.::KAJIAN KE DUABELAS: Syarat Syahadat 4::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim

Pada kesempatan ini kita masih akan membahas syarat-syarat syahadat dan sudah memasuki pada poin yang keempat yaitu takluk dan menerima. Artinya adalah berserah diri atau menerima terhadap seluruh apa yang telah Allah atur atas diri kita. Jadi takluk, berserah diri atau pasrah kepada aturan yang telah Allah tetapkan kepada kita. Nanti kita akan tahu apa bedanya poin yang ketiga menerima dengan berserah diri, karena orang yang menerima bisa jadi dia belum tentu pasrah cara mnerimanya itu.

Jadi syarat syahadat yang keempat yaitu takluk di hadapan Allah. Dia tidak merasa hebat untuk menunjukkan kelebihannya. Dia merasa apa yang ditetapkan oleh Allah itu benar dan dia patuh saja, pokoknya dia takluk dan pasrah saja terhadap aturan yang telah Allah tetapkan. Dalilnya sudah kita bicarakan kemarin yaitu dalam surat An-Nissa ayat 65:

Artinya
Maka demi tuhanmu, mereka tidak beriman, sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya

Ayat ini sangat jelas, dan ayat ini sering dibicarakan oleh orang-orang. Allah biasanya bersumpah itu dengan ciptaannya, dengan makhluknya, tetapi di dalam ayat ini Allah bersumpah dengan dirinya sendiri. “Falaawarabbika” “Maka demi Robbmu, sesunggunya (pada hakekatnya) mereka itu tidak beriman sebelum mereka menjadikanmu wahai Muhammad sebagai hakim, sebagai yang memutuskan perkara dari perkara-perkara yang mereka perselisihkan, dan terhadap keputusan yang telah engkau putuskan itu mereka menerimanya dengan lapang dada.”

Tsummalaa yajiduu fii anfusihim harojammimma qadaita” Serta terhadap keputusan yang diberikan oleh engkau wahai Muhammad dari perkara yang mereka perselisihkan itu, tidak ada keberatan sedikitpun. Ini maknanya takluk, karena orang yang menerima belum tentu dia takluk terhadap perkara yang diperselisihkan itu. Engkau memberikan keputusan, keputusanmu itu diterima dengan tidak ada keberatan. “Wayusallimu tasliiman” dan mereka menerima dengan taklim, dengan berserah diri sepenuh-penuhnya, menerima keputusan Nabi itu dengan lapang dada dan tidak ada keberatan sedikitpun.

Orang yang menerima belum tentu menerimanya itu dengan lapang dada, dan mungkin dengan terpaksa. Maka di sini dikatakan takluk dan menerima dengan penerimaan yang selapang-lapangnya terhadap apa yang telah menjadi keputusan Allah dan Rasulnya. Jadi ayat ini kalau kita periksa di tafsir Ibnu Katsir, di sana asbabun nuzulnya ternyata ada dua versi atau dua riwayat. Riwayat yang pertama yaitu ketika Zubair berselisih dengan seorang sahabat Anshor, sementara Zubair ini saudara sepupu Rasulullah dari nasab ibunya.

Mereka berselisih tentang air yang akan dialirkan di persawahan mereka, kemudian Rasulullah memberikan keputusan. Keputusan Rasulullah itu menyatakan bahwa Zubair yang akan lebih dahulu berhak untuk akan dialiri sawahnya, setelah itu baru sawahnya si sahabat Anshor ini. Maka ketika itu sahabat Anshor ini menyatakan “Engkau wahai Rasulullah memberikan keputusan seperti itu karena memang Zubair itu anak saudara orang tuamu, karena Zubair ini adalah sepupumu, maka engkau menangkan zubair dalam perkara ini”, maka turunlah ayat ini.

Jadi dia protes terhadap keputusan Rasulullah itu, dia tidak menerima, maka turunlah ayat ini. Jadi hakekatnya ayat ini adalah, terhadap keputusan Rasul, karena semua yang diucapkan Rasul itu bukan berdasarkan hawa nafsu tetapi atas bimbingan wahyu, “Wamaa yamfiku anilhawa inhuwa illa wahyuuyuha”. Berdasarkan ayat ini, mestinya orang yang beriman itu, patuh, takluk, mengikuti dengan lapang dada terhadap semua keputusan Rasul. Sahabat Anshor ini merasa jangan-jangan karena si Zubair ini sepupunya Rasul maka dimenangkan, maka turunlah ayat ini sebagai teguran.

Pada hakekatnya tidak dikatakan beriman salah seorang di antara kamu, sampai mereka mau menjadikan Rasul ini sebagai hakim untuk memutuskan perkara mereka, dan keputusan yang diberikan oleh Nabi itu tidak ada dalam hati mereka itu keberatan sedikitpun, tidak ada ganjalan sedikitpun terhadapnya, dan mereka menerima dengan selapang lapangnya penerimaan. Kalau tidak begitu “Falaa warabbika”, maka hakekatnya demi Allah demi Robbmu mereka itu tidak beriman, itu asbabun nuzulnya.

Kemudian dalam riwayat yang lain asbabun nuzulnya yaitu orang yang berselisih juga, muslim yang munafik berselisih dengan yahudi. Si yahudi meminta untuk diputuskan oleh Rasulullah, tetapi si muslim ini justru meminta diputuskan oleh orang kafir yahudi. Akhirnya mereka mengadukan perkara mereka kepada Rasulullah. Rasulullah mendengar dari kedua belah pihak, ternyata dari dua aduan ini Rasulullah memutuskan bahwa yang benar adalah orang yahudi. Maka si muslim munafik ini tidak terima dan naik banding, dia datang ke Abubakar, ini jelas di dalam tafsir Ibnu Katsir itu.

Dia datang kepada Abubakar untuk naik banding, ibaratnya dari pengadilan negeri ke pengadilan tinggi. Dia datang kepada Abubakar dan menceritakan masalahnya, kemudian Abubakar mengatakan, engkau telah datang ke Rasulullah, sudah mengadukannya ke rasul? dia menjawab, ya, sudah, tapi justru Rasulullah memenangkan orang yahudi ini, makanya saya datang kepadamu. Kemudian kata Abubakar keputusanku sama dengan keputusan Rasulullah, dan itu yang benar. Nggak puas dia naik banding, akhirnya dia naik ke kasasi, kalau sekarang ini MA atau apalah.

Akhirnya dia datang ke Umar, ya Umar bagaimana ini? masa permasalahan saya ini, mengadu ke Rasulullah, Rasul membela si yahudi dan memenangkannya, kemudian mengadu ke Abubakar, Abubakar juga memenangkan si yahudi, lantas bagaimana pendapatmu Umar? Umar menjawab, oh begitu, tunggu sebentar. Umar kebelakang untuk mengambil pedang, saat keduanya lagi berdebat panjang, akhirnya datang Umar dan langsung memotong kepalanya, dipenggal oleh pedangnya Umar yang baru diambilnya.

Maka si yahudi ini lari terbirit-birit, ketakutan, dia langsung lari menemui Rasulullah dan melapor, bagaimana ya Muhammad? kok Umar ini dia bunuh orang muslim tadi itu, Rasul menjawab apa benar? benar ya Rasulullah, kemudian disuruh cek, ternyata benar dibunuh oleh Umar. Ketika itu Rasulullah memanggil umar, ketika Umar sudah berhadapan dengan Rasul, ditanya? Kenapa engkau membunuhnya? Umar menjawab, Bagaimana saya tidak membunuhnya ya Rasulullah, berani-beraninya dia menentang keputusanmu, padahal semua keputusan Rasulullah itu sudah pasti benar, berani-beraninya dia menentang.

Maka ketika itu Rasulullah terdiam, kemudian turunlah Malaikat Jibril membisiki bahwa Umar itu adalah Alfaruq, dan turunlah ayat ini. Jadi Jibril mengatakan bahwa Umar itu adalah Alfaruq, apa itu Alfaruq? pembeda antara yang hak dan yang bathil. Jadi sekarang kalau Umar masih hidup, banyak orang yang nggak punya kepala yang jalan. Jadi ayat ini menandakan bahwa syarat syahadat yang ke empat adalah dia harus takluk pada Allah, tidak boleh dia menampakan pemberontakan atau penentangan terhadap keputusan Allah dan Rasul, dan dia terima dengan lapang dada.

Akal manusia kadang belum bisa mencerna apa yang menjadi keputusan Allah dan Rasul. Maka ada wahyu dan ada ro’yu. Wahyu itu mutlak benar karena dia datang dari Allah dan Rasul, sedangkan ro’yu dia datang dari manusia, ini yang disebut hawa nafsu. Apapun yang dibikin oleh manusia, aturan, undang-undang, kalau itu datang dari akal, menggunakan akal, itu namanya ro’yu, jadi punya nilai hawa nafsu. Nah hari ini wahyu Allah sudah dikalahkan oleh ro’yu. “Ya benar memang aturan itu, tapi zamannya berbeda, konteksnya lain pak. Maka sekarang ini dengan kita berpikir secara kekinian, ini sudah tidak bisa lagi kita lakukan. Benar, tapi di tolak”. Ini terlalu banyak orang dengan model yang seperti ini.

Kemudian dalil yang lain di dalam firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 36:

Artinya:
Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-nya, maka sungguh, dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata

Allah katakan “Tidak pantas bagi orang mukmin laki-laki maupun perempuan, bilamana Allah dan Rasulnya sudah menetapkan satu peraturan terhadap permasalahan yang mereka hadapi, kemudian mereka akan mengambil aturan yang lain. Allah dan Rasul sudah menetapkan satu aturan, kemudian mereka mengambil aturan yang lain, tidak pantas, bahkan dikatakan durhaka dan orang yang sesat oleh Allah”.

Jadi makna ayat ini. “Bila Allah dan Rasul sudah bikin suatu aturan tentang suatu masalah, dia buang aturan itu, kemudian dia ambil aturan yang lain, dia cari aturan lain, ini orang durhaka dan orang sesat kata Allah”. Jadi, kan banyak orang yang nanya sekarang ini, aliran apa sih kamu ini? lihat orang seperti kita ini kadang banyak pertanyaan seperti itu, karena dianggap aneh, celananya di atas mata kaki, jidatnya hitam, berjenggot, istrinya matanya saja yang kelihatan. Istri ustadz-ustadz yang lain tidak begini seperti istri kamu yang hanya kelihatan matanya saja. Istri-istri mereka juga memakai jilbab, tapi tidak begini, yang hanya kelihatan matanya saja, aliran apa sih kamu ini?

Hari ini paling banyak orang sibuk cari tahu aliran apa, di otaknya itu bertanya-tanya, aliran apa sih orang-orang ini? penasaran dia. Kalaupun dia tahu tentang Qur’an dan hadits, dia tidak akan bingung tentang aliran apa. Maka berdasarkan ayat ini, orang yang sesat itu, ya itulah aliran sesat. Orang yang durhaka kepada Allah, itulah orang yang sesat. “Wamayya’shillaaha warasulahu faqad dolla dolaalammubina” Siapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul, maka dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. Orang yang aliran sesat itu adalah orang yang durhaka kepada Allah, jadi mereka itulah aliran sesat.

Itu kata siapa? Ayat yang berbunyi seperti itu, siapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. Jadi aliran sesat itu adalah orang yang durhaka kepada Allah, disatu sisi dia menganggap dia lebih pintar dari Allah dan Rasul, padahal durhaka kata Allah. Contohnya, ayat ini kalau boleh saya berikan contoh supaya jelas, supaya kita jangan meraba-raba. Ini jelas, Allah dan Rasulnya sudah membuat aturan terhadap satu masalah, sementara dia tolak, dia mengambil aturan yang lain. Saya kasih contoh yang dalam perkara yang ringan-ringan saja, orang menutup aurat karena apa? Bayangkan terlalu berani sekali orang ini, Nauzzubillah, mudah-mudahan dia cepat-cepat sadar.

Ada seorang tokoh ahli tafsir terkenal, sampai dia berani mengatakan tidak wajib menutup aurat, pakai jilbab seperti orang itu nggak wajib katanya, yang penting dia itu berpakaian yang sopan, ini ahli tafsir. Kemudian pendapatnya itu dikritik oleh seorang ulama dari Jawa Tengah. Hanya karena anaknya tidak berjilbab, dia mengatakan berjilbab itu nggak wajib, yang penting dia berpakaian sopan. Itu ahli tafsir, lantas bagaimana dengan yang awam?

Coba lihat, Allah mengatakan dalam Al-Quran, ayatnya jelas, hadisnya jelas, sering disampaikan oleh ustadz, para tuan guru, yang jujur tentunya. Mereka menyampaikan hukum wajibnya bagi seorang wanita itu untuk menutup aurat. Menurut standar hadits yang minimal itu, seringan-ringannya kata Rasulullah itu “Seluruh tubuh wanita itu adalah aurat, kecuali muka dan telapak tangan”. Ini asbabul wurudnya, ketika itu adik dari pada Aisyah yaitu Asma’ binti Abubakar, dia sering berada di rumah Rasulullah. Sampai ketika Rasulullah mendengar Asma’ ini sudah aqil baligh, dan Rasulullah sudah tahu.

Setelah ayatnya sudah turun, Asmah ini datang menghadap Rasulullah dengan memakai pakaian yang biasa dia pakai ketika dia belum aqil baligh, sehingga Rasulullah ketika melihat Asma’, maka Rasulullah memalingkan mukanya, ini hadits riwayat Imam Bukhari. Kemudian Rasulullah mengatakan, wahai Asma’, semua tubuh wanita itu adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan. Ini hadits sudah disampaikan berulang-ulang, ayat tentang ini disampaikan berulang-ulang, tetapi apa kelakuan orang yang mengaku muslimah pada hari ini? mereka mengatakan, memang benar tutup aurat dan memakai jilbab itu wajib, cuman kalau saya memakai jilbab sekarang, belum pantas, nanti sajalah katanya.

Ada juga yang mengatakan ketika dinasihati “Hai tutuplah aurat, anda sudah dewasa, jadi harus menutup aurat”, iyya katanya, nantilah, dan kalau saya memakai jilbab, nanti saya dipanggil Ummi. Ummi itukan artinya ibu, nggak mau dipanggil ibu, memangnya mereka bapak. Ada juga yang mengatakan lagi, benar memang kata ustadz itu, enak dia bilang. “Memang perempuan itu repot, mau juga saya memakai jilbab seperti si Fulanah itu, tapi kita nggak tahan panas, memangnya neraka itu full AC”, begitulah bahasa mereka, dia terima itu benar tapi ditolak. Jadi orang yang menerima itu belum tentu dia terima dengan lapang dada, itu contoh yang kecil.

Kemudian contoh yang besar, Rasulullah memberikan contoh kehidupan itu dari hal yang kecil sampai yang besar. Buktinya Rasulullah SAW memberi contoh ketika masuk WC Rasulullah masuk dengan kaki kiri lalu berdoa, dan keluar dimulai dengan kaki kanan dan berdoa juga. Mau tidur, bangun tidur, mau makan, selalu berdoa, ini sunah-sunah Rasul. Kalau masuk WC saja diatur, apakah mungkin hal yang besar tidak diatur? Saya contohkan pada masalah nikah, apakah mungkin masuk WC diatur, nikah nggak diatur, kan nggak masuk akal ini, tidak mungkin nggak diatur.

Diatur bagaimana pernikahan secara Islam itu, dalam pernikahan Islam haram hukumnya ikhtilat. Ikhtilat itu membaur wanita dengan laki-laki dalam satu tempat, maka perlu ada hijab. Kemudian juga tidak ada perintahnya kedua pengantin duduk bersanding, dipajang di depan, yang ada itu islat, yaitu permakluman bahwa inilah suami dari si fulanah itu. Itu sunnah Nabi, begitu cara pernikahan Islam itu. Tetapi hari ini syari’at ini sudah dibatalkan oleh akal manusia, “Ini bukan nikah ini, nikah apalagi ini? mana pengantin wanitanya itu, sama seperti orang yang lagi menghadap Pak Camat saja, jauh dengan pengantin perempuannya”.

Standarnya mereka apa? Standarnya itu tokoh setempat. Ketika saya menghadiri acara nikah di suatu daerah, sampai mau ribut. Kita atur acaranya secara Islami, karena yang punya hajat ini mendatangi saya memberi tahu mau menikahkan anaknya secara Islami, saya menanyakan sama beliau, bapak mau nikahkan anaknya itu semi Islam atau full Islam? Lalu bapak itu menjawab full Islam. Ya sudah bapak undang dulu keluarga pihak laki-laki , kita perang dulu hari ini, jangan perang besok, nggak enak, maksudnya kita diskusikan dulu hari ini.

Akhirnya datang keluarganya pengantin laki-laki, kita ajak diskusi, mereka tidak punya alasan tidak punya hujjah. Kita beri tahu nikahnya itu begini kalau nikah Islam itu, nggak punya hujjah mereka. Apa hujjahnya? nikah apalagi itu, anak tuan guru juga disini tidak nikah begitu katanya, akhirnya ditolak. Nah sekarang begitu, kita ajak nikah mengikuti aturan Islam, kita pake hijab, mengikuti syariat Islam, karena masuk WC diatur, nggak mungkin nikah tidak diatur. Apa alasan orang nggak mau mengikuti aturan itu, mereka tidak memiliki alasan.

Saya kasih contoh lagi, orang bikin undangan akad nikah, pasti kalimat yang pertama ditulis itu Bismillahirrahmanirrahim, kemudian dilanjutkan dengan memohon rahmat dan ridho Allah kami bermaksud menyelenggarakan resepsi pernikahan putra dan putri kami. Anehnya dia bikin undangan dengan menggunakan kalimat tersebut, mau dapat ridho dari mana? Allah yang bikin aturan, bikin syariat melalui Nabinya, aturannya ada tetapi tidak dipakai, ridho dari mana?

Ini terlalu banyak contohnya, itu karena apa? dia tidak takluk, tidak berserah diri sepenuhnya terhadap aturan yang telah di tetapkan oleh Allah dan Rasulnya. Ini contoh yang kecil, dan masih banyak contoh yang besar lagi. Ini rata-rata orang muslim hari ini seperti itu, maka kalau dia paham ini, dia harus merubah. Akalnya dibuang jauh-jauh dan harus memakai wahyu, harus memakai aturan Allah, kalau mau dapat ridho Allah. Maka ayat ini adalah dalil yang jelas, “Tidak pantas bagi orang muslim laki-laki dan wanita jika Allah sudah membuat aturan, akan ada baginya aturan yang lain”.

Asbabun nuzul dari ayat ini indah sekali, kalau kita periksa tafsir Ibnu Katsir, di situ penjelasannya ada cuman secara singkat, tetapi kita dapat periksa dalam kitab Tanbihul Ghofilin. Pada saat itu ada seorang pemuda dari bani Sa’ad datang menemui Rasulullah dan meminta untuk dipinangkan seorang gadis yang ada di kota Madinah. Gadis ini cantik, si pemuda ini bernama Zulaibib. Maka Rasulullah SAW menerima permintaan orang itu, kemudian diutuslah sahabat untuk meminangnya. Datang sahabat ke rumah gadis ini, kemudian mengatakan kami utusan Rasulullah datang kemari untuk menyampaikan salam Rasulullah dan untuk meminang anakmu.

Orang tua si gadis ini senang bukan main, dan si gadis ini mendengar di balik kamar. Kata orang tuanya, wah ada utusan Rasulullah untuk meminang anak saya, tetapi rupanya nggak nyambung, akhirnya diperjelas. Orang yang dinikahkan nanti dengan anak gadismu itu adalah si Zulaibib. Setelah dikasih gambaran oleh para sahabat, bahwa si Zulaibib ini orangnya hitam, rambutnya kriting dan hidungnya pesek, seketika berubah muka orang tua si gadis tadi. Akhirnya apa? Spontan dia tolak, aduh banyak maaf, saat ini belum dulu, dan akhirnya ditolak.

Akhirnya sahabat ini pulang, begitu sahabat ini keluar, si gadis tadi keluar dari kamarnya, rupanya dia dengar percakapan tadi dari awal hingga akhir. Apa kata si gadis tadi? Alangkah beraninya bapak dan ibu menolak pinangan Rasulullah, alangkah beraninya, apakah bapak dan ibu tidak takut akan dosa diazab oleh Allah karena menolak pinangan Rasulullah? Kaget orang tuanya ini. Akhirnya bapaknya cepat-cepat menyusul utusan tadi, tetapi utusan tadi sudah duluan menemui Rasulullah kemudian melapor, dan pada saat itu Rasulullah terdiam menandakan tidak suka.

Maka datanglah orang tua tadi menemui Rasulullah, dan saat itu Allah menurunkan ayat ini, kemudian pada saat itu dibacakan oleh Rasulullah kepada orang tua itu, maka orang tua itu meminta ma’af karena telah berani menolak keputusan Rasulullah. Akhirnya dinikahkan si Zulaibib ini dalam kondisi tidak punya modal untuk nikah sedikitpun, tetapi ia percaya diri, nggak punya modal, maunya anak orang cantik lagi, nah ini perlu ditiru. Karena tidak ada modal nikah, akhirnya si Zulaibib disuruh untuk mendatangi beberapa sahabat untuk meminta bantuan untuk menyelenggarakan akad nikah.

Akhirnya si Zulaibib mendatangi beberapa sahabat dan terkumpullah dana dan akhirnya iapun menikah. Setelah dia nikah beberapa lama saat itu Rasulullah sedang menyiapkan syariah (tentara perang) untuk pergi berperang. Si zulaibib ini mendengar tentara Islam akan pergi perang, uang yang sisa dari pernikahannya digunakan oleh Zulaibib untuk dibelikan tombak, tameng, masker tameng untuk persiapan dia berangkat berperang. Sehingga pada saat pasukan itu diberangkatkan, panggilan perang itu dikumandangkan akhirnya Zulaibib ikut dalam pasukan jihad.

Singkat cerita, setelah peperangan selesai biasanya Rasulullah itu menginspeksi siapa-siapa sahabat itu yang gugur sebagai shuhada, satu persatu oleh Rasulullah diperiksa, ternyata Rasulullah melihat di tengah-tengah yang gugur itu ada Zulaibib, di dekatnya ada tujuh orang musyrik. Akhirnya Rasulullah kaget, ya Allah si Zulaibib, setelah dibuka maskernya ternyata benar si Zulaibib. Akhirnya oleh Rasulullah dipangku dan dibersihkan jenggotnya yang terkena debu.

Rasulullah sangat sedih, ini pengantin baru, istrinya orang yang cantik di Madinah. Dipangku, kemudian dibersikan debu yang menempel di jenggot dan di badannya sambil Rasulullah mengatakan wahai Zulaibib alangkah indahnya keadaanmu, alangkah harumnya baumu, alangkah Allah dan Rasul senang dan cinta kepadamu. Saat itu Rasulullah mengelus-ngelus Zulaibib, akhirnya Rasulullah membalikkan mukanya, Rasulullah kaget sehingga sahabat bertanya ada apa ya Rasululah? Rasulullah menjawab, saya melihat bidadari-bidadari turun berebut mendekati mayatnya si Zulaibib. Itulah kisah si Zulaibib yaitu asbabunnuzul dari ayatnya.

Intinya terhadap keputusan Allah dan Rasul, apapun bentuknya, kalau kita tolak kemudian ada keputusan yang lain, ada hukum yang lain terhadap masalah-masalah, maka kita dianggap orang yang durhaka kepada Allah dan juga orang yang sesat. Maka syarat syahadat yang ke empat berdasarkan dua dalil itu, maka dia harus takluk dan berserah diri terhadap keputusan Allah. Kemudian di dalam hadits Rasulullah yang lain, “Tidak beriman salah seorang diantara kalian sehingga keinginannya itu tunduk dengan apa yang aku bawa”. Dia ingin begitu, tetapi aturan Allah dan rasulnya seperti itu. Maka berdasarkan hadits ini dia harus buang keinginannya itu, kalau tidak begitu berarti dia tidak beriman. Inilah maknanya takluk, tunduk, berserah diri terhadap apa yang telah diatur oleh Allah dan Rasulnya, itulah syarat syahadat yang keempat.

Download Mp3 Disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s