akan tertolak juga”. Maka ibadah itu baru dinilai oleh Allah syaratnya harus benar dan ikhlas, benar menurut contoh Rasul, ada perintahnya kemudian dilakukan dengan ikhlas, yang dituju hanyala Allah. Maka orang yang ikhlas itu dia harus menolak enam perkara untuk tidak di jadikan pertimbangan. Enam perkara itu adalah:

a.       Harta

b.      Pangkat

c.       Nama baik

d.      Menang

e.       Maju

f.       Mundur

Download Mp3 Disini

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s