.::KAJIAN KE SEBELAS: Syarat Syahadat 3::.

 

Oleh: Ustadz Abdul Hakim.

Kemarin kita telah membahas syarat syahadat yang ke tiga. Jadi kita mesti sabar mengikuti ini, mudah-mudahan kita akan mendapatkan gambaran yang utuh tentang syahadat ini. Karena ruhnya Islam adalah tauhid ini. Seseorang yang kuat ilmu fiqihnya, paham sejarah, paham Islam kalau dia tidak punya tauhid, itu percuma. Jadi kalau dia tidak paham tauhid yang benar syahadat yang benar, percuma. Gambarannya dapat kita lihat seperti apa yang terjadi pada hari ini, orang menguasai ilmu ini dan itu, menguasai tafsir, menguasai fiqih, tetapi tidak paham tauhid, ya akibatnya seperti sekarang ini.

Jadi Islam yang dipahami dan disampaikan kepada orang itu membingungkan, tidak punya pijakan yang kokoh. Maka itulah pentingnya kita harus bersungguh-sungguh untuk memahami kalimat syahadat dan tauhid dengan benar. Karena kalau seseorang itu paham tauhid dengan benar, tahu syarat dan rukun, tuntutan-tuntutannya, kemudian pembatal-pembatalnya, itu semua dia tahu dengan benar, dia mengucapakan itu dengan pemahaman yang benar, kemudian satu jam lagi dia meninggal, insya Allah berdasarkan dalil-dalil, maka dia akan masuk syurga. Tetapi seseorang yang mengucapkan ini, dia mengucapkannya benar, tahu kebenaran dan tuntutannya, tahu ilmunya, kemudian dia ditakdirkan panjang umur, maka umurnya yang panjang ini merupakan ujian bagi dirinya.

Karena orang yang bersyahadat dengan benar itu pasti akan diuji oleh Allah, karena syahadat ini adalah pondasinya Islam. Orang yang tahu syahadat dengan benar, kokoh tauhidnya, orang seperti itu tidak pernah dibiarkan oleh Allah, pasti dia akan di uji. Mana buktinya? Silakan lihat fakta sejarah, begitu para sahabat sudah mengucapkan Laailahaillalah, itu tidak lama langsung di uji oleh Allah. Jadi jangan pernah bermimpi kita tidak diuji oleh Allah dalam kondisi kita sudah berusaha memahami tauhid yang benar. Maka benarlah kata Rosullulah “Jika tauhidnya benar maka Islamnya seseorang akan benar, tauhid yang benar akan melahirkan keislaman yang benar”.

Maka Rasullullah SAW bersabda: “Nanti di belakang hari akan ada masa dimana kalian dituntut untuk ekstra bersabar, bukan hanya bersabar, tapi lebih bersabar. dimana orang yang ketika itu melaksanakan Islam dengan benar, berpegang teguh dengan Islam yang benar, dia ibarat orang yang menggenggam bara api”. (HR. Bukhari-Muslim). Panas, melepuh tangan kita, bukan di katakan menggenggam es jus atau es batu, tetapi bara api.

Jadi orang yang di belakang hari, kemudian berpegang pada Islam yang benar, dengan tauhid yang benar, pasti akan mengalami hambatan dalam perjalanannya, pasti akan diuji, pasti akan di benturkan oleh Allah SWT, dan itu pasti. Maka tidak heran para pendekar-pendekar tauhid pada hari ini sebagian sudah ada yang mendahului kita dan sebagin lainnya berada di balik terali-terali besi. Itulah harga tauhid, tebusannya seperti itu. Jadi jangan pernah bermimpi kita berislam yang baik dan benar itu akan aman.

Kalau ada pemahaman seperti itu tolong berikan dalillnya, bahwa ada orang yang bertauhid dengan baik dan benar, melaksanakan Islam sesuai dengan tuntutan Rasulullah, akan aman, nyaman, nikmat, dalilnya mana? Coba cari dalilnya dari zaman Nabi, sahabat kebawah, pasti tidak ada. Maka itulah kita harus berusaha dengan memahami tauhid yang benar, nanti jika sekali waktu Allah SWT menguji kita, kita tidak lagi menjadi kaget, kaerna kita sudah tahu akan begini resikonya kalau bertauhid yang benar.

Kemudian kita akan melanjutkan pembahasan yang ke tiga kemarin, yaitu khabul (menerima). Yaitu menerima apa yang menjadi tuntutan-tuntutan dan kewajiban-kewajiban dari kalimat tauhid, dia menerima baik dengan hati maupun dengan lisannya. Seperti yang kita ketahui syarat syahadat yang pertama adalah ilmu, kemudian yang kedua yakin, dan yang ketiga dia menerima, karena belum tentu orang berilmu dan yakin itu dia akan menerima.

Jadi menerima di sini adalah, menerima apa yang ditetapkan atau diwajibkan oleh kalimat ini baik itu dengan hati maupun dengan lisannya. Dia terima bahwa Islam ini merupakan ajaran yang benar, semua perintah Allah itu pasti benar adanya. Dia menerima setelah dia paham , dia menerima kenyataan bahwa semua perintah Allah itu benar, dan dia terima dengan hatinya maupun dengan ucapannya.

Contohnya, ada orang mengatakan, saya belum mampu melaksanakan haji, tidak apa-apa, yang penting dia tahu bahwa melaksanakan haji itu wajib hukumnya, bagi orang yang mampu. Saya belum bisa berzakat, tidak apa-apa, sepanjang dia yakin bahwa berzakat itu adalah kewajiban. Saya belum bisa melaksanakan shalat-sholat sunnah, tidak apa-apa, sepanjang dia yakin bahwa Allah menetapkan minimal sehari semalam shalat fardhu itu ada lima kali. Jadi pelaksanaan-pelaksanaan amal di dalam Islam itu nilainya mastato’tum, menurut kemampuan yang ada.

Makanya Al-Qur’an itu turunnya secara bertahap, dan Allah maha tahu itu. Contohnya ketika Allah SWT mengharamkan khamar, khamar itu tidak langsung diharamkan oleh Allah SWT.  Bahwa sahabat-sahabat Rasulullah yang sudah berhijrah dan tinggal di Madinah sudah tahu tentang perintah-perintah shalat, sudah tahu perintah-perintah yang lainnya, tetapi sebahagian dari mereka masih minum khamar. Karena kebiasaannya disaat itu adalah seperti itu, jadi Allah tidak langsung menurunkan ayat yang mengharamkan khamar, tetapi turun secara bertahap, bahkan sampai tiga kali baru Allah mengatakan “Innamalkhomaru wal maisyir” bahwa sesungguhnya khammar itu adalah haram.

Jadi ada tiga kali tahapannya, tahapan yang pertama yaitu “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk”. Ketika ayat ini turun, jadi menjelang waktu-waktu shalat itu tidak berani mereka minum khamar, tetapi ketika selesai shalat mereka minum lagi, karena memang kebiasaannya dan Allah maha tau tentang itu, tiga kali dalam beberapa waktu itu baru diharamkan. Nah itu artinya pada pelaksanaan hukum atau aturan itu menurut dengan kemampuan. Contoh yang lain bahwa pelaksanaan amal itu mastatho’tum, hari ini banyak orang entah belum paham atau bagaimana saya juga tidak tahu.

Di dalam Al-Quran itu syarat dengan perintah, bukan hanya perintah untuk shalat saja, tetapi syarat akan perintah. Kalau Al-Quran hanya  untuk membicarakan masalah shalat, zakat, haji saja, cukup dengan sepuluh lembar saja isinya, tetapi Al-Quran itu sangat tebal isinya dan dipenuhi dengan tuntunan, perintah-perintah di dalam surat yang banyak. Contohnya, bagi orang yang mencuri baik itu laki-laki atau wanita maka potonglah kedua tangannya sebagai hukuman dari Allah. Itu ayat dia yakin dengan kebenaran ayat ini, walaupun dia belum mampu melaksanakannya.

Orang yang berzina disuruh untuk dirajam oleh Allah, dia yakin tentang kebenaran ayat itu, menerima dia bahwa itu benar walaupun belum mampu mengerjakannya, tapi tidak dengan orang hari ini, mereka semuanya menolak. shalat dia kerjakan, puasa juga dikerjakan, tetapi hukum-hukum yang tadi dia menolak, tidak bisa katanya. Nah ini mereka sudah menolak, kita tidak bisa menetapkan aturan itu, kondisinya lain, dulu zaman onta katanya, sekarang sudah zaman pesawat, sudah zaman internet. Tidak bisa kita mengikuti atauran-aturan itu, tetapi kita harus mengikuti undang-undang yang modern ini.

Nah yang tadi yang menolak aturan-aturan itu adalah orang-orang yang sudah kelewat pintarnya, kadang karena kepanjangan gelarnya sehingga menjadi bingung kemudian menolak ayat-ayat Allah. Kita menolak satu ayat saja sudah dikatakan kafir, mending dia katakan itu benar, tetapi kita belum mampu, itu bagus, sambil berusaha bagaimana suatu waktu nanti mampu untuk melaksanakannya. Jadi ada usaha, ini tidak ada usaha, tetapi sudah optimis tidak bias di tegakkan.

Coba hari ini orang diajak untuk melaksanakan syariat Allah, masa dari dulu sampai hari ini perintahnya shalat, puasa, zakat, haji, sampai kita tua bongkok mati, masa cuman itu saja perintah yang dikerjakan. Kapan kita melaksanakan aturan Allah yang lain, sudah duluan apriori, duluan alergi. itu tidak bisa, ini sudah paten, harga mati, jadi tidak bisa kita begitu. Misalnya kita ingatkan, ini syariat Allah pak, kita harus taat, ya betul syariat Allah, tapi tidak bisa, ditolak, alasannya tidak cocok karena sekarang zaman modern.

Karena  pintarnya, dia menolak aturan atau syariat Allah, biasanya orang seperti itu pendidikannya di luar negeri, belajar Islamnya di Inggris, ada yang di Prancis, akhirnya pulang-pulang bawa Islam yang ngawur, dan fatalnya diangkat jadi dosen-dosen di perguruan tinggi, akhirnya muridnya bingung sama dengan dosennya. Ketika diberi Islam yang benar, dia kaget karena baru dengar karena memang tidak pernah diajarkan oleh dosennya.

Nah hari ini saking sombongnya orang ini mereka berani menolak syariat Allah, dengan congkaknya, padahal dimanapun bumi Allah itu berada di situ wajib ditegakkan syariat Allah, dimanapun. Jadi bukan hanya di Indonesia saja, di manapun bumi Allah, syariat Allah itu harus tegak di atasnya. Karena tugas kita ini di samping sebagai hamba Allah, juga sebagai khalifah, wakil Allah di muka bumi yang tugasnya memakmurkan bumi Allah dengan aturan Allah, itu tugas kita, tapi sayang orang-orang yang pintar kebelinger ini berani menolak.

Dan ada yang bilang lagi, kalau dipotong tangannya berarti banyak orang yang tumpul tangannya, di jalan-jalan banyak orang yang tumpul tangannya, itu bodohnya dia. Nah orang yang katakan begini, ya orang yang pintar-pintar tadi, padahal satu orang yang dipotong tangannya seribu orang yang diselamatkan, bahkan berjuta-juta orang selamat, siapa coba yang mau tangannya tumpul. Dilihat sama orang, kenapa tangannya tumpul? oh itu gara-gara maling. Tapi karena kelewat pintarnya dia menganggap tidak cocok, itu cocoknya dulu zaman unta sekarang zaman internet, tidak bisa.

Jadi imannya orang-orang intelektual itu adalah iman khusus, iman klasik namanya, kalau iman orang yang mau mengikuti syariat Allah itu adalah seolah-olah imannya itu kelas ekonomi, kalau mereka itu imannya kelas vip, tapi yang diikuti adalah orang kafir yang tidak cuci berak dan kencing, itulah yang jadi panduan mereka. Dia mengucapkan teori orang-orang kafir itu hebat. Berkata Samuel Hantington katanya, tapi kita tidak pernah mendengar mereka mengatakan berkata Rasulullah, Allah SWT berkata, hampir nggak ada. Baru ngomong pertama bukan ayat yang dibaca duluan, tetapi Samuel Hantington.

Coba lihat, ini bukan mengecam, anda-anda yang ikut ke Mesir akan mendengarkannya sendiri, ini bukan dikarang-karang. Benar kata Rasulullah “Nanti di akhir zaman orang-orang akan melihat manusia itu akan takjub dengan pendapat-pendapat si anulah, si itulah. Pendapat-pendapat ini bukan pendapatnya imam Syafii, tetapi pendapatnya orang kafir. Masih mending kalau pendapatnya imam Syafi’i, imam Malik, ini pendapat orang kafir, satu persatu dihafal. Akhirnya apa? otaknya isinya itu pendapatnya orang kafir semua, sehingga kalau kemana-mana yang keluar pendapat-pendapat kafir yang menyesatkan. Nah kalau diingatkan, pak itu salah, kalau berislam itu harus taat pada aturan, lalu mereka menjawab, iya itu Islamnya kamu.

Ini  diterangkan oleh Allah di dalam surat Al-Baqarah ayat ke 13:

Artinya:

Dan apabila dikatakan kepada mereka,”berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman, mereka menjawab “Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman? Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal, tetapi mereka tidak tahu.”

Dari ayat di atas, mereka mengatakan “Apakah kami disuruh beriman seperti imannya orang-orang  yang bodoh-bodoh itu, masa kami yang intelektual-intelektual ini disuruh beriman seperti orang yang celananya yang kebanjiran dan berjenggot itu, nggak bisa, lain iman kami pak, kami ini modern, zaman ini sudah berubah”. Orang yang ingin menegakkan Islam, mengikuti ayat dikatakan bodoh, persis dikatakan oleh Allah dalam surat Al-Baqarah ayat ke 13. Ini artinya kalau tadi syarat syahadat yang ketiga itu khobul (menerima), lawan dari menerima itu apa? menolak, seperti yang telah dijelaskan diatas di dalam surat Al-Baqarah ayat 13.

Tapi betapa hari ini, nyata saya katakan, ada yang melecehkan cadar, ada yang tidak mau dikasih ijazah dan sertifikasi kalau pakai cadar, harus buka dulu cadarnya baru dikasih, tidak boleh. Coba lihat itu, inikan satu bentuk penentangan, dia tidak mau menerima, dan malah menolak. Maka orang-orang yang seperti itu juga Allah gambarkan di dalam surat As-Saffat ayat 35-37.

 

Artinya

Sungguh, dahulu apabila dikatakan kepada mereka, laa ilahaillah (tidak ada illah selain Allah) mereka menyombongkan diri.

Dan mereka berkata apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila.

Padahal Muhammad datang membawa kebenaran dan membenarkan Rasul-Rasul sebelumnya”.

Dari ayat tersebut dapat dijelaskan, apabila dikatakan kepada mereka ucapkanlah Laailahaillah, maka mereka menyombongkan diri, mereka ketika diajak ke tauhid yang benar, mereka nggak mau, diajak ke Islam yang benar, mereka nggak mau. Nah orang-orang yang hebat tadi itu, mereka merasa mengikuti kebenaran versinya Allah dan rasul itu ketinggalan zaman, maka mereka punya kebenaran versi sendiri. Karena sekarang ini ada Islam yang taat pada bingkainya Islam, yaitu bingkai NKRI. Jadi Islam itu dibingkai, Islam harus mengikuti ini. Jadi kalau tidak cocok dengan bingkai itu ya nggak boleh.

Jadi Islam, aturan Allah itu harus disesuaikan dengan sikondi (situasi, kondisi, dan domisili), nggak cocok, nggak boleh, memang benar, tapi nggak cocok. Karena ini majemuk katanya, ini kesannya indah tapi sangat menyesatkan. Kita ini majemuk, pluralisme katanya, jadi dia duluan bela majemuk, duluan bela pluralisme daripada membela dan mengusahakan bagaimana syariat Allah ini ditegakkan. Dia bela itu yang majemuk-majemuk, padahal hanya beberapa gelintir, cuman sedikit saja. Kok tega-teganya dia bela yang sedikit mengorbankan aqidah, mengorbankan mayoritas, kan aneh.

Nah begitulah tingkah orang pada hari ini, karena tidak paham tauhid yang benar, sementara ilmunya tinggi, dihormati oleh orang, gelarnya panjang, punya kedudukan yang tinggi. Inilah yang membuat kita heran. Kalau orang kafir menentang syariat Islam, ya wajar, justru yang nggak wajar ada orang kafir yang suka dengan syariat Islam. Tapi ini ada orang Islam, lahir Islam, telinganya diazanin, diaqiqahin, besarnya Islam, tapi kelakuannya seperti orang-orang yang anti Islam, ini kenyataan.

Anda pernah tahu ada tujuh keajaiban dunia, diantaranya Borobudur, Tajmahal, Menara eivel, tembok Cina, Ka’bah, Piramida, Menara pisa. Dan sekarang ini keajaiban dunia itu sudah menjadi delapan. Yang ke delapan yaitu orang Islam, lahirnya Islam, namanya Islam, bapak ibunya Islam, hajinya berkali-kali, tapi anti syariat Islam, itulah keajaiban dunia yang ke delapan. Aneh, setanpun bisa  tertawa kalau tahu ada orang Islam tidak suka syariat Islam. Maka ditetapkan oleh syahadat yang ketiga ini adalah menerima.  Orang-orang yang dulu kalau diajak pada tauhid yang benar, mereka menolak, bahkan mereka mengatakan “Apakah kami harus meninggalkan illah-illah kami, sembahan-sembahan kami dan mengikuti Muhammad yang gila itu”. Jadi orang yang mengajak pada tauhid dianggap gila, persis seperti kita pada saat sekarang ini.

Hari ini orang-orang yang bertauhid ditertawakan oleh orang-orang, kalau Allah mau tidak ada yang mustahil bagi Allah. Contohnya di Jakarta kemarin, baru tiga hari saja hujan, banjir sudah menggenan, orang-orang sudah pontang panting. Bagaimana kalau hujan satu minggu nggak berhenti, bisa tenggelam Jakarta. Istana-istana tenggelam, mati semua orang, cari satpam dimanapun yang bisa menolong, dan satpamnya juga mengapug di atas air. Sedangkan  kita mau menyombongkan diri, kalau Allah mau menyiksa kita itu gampang.

Jadi hati-hati, tinggal di bumi Allah ini jangan sampai berani menolak syariat Allah, mending kita mengatakan ini benar tapi kita belum bisa, sekarang bagaimana caranya supaya bisa, untuk anda sekalian ini, yakin bahwa syariat Allah itu benar. Adapun yang belum bisa itu masalah lain, laksanakan saja yang bisa. Mestinya orang-orang yang punya jabatan itu, oh ini belum bisa. Jangan paksa yang nggak bisa, laksanakan dan perjuangkan apa yang bisa, ada usaha namanya, jadi laksanakan yang kecil-kecil dulu.

Ini ketika diajak untuk berislam dengan benar,  bayangannya langsung potong tangan, dirajam, ya nggak kesana dulu lah, yang kecil-kecil dulu, bertahap, tapi jangan sampai menolak, maka syarat sahadat yang ketiga adalah menerima apa yang diwajibkan dan apa yang menjadi tuntutan-tuntutannya, diterima bukan ditolak.

4. Takluk dan berserah diri.

Takluk dan berserah diri terhadap segala apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasulnya. Apa arti Islam? “Muslim aslamna” artinya berserah diri. Berserah diri untuk apa? rela diatur dengan aturan Allah. Jadi orang yang muslim itu mestinya dia itu rela diatur oleh Islam, dan dia menyerahkan diri sepenuhnya untuk menerima Islam dan diatur oleh syariat Islam. Maka dakwah Rasulullah pada saat itu, “Aslim, taslam” yang artinya Islamlah kamu, serahkan dirimu kepada Allah, taatlah kepada Allah, maka selamat kamu.

Syarat syahadat yang keempat yaitu takluk dan berserah diri kepada apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasulnya, dia tidak ngeyel, tidak ada ganjalan dalam hatinya terhadap ketentuan Allah, tidak ada kata tapi. Orang sekarang ini manis di depannya, giliran di belakangnya tidak enak, dia bicara, wah  ini bagus ini, harus di laksanakan, tapi dia menolak yang bagus-bagus itu. Jadi harus takluk dan menyerahkan diri.

Dalilnya terdapat dalam surat An-Nissa ayat 65:

Artinya:

“Maka demi Robbmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”(QS. An-Nisa: 65)

Dalam ayat ini Allah bersumpah dengan dirinya, biasanya kalau dalam ayat-ayat yang lain Allah bersumpah dengan makhluk ciptaannya sendiri, seperti wallaili, waduha, wassyamsi, walfajri, wal asyri. Tetapi dalam ayat ini Allah bersumpah dengan dirinya sendiri, “Falaa warabbuka”, Maka demi Robbmu, tidaklah seseorang itu dianggap beriman diantara kalian, sehingga mereka menjadikan Muhammad itu sebagai pemutus terhadap semua permasalahan, dan terhadap keputusan yang diberikan oleh muhammad itu dia menerima dan tidak ada keberatan sedikitpun di dalam hatinya”.

Ada dua asbab turunnya ayat ini, yaitu yang pertama ketika Zubair  bin Awwam berselisih tentang masalah air yang akan dialiri kesawahnya dengan sawahnya orang Anshor (orang Madinah). Akhirnya Rasulullah menengahi, kemudian memutuskan bahwa alirkan dulu ketempatmu Zubair, setelah selesai baru alirkan ketempat temanmu ini. Sahabat Anshor ini merasa terhadap keputusan Rasulullah itu tidak adil, tidak rela dia. Dia mengatakan, kerena Zubair itu anak pamanmu maka engkau memenangkan Zubair dan engkau mendahulukannya, maka merah muka Rasulullah, dan turunlah ayat ini.

Nah hari ini apa yang menjadi keputusan, jangankan hukum yang besar-besar, hukum yang kecil-kecil saja jarang yang mengikuti dan melaksanakannya. Seperti contohnya, Nabi perintahkan untuk pelihara jenggot, menyuruh untuk berbeda dengan orang-orang yahudi. Panjangkan jenggot dan pendekkan kumis. Ketika kita memanjangkan jenggot saja, itu sudah di bunyi-bunyi sama orang -orang, nggak boleh, kalau di kantor itu kotor, nggak bersih katanya, jadi nggak mau pake jenggot.

Di Turki dulu begitu, ketika Mustafa Kemal menang, seluruh orang yang berjenggot dipangkas semua jenggotnya, nggak boleh berjenggot. Syukur-syukur di Indonesia belum seperti itu, di Indonesia paling hanya dikata-katain guru jenggot. Dan yang aneh, ini yang kata-katain seperti itu malah mereka mengaku sebagai cucu Nabi, ini cucu Nabi kurangajar. Mereka mengata-ngatain orang yang berjenggot, padahal yang menyuruh panjangkan jenggot itu adalah Nabi. Nah ayat ini turun berkenaan dengan itu.

Download Mp3 Disini

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s