.::KAJIAN KE SEPULUH: Syarat Syahadat 2::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim

Pada kesempatan ini kita akan melanjutkan pembahasan kita mengenai syarat syahadat yang ke dua yaitu yakin. Yakin adalah yang menghilangkan keragu-raguan. Jadi yang pertama ilmu, kemudian yang kedua yakin. Jadi tidak cukup seseorang itu hanya mengilmui tentang syahadat, tetapi dia harus meyakini juga, yakin, yang dengan yakin itu akan menghilangkan keragu-raguan.
Dalilnya, surat Al-Hujurat ayat 15:

Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya dijalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”(QS. Al-Hujrat:15)

Hanya saja yang disebut orang yang beriman itu adalah orang yang beriman kepada Allah dan kepada Rasulnya, kemudian dia tidak ragu-ragu dengan keimanannya, tidak ragu-ragu dengan kebenaran yang dia pegang, mantap imannya, tidak diiringi dengan keraguan. Kemudian sifat selanjutnya selain tidak ragu, jadi orang yang dikatakan orang yang beriman yaitu, mereka yang beriman kepada Allah, beriman kepada Rasul, serta tidak ragu-ragu. Kemudian mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah SWT.

Kadang-kadang orang baru dengar jihad, “Wah bahaya ini,dan bahagia, lantas bagaimana kalau tidak mau di bahagia, apa mau di hapus ayat ini. Ya Allah saya keberatan jihad ini, kalau bisa dihapus saja ya Allah, laksanakan shalat saja lah”. Kan ada orang sekarang ini, kalau bicara shalat kepalanya diangkat, giliran keras sedikit, apalagi bicara jihad, mulai dia, tidur. Lha kok bisa takut sih, ini ayat Allah, ini baru bicara, belum pergi berjihad, kalau bicara saja sudah takut, bagaimana kalau pergi berjihad.

Dikatakan ciri orang yang beriman di sini, selain tidak ragu-ragu adalah berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwannya, mereka itulah orang yang benar. Jadi kalau orang tidak berjihad tidak benar imannya, nggak ngomong jihad ya nggak benar. Orang jihad itu syariat Allah, hanya saja jihad itu konteksnya bagaimana, kapan harus jihad, kepada siapa kita berjihad, siapa yang harus kita berjihad dengannya, bagaimana adab berjihad, itu ada aturannya. Orang itu baru bisa berjihad apa yang harus dipersiapkannya, siapa musuhnya, dan ada aturan-aturannya, itu semua ada ilmunya.

Jadi dalil dari pada yakin inilah ayatnya, yaitu surah Al-Hujurat ayat 15. Iman kepada Allah, iman kepada Rasul, kemudian tidak ragu, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya, mereka itulah orang-orang yang benar. Jadi kalau orang bicara jihad saja tidak mau, apalagi mau pergi berjihad, bagaimana bisa dikatakan sudah benar imannya. Di akhir ayat ini Allah katakan mereka itulah orang-orang yang benar. Bagaimana orang itu bisa dikatakan benar, kalau baru bicara jihad saja wah bahaya itu, bahaya bagaimana, ya tidak benar tentunya, berdasarkan ayat ini.

Jadi kalau orang alergi dengar jihad saja “Sedikit-dikit ngomong jihad” ya protes sama Allah, Ya Allah jangan bicara jihad, bicara saja sholat, bicara puasa saja ya Allah. Di dalam ayat ini jelas, ciri orang beriman itu salah satunya adalah berjihad dengan harta dan jiwanya, mereka itulah orang-orang yang benar. Itu dalil dari ayatnya.

Kemudian dalil haditsnya, berdasarkan hadits Abu Hurairah ra, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Saya (Muhammad) bersaksi tiada illah selain Allah SWT dan saya (Muhammad SAW) adalah Rasul Allah. Tidaklah seseorang memberikan kesaksian yang demikian itu kemudian dia tidak ragu terhadap kesaksiannya itu, kecuali dia akan bertemu dengan Allah dalam keadaan akan masuk surga”. Jadi kesaksiannya mantap, dan dia tidak ragu dengan kalimat Lailahaillallah.

Maka Laailaahaillallah ini yang menentukan, sangat menentukan. Alangkah ruginya orang yang tidak paham syahadat, alangkah ruginya. Makanya saya katakan kemarin, ada ulama yang mengatakan “Apa bedanya orang yang bersyahadat, tetapi tidak tahu maknanya, dengan burung beo”. Burung beo juga bisa ucap syahadat, tapi tahukah burung beo maknanya syahadat? nggak tahu dia. Lantas apa bedanya dengan orang yang mengucapkan syahadat tetapi tidak tahu maknanya?

Berdasarkan hadits ini, Rasul mengatakan, “Siapa saja yang yakin dengan persaksian dua kalimat ini, yaitu kalimat syahadat ini, kemudian dia tidak ragu dengan persaksian itu, niscaya dia nanti akan bertemu dengan Allah dalam keadaan pasti masuk surga”. Tentunya syahadat yang bukan hanya ucapan, tetapi syahadat yang disertai dengan amalan. Apa itu Laailaahaillallah, setelah dia tahu kemudian dia amalkan. Dia paham apa itu tuntutan-tuntutannya, kemudian diamalkan, dan dia juga tahu apa pembatal-pembatal daripada Laailaahaillallah itu.

Maka anggapan orang hari ini, itu enak sekali, siapa yang bersyahadat pasti akan masuk surga. Nah inilah anggapan umum. Kalau hanya sekedar mengucapkan, kemudian dipahami saja, tanpa ada keyakinan tentang kebenaran kalimat tersebut, ma’af-ma’af, apa bedanya dengan seorang Snouk khorgrounje. Siapa itu Snouk horgrounje? seorang jenius yang didatangkan khusus oleh pemerintah Hindia Belanda untuk ditugaskan di Aceh.

Kenapa ditugaskan di Aceh? Karen orangi Aceh itu kuat islamnya, sedangkan hampir semua kerajaan-kerajaan Islam di Jawa sudah ditaklukan oleh Belanda, kecuali hanya satu kerajaan di aceh yang tidak bisa ditaklukkan. Bahkan ada bait-bait syair Tengku Umar dan Cut Nyak Dien, syair-syair yang membakar semangat jihad di Aceh ketika melawan Belanda. Berkali-kali dicoba oleh Belanda, sedangkan kerajaan yang lain sudah takluk, hanya tinggal Aceh saja.

Tiga kali pasukan elit Belanda yang namanya Marsose tapi gagal terus. Kalau sekarang ini. Maka akhirnya diutuslah, dipilihlah seorang yang otaknya encer, Dr Christian Snouk horgrounje. Dia disekolahkan di Makkah selama 23 tahun, ini perlu diketahui. Setelah sekolah di sana, pulang-pulang bahasa arabnya lancar seperti air, jenggotnya panjang dan kemudian dia menikah dengan wanita Aceh dan merubah namanya menjadi Abdul Gaffar, kemudian mendapat gelar di depannya, Kiai Abdul Ghoffar.

Ia menikah dengan orang di Aceh, jadi ulama besar, bahasa arabnya seperti air, hadits-hadits banyak dihafal. Akhirnya apa? Dia memberikan ilmu, tetapi ilmu yang tidak benar, ilmu yang menyesatkan, ilmu yang membuat orang itu juhub, beku. Dia mengatakan, umat Islam itu harus di masjid terus, banyak berzikir, tidak usah mengurus perkara-perkara yang lain. Dunia nggak usah diurus, urusan-urusan politik sudah ada yang mengurus. Akhirnya umat Islam termakan oleh tipu daya tersebut, jadinya manusia pada saat itu kerjaannya dari rumah ke masjid saja. Akhirnya ekonomi dikuasai oleh Belanda, dan politik dimenangkan oleh Belanda, serta Belanda berhasil menguasai Aceh.

Begitu juga, ini saya bicara sejarah, ma’af-ma’af inilah perlunya kita mencari tahu. Ada seorang gubernur di Jawa timur yang bernama Vander Vlash, bahasa arabnya luar biasa. Kalau dia ceramah, konon kabarnya, ngomongnya pakai bahasa Arab, sehingga banyak kiyai-kiyai yang takluk, banyak yang percaya dan hormat kepadanya. Tapi Islam yang dibawa itu Islam yang menyesatkan mereka, bukan Islam yang sebenarnya. Kenapa demikian? karena tidak ada keyakinan terhadap Islam di dalam hatinya, sedikitpun tidak ada keyakinan. Ini politik yang di tempuh saat itu, ini harus kita ketahui, akhirnya umat Islam tertipu.

Nah, maa’-maaf di zaman kita sekarangpun, yang ditempuh sekarang ini oleh musuh-musuh Islam, itu kerjanya intelijen sekarang, yang dengan cara seperti itu. Dia berjenggot, berjubah, orang sholat dia ikut sholat, tapi dia sholatnya bukan Lillaahi ta’ala. Ada sesuatu yang dicari, ada sesuatu yang diinginkan. Ini kenyataan, jadi hati-hati saya ingatkan, jangan mudah percaya dengan panjangnya jenggot orang itu. Dia itu belajar khususnya lama, dipelajari bagaimana sholatnya, ini cara yang mereka tempuh, dan dengan cara ini mereka berhasil. Dan orang yang tidak ada ilmunya mereka mengatakan, oh itu ikhwan, apalagi sudah dikasih fulhus, telah dikasih laptop, hp, berangkat wassalam sudah.

Ini yang terjadi, jadi orang kalau tidak hati-hati nanti bias tertipu, itu cara orang Belanda yang di tempuh lagi sekarang. Bahkan dulu ada majelis mujahidin namanya di Jogjakarta. Salah satu tokohnya ketika itu, dia orang aktivis haroqah, orang pergerakan. Semua orang tidak ada yang menyangka, ustadz senior di Jakarta, namanya Abdul Harits, alumni Saudi. Tapi apa akhirnya, ternyata Allah rupanya berkehendak memperlihatkan kebohongan dari pada dia. Akhirnya apa? ada yang menemukan senjata di dalam tasnya, selidik punya selidik, ternyata benar di dalam tasnya ada senjata.
Ternyata dia adalah orang intelijen, dan setelah kebongkar data detailnya, ternyata dia disekolahkan di Saudi Arabia beberapa tahun lamanya, dibiayai. Yang begitu, karena jelas dia tidak yakin, itu tidak ada keyakinan yang mantap di dalam hatinya. Ini hati-hati para aktifis. Dan begitu juga kasus lainnya. Jadi pernah ketangkap, sepasang laki-laki dan wanita di masukkan di pondok pesantren, sekolah beberapa lama. Ternyata apa? pada suatu hari dia sakit. Si wania ini terkenal, bahkan di dalam kamar pun dia tidak mau buka bajunya.

Pada suatu hari si wanita yang terkenal sangat sopan ini, seolah-olah sangat rapat terhadap auratnya ini. Ketika dia sakit dan dalam keadaan tidak sadar, ketahuan ternyata kalung yang di pakainya itu salib kecil. Setelah diinterogasi, dia mengaku ternyata dia itu tidak sendiri, ada lagi yang laki. Jadi hati-hati, biasanya yang begitu disusupkan pada pergerakan-pergerakan yang dianggap keras, ekstrem. Tapi yang hanya bicara shalat saja itu tidak apa-apa, tidak ada masalah.

Tapi kalau sudah mulai bicara daulah, khilafah, syari’ah, nah itu rawan sekali. Kita jangan sampai tertipu dengan hal-hal tersebut. Banyak orang yang mula-mula karena tidak ada keyakinannya, mereka menampilkan keimanannya atau keislamannya. Maka jauh-jauh hari Rasulullah SAW mengingatkan. Pada suatu hari nanti ada model manusia yang mengajak atau menyeru ke pintu neraka jahannam, da’i-da’i yang menyeru ke pintu jahannam. Dan siapa yang mengikutinya akan dimasukkan ke neraka jahannam. Kemudian para sahabat bertanya, beritahu kepada kami apa ciri-cirinya atau sifat-sifatnya ya Rasulullah, supaya kami tidak tertipu. Ini hadisnya panjang.

Kata Rasulullah, “Nanti di akhir zaman akan muncul penipu-penipu, penyeru-penyeru, yang akan memasukkan orang ke neraka jahannam, dan apabila kalian mengikuti akan masuk juga ke neraka jahannam. Dan para sahabat kaget kemudian berkata, apakah ada orang seperti itu ya Rasulullah? dan Rasulullah pun menjawab, ada. Kulitnya sama seperti kulit kita ini, dia piara jenggot juga, dan mereka juga bicara seperti bicara kita. Mereka bicara ayat dan hadits, tapi ayat dan hadis yang mereka bicarakan itu mereka belokkan dan tidak sebagaimana kehendak Allah dan Rasul,”Itu dalam rangka apa? Menjadikan umat islam itu rusak. Jadi hati hati.

3. Menerima.
Menerima apa-apa yang ditetapkan dan diwajibkan oleh kalimat tersebut dengan hati dan lisannya. Jadi orang itu tidak hanya cukup hanya dengan berilmu, tidak cukup dengan yakin, kemudian dia juga dituntut untuk menerima. Karena berilmu saja, yakin saja tetapi belum tentu dia menerima. Maka syarat syahadat yang ketiga yaitu menerima apa yang menjadi tuntutan dan kewajiban dari kalimat tersebut dengan hati dan lisannya.

Dalilnya Qur’an surat Az-zukhruf ayat 23-25.

Artinya:
“Dan demikian juga, ketika kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah di negeri itu selalu berkata, “sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami sekadar pengikut jejak-jejak mereka”.

Rasul itu berkata,”Apakah kamu akan mengikutinya juga sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih baik daripada apa yang kamu peroleh dari (agama) yang dianut nenek moyangmu.”Mereka menjawab,”Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diperintahkan untuk menyampaikannya.”

“Lalu kami binasakan mereka, maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan kebenaran.” (QS: Az-zukhruf: 23-25)

Jadi dalam ayat ini, Allah Subhanahu Wata’ala memberi tahu Rasulullah bahwa sebelum Rasulullah diutus, Allah SWT telah mengutus rasul-rasul sebelumnya di suatu negeri. Maka penduduk-penduduk di negeri tersebut kebanyakan dari kalangan orang-orang yang berkehidupan mewah. Maka orang-orang yang berkehidupan mewah, maksudnya adalah para pejabat, kaum elit. Ketika Rasul itu diutus di suaru negeri itu, orang-orang elit, pejabatnya ini berkata kepada utusan itu, “Kami mendapati bahwa nenek moyang, pendahulu kami itu sudah punya aturan, sudah punya agama (Diin) dan kami ini tidak lain hanya meneruskan, melanjutkan aturan, diin yang telah ditetapkan oleh pendahulu kami, kami ini hanya melanjutkan.”

Jadi dia menolak kebenaran yang disampaikan oleh utusan Allah itu, dengan alasan pendahulu kami itu sudah memiliki satu aturan, satu diin, adapun kami sekarang ini hanya meneruskan apa yang dibawa oleh nenek moyang kami. Jadi kalau sekarang ini umpama di ajak kepada syari’at Islam. Marilah ta’at kepada syariat Islam, ia mengatakan “Oh tidak, soalnya pendahulu dari negeri ini sudah meletakkan satu aturan, yaitu hanacaraka. Tahu apa itu hanacararaka? Yaitu pancasila.

Pendahulu-pendahulu kami telah menetapkan aturan itu, kami hanya melanjutkan itu, tidak bisa yang lain. “Apakah kamu tetap akan mengikuti apa yang telah dibawa oleh pendahulu kamu, padahal itu sudah pasti bathil, sedangkan kami ini datang dengan membawa kebenaran. Akhirnya mereka mengaku, tidak, kami mengingkari terhadap apa yang kamu bawa, nggak mau, kami tidak mau menerima”. Diajak kepada Islam mereka tidak mau, siapa yang di ikuti? nenek moyangnya, pendahulu-peinndahulunya.

Nah ini ayat ini menunjukkan orang-orang yang ketika diajak kepada Islam, dia memilih mengikuti sistem hidup yang telah ditetapkan oleh pendahulunya. Dia mengatakan, kami ini hanya meneruskan apa yang ada, tidak bisa kami mengikuti kamu. Orang yang begitu itu jelas menolak. Dia boleh jadi tahu ilmunya, boleh jadi berislam dengan benar, tetapi hatinya tidak mau menerima, hatinya menolak. Maka sarat yang ketiga dari syahadat itu adalah menerima apa yang ditetapkan dan diwajibkan oleh dua kalimat syahadat.

Download mp3 Disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s