.::KAJIAN KE SEMBILAN: Syarat-Syarat Syahadat 1::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim

Kita akan melanjutkan pembahasan kita, kemarin kita sudah sampai membahas tentang rukun-rukun syahadat, yaitu yang berkenaan dengan apa hal-hal yang harus dinafikan dan apa-apa yang harus ditetapkan. Apa yang harus ditolak, dan apa yang harus dikokohkan. Maka dalam kesempatan ini kita akan melanjutkan kajian kita, dan kita akan membahas tentang sarat-sarat syahadat. Inipun saya yakin sebagian besar pembaca ini sudah paham, mungkin barangkali ada diantara sebagian yang belum paham, sehingga akan kita jelaskan kembali mengenai syarat-syarat syahadat.

Kita akan mengutip perkataan dari seorang ulama tabi’in yang bernama Wahab bin Munabbih, beliau berasal dari Yaman dan bertempat tinggal di suatu kota yang bernama San’ah. Wahab bin Munabbih ini dia pernah berguru pada beberapa orang sahabat yang ketika itu masih hidup, dan meriwayatkan beberapa hadits dari beberapa sahabat. Diantaranya yaitu Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abu Sa’id al Khudri. Wahab bin Munabbih ini lahir pada tahun 34 H dan meninggal pada tahun 110 H, jadi umur beliau 76 tahun.

Ketika Wahab bin Munabbih,  ditanya oleh seseorang “Wahai Wahab bin Munabbih, bukankah kalimat Laa ilaaha illallah itu merupakan kuncinya syurga? Maka dijawab oleh Wahab bin Munabbih, memang benar demikian, kalimat Laa ilaaha illallah itu adalah kuncinya syurga. Tetapi ketahuilah bahwa syurga itu tidak akan bisa terbuka pintu-pintunya kalau dimasuki oleh kunci yang tidak ada gigi-geriginya.

Yaa memang benar, kalau kita masukkan kunci yang sudah pada ompong, yaa nggak akan bisa. Gigi-gerigi daripada kunci itu adalah kalimat Laailaahaillallah, syarat. Jadi gigi-gerigi daripada kunci itu adalah syarat-syarat Laailaahaillallah, ini perlu diketahui. Begitulah kata Wahab bin Munabbih.
Adapun syarat-syarat laa ilaaha illallah kata wahabin munabbih yaitu :
1. Berilmu

Maknanya, berilmu mengetahui tentang apa hal-hal yang harus dikokohkan dan hal-hal yang harus dinafikan, dan berilmu tentang kalimat Laailaahaillallah. Jadi syarat syahadat yang pertama adalah berilmu. Tetapi apa yang harus dinafikkan dan apa yang harus diitsbatkan, nah ini perlu. Akibat orang-orang hari ini, maaf-maaf, akidahnya rusak amburadul karena mereka tidak mengilmui tentang kalimat Laailahaillallah. Dia tidak bisa mengamalkan syahadat dengan benar, karena dia tidak mempunyai ilmu tentang kalimat Laailahaillallah.

Orang belajar syarat shalat lengkap, syarat puasa, syarat haji, dibuat bukunya malah, dipelajari di sekolah-sekolah. Coba kalau kita bicara tentang ini, tentang syarat syahadat, rukun syahadat, hampir nggak pernah dibahas, padahal ini yang menetukan. Rasulullah saja berdakwah selama 13 tahun di Makkah, itu bukan bicara shalat, tapi bicara syahadat, menanamkan aqidah Laailaha illallah.

Jadi syarat pertama syahadat yaitu harus berilmu tentang Laailahaillallah, tiada illah selain Allah, itu pendapat dalam An-nafyu wal ishbat. Sudah kita sampaikan sebelumnya, diantaranya saya sudah sampaikan illah menurut Syekh Sayyid Sabiq yang paling tidak ada sepuluh itu. Kalau kita tahu ini, berilmu saja tentang illah yang sepuluh ini, dalam shalat saja terasa mantap ketika kita mengucapkan kalimat syahadat ini.

a. Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah SWT
b. Tidak ada yang berhak kita ibadahi, ditaati kecuali Allah SWT
c. Tiada yang berhak diagungkan kecuali Allah SWT
d.Tiada yang berhak kita cintai kecuali Allah SWT
e. Tiada yang dapat melindungi, menjamin keselamatan kecuali Allah SWT
f. Tiada raja, penguasa kecuali Allah SWT
g. Tiada yang menentramkan hati kecuali Allah SWT
h. Tiada yang berhak dipegang teguhi kecuali Allah SWT
i. Tiada yang berhak dipertuhankan kecuali Allah SWT
j. Tiada hukum, aturan kecuali hukum Allah SWT

Ini bila kita tahu, mantap kita bersyahadat itu. Bagaimana seseorang bisa mengamalkan syahadat dengan baik, ilmu tentang ini tidak dimiliki. Akibatnya maaf-maaf syahadatnya itu tidak ada bekasnya. Sampai-sampai ada ulama yang, maaf-maaf ini bukan saya, beliau menjelaskan tentang ini. Apa bedanya orang yang tidak mengetahui ucapan Laailahaillallah itu dengan burung beo. Burung beo kalau dilatih untuk mengucapkan kalimat Laailahaillallah, bisa dia. Tapi tahukah burung beo apa artinya Laailahaillallah? Tidak tahu dia.

Sampai ada ulama yang mengatakan seperti itu, apa bedanya orang yang mengucapkan Laailaahaillallah itu dengan burung beo? sedang burung beo itu juga bisa mengucapkan Laailaahaillallah. Ekstrim juga ulama ini mengambil perumpamaan, tapi memang benar.
Maka syarat syahadat yang pertama yaitu berilmu, mengetahui tentang kalimat Laailahaillallah.

Dalilnya diantaranya yaitu firman Allah dalam surat Muhammad ayat 19:

Artinya:

Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Illah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.(QS. Muhammad: 19)

Ayat ini menyuruh kita untuk berilmulah kita tentang Laailahaillallah.
Kemudian dalil yang kedua yaitu terdapat dalam surat Az-zukhruf ayat 86:

Artinya:

Dan orang-orang yang menyeru kepada selain Allah tidak mendapat syafaat (pertolongan di akhirat) kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini”. (QS. Az-Zukhruf: 86).

Selanjutnya dalil yang lainnya, yaitu terdapat dalam surat Ali-Imran ayat 18:

Artinya:
Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain dia, (demikian pula), para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada illah selain dia, yang maha kuasa, maha bijaksana”. (QS. Ali-Imran: 18)

Jadi ketiga ayat itu adalah dalil yang menjelaskan tentang syarat syahadat yang pertama, yaitu berilmu, harus mengilmui tentang kalimat Laailaahaillallah.
Kemudian dalil dari hadits, hadits ini hadits sohih riwayat imam Muslim yang diriwayatkan oleh Utsman bin Affan r.a. “Siapa yang mati dalam keadaan dia tahu tentang Laailahaillallah, tiada illah selain Allah maka wajib baginya masuk surga” (HR.Muslim)

Itu pentingnya berilmu.
Jadi ada tiga dalil dari ayat dan satu dalil dari hadits. Jadi syarat pertama menurut ulama tabi’in Wahab bin Munabbih daripada syahadat itu adalah berilmu.

2. Yakin

Yakin yang menghilangkan keragu-raguan, ini syarat kedua. Setelah orang itu berilmu, dia harus yakin. Tidak cukup dia berilmu saja, yakin tentang kebenaran kalimat Laailahaillallah dan yakin pula tentang tuntutan-tuntutan daripada kalimat Laailahaillallah. Ketika menjelaskan syarat yang kedua ini, Imam al-Jahabi memberikan komentar, “bahwa mengucapkan kalimat Laailahaillallah dengan lisan saja itu tidak cukup, kecuali harus disertai dengan keyakinan dalam hati”.

Jadi disamping orang itu sudah berilmu, dia harus yakin tentang kebenaran kalimat Laailahaillallah dan tuntutan-tuntutannya. Yang demikian ini bila mana ada orang yang mengucapkan dengan lisan sementara hatinya tidak yakin, sifat yang begini ini adalah sifat yang melenggangkan kemunafikan. Seorang yang munafik dulu begitu. Orang munafik di zaman Rasulullah juga begitu. Siapa bapaknya munafik? Abdullah bin Ubaih, dia sholat, di dalam sholat otomatis dia bersyahadat. Tapi itu semua tidak ada dalam hatinya, hanya ucapan lisannya saja. hatinya tidak membenarkan kebenaran.

Maka jika ada orang yang seperti ini, dia hanya mengucapkan dengan lisannya saja dan hatinya menolaknya, ya itulah munafik. Maka kata Imam al-Jahabi orang yang seperti itu melenggangkan sifat munafik. Kadang-kadang banyak di zaman kita ini ada orang yang meragukan kebenaran Al-Qur’an. Pernah dengar? Itu pakar-pakar intelektual yang sekolah di luar negeri, mereka mengatakan ini Al-Qur’an sudah tidak relevan dengan zaman, maka perlu aktualisasi Al-Qur’an.

Coba lihat, Islam dia itu, mengakui intelektual muslim, punya perkumpulan yang namanya paramadina, dia tidak yakin itu dengan Laailahaillallah, tidak yakin dengan kebenaran Al-Qur’an. Bahkan ada juga yang memprotes al-Qur’an, mereka mengatakan al-Qur’an ini nggak adil, tetutama dalam hukum waris, masa laki-laki mendapatkan dua bagian sedangkan yang perempuan dapat satu, nggak adil katanya. Itulah kurangajarnya, Allah disalahkan.

Masih banyak lagi orang-orang yang begitu, sehingga ada buku yang diterbitkan oleh mereka, jadi buku itu menuangkan konsep akal pikiran mereka. Yang adil menurut mereka, yang adil itu seperti ini, jadi Al-Qur’an itu disesuaikan dengan otaknya mereka. Sampai ada yang mengatakan iblis itu masuk syurga, pernah dengar? dulu ada tokohnya. Akhirnya ketika dia sekarat, mukanya sudah hitam, nauzubillah. Qodarullah yang mendatangi dia mentalkinkan dia ketika itu adalah Ustadz Abu Jibril.

Orang ini adalah seorang tokoh yang berasal dari Jombang, titelnya Prof, dr. Jadi hati-hati dengan title, saya ingatkan jangan sampai tertipu dengan title. Kalau sekarangkan jadi kebanggaan,sangat bangga dengan title. Kadang-kadang di depan rumah ada yang dipasang nama, Drs, Msi, Bci, SH, MH, KH, PH, bangga dia. Tapi pahamkah dia tentang Islam? Belum tentu. Bayangkan orang sekarang yang buah pikirnya dieluk-elukan, diidam-idamkan, belajar Islam di kanada, di Toronto. Coba lihat, bukan belajar Islamnya di madinah, tapi di Toronto.

Akhirnya pulang-pulang nyeleneh, saya kalau pakai Islam itu sempit sama saya, nggak cocok. Ditawarkan konsep Islam, terlalu sempit untuk saya katanya. Coba lihat dia lebih hebat daripada Allah, dan  iblis masuk syurga katanya. Ketika dia sekarat ditalkimkan, mukanya hitam, subhanallah, ini bukan dongeng, jelas ini. Sebelum mati sudah diperlihatkan oleh Allah, Prof lagi itu, dan malah anak perempuannya nikah dengan orang Kristen Amerika.

Karena bapaknya ini pengusung paham pluralisme, jadi kata mereka yang benar itu bukan agama Islam saja. Anda jangan berani-berani mengatakan Islam saja yang benar, semua agama itu benar, kristen benar, hindu benar, budha benar, karena semua agama itu ada tuhannya, dan juga sama-sama mengajarkan budi pekerti. Karena sama-sama mempunyai tuhan dianggap benar, berarti tuhan itu bukan hanya Allah, dia mengakui ada tuhan yang lain, berarti Allah itu bukan hanya satu, jadi begitu mereka menganggapnya.

Semua agama itu sama katanya, anda nggak usah mempersoalkan hidup di negara pluralisme, semua agama sama, semua agama itu baik, karena semua agama itu mengajarkan budi pekerti. Ketika kita sekolah dulu ada pelajaran PMP atau sekarang PPKN, kita diajari toleransi, ibu guru kita mengatakan “Anak-anak semua agama itu sama, semua agama itu baik, karena semua agama itu mengajarkan budi pekerti”. Apa benar kalimat yang dikatakan oleh guru tadi? dulu kita nggak tahu, kita menganggapnya benar saja, karena pada saat itu kita masih kecil, kita benarin saja, kalau dibilang salah, kita dijewer oleh guru kita.

Setelah kita ngaji Islam dan tahu ternyata apa yang diucapkan oleh guru kita tadi adalah racun. Coba, semua agama sama, semua agama benar, karena ada bagian tertentu di dalam agama itu yang sama, sama-sama mengajarkan budi pekerti, jadi dianggap semuanya baik. Kalau begitu bikin saja permisalan, tanya pada ibu guru,”Ibu guru bebek kakinya dua, ayam kakinya dua, angsa kakinya dua, monyet kakinya dua,  ibu guru kakinya dua,  berarti bebek, ayam, angsa, monyet dan ibu guru sama”, apa terima kira-kira ibu guru dibilang kayak gitu? ditempeleng kita.

Karena bagian tertentu sama, jadi semua agama baik katanya, ini sudah syirik namanya. Sejak kecil syahadat sudah tidak diajarkan, malah syirik diajarkan, akibatnya seperti ini. Ketika kita mengajarkan syahadat, malah mereka mengatakan “Wah hati-hati, dulu kita nggak seperti itu, orang-orang yang baru ini saja, orang-orang yang berjenggot ini yang bikin kita repot, ini ajaran baru, bahaya ini, kita harus hati-hati”. Ya memang dulu tidak ada, karena dulu tidak diajarkan, karena guru-guru kita dibodohi oleh orang-orang yahudi. Yahudi yang memutar kita ini, karena orang yahudi itu lebih tahu Islam, mereka lebih kenal Islam, lebih paham Islam daripada orang Islam itu sendiri, hati-hati saya ingatkan.
Kembali pada syarat syahadat yang ke dua yaitu yakin, keyakinan yang harus menafikkan keragu-raguan. Dia tidak cukup mengucapkan saja kata Imam al-Jahabi tapi dia harus yakin. Bila seseorang menganggap cukup dengan ucapannya saja, dan dia tidak yakin dengan hatinya berarti dia melanggengkan sifat munafik. Nah orang munafik begitu, mulutnya berkata beriman, hatinya merah (busuk, musyrik), orang munafik begitu di depan orang Islam.

Dia mengaku Islam, ketemu orang-orang yang berjenggot, dia bisa menyesuaikan diri seperti bunglon. Ketemu orang berjenggot dia ngomongnya antum, ana, bicara sholat itu ikut saja, padahal hatinya nggak ada sama sekali. Mulutnya itu mengaku  menampilkan sosok orang yang beriman. Kalau ketemu orang yang beriman dia ikut beriman, pake kopiah ke masjid, tetapi di hatinya nggak ada, dia tujuannya apa? dia cuman ingin menampilkan sosok Islam dengan pengakuannya, padahal dia hendak menipu, karena apa? tidak ada dalam hatinya itu, tidak ada.

Kalau ketemu dengan orang yang beriman dia beriman, padahal dia hanya pura-pura saja. Tapi kalau ketemu dengan orang yang sama-sama setannya dengan dia, ya balik lagi. kata komandannya, “Hei kenapa kamu ke masjid, ah komandan kayak nggak tahu saja, saya kan pura-pura saja, sayakan hanya pura-pura dengan orang jengot itu, saya sama dengan bapak. Sayakan hendak menipu saja mereka itu, saya bergaul dengan mereka itu hanya untuk memperolok-olok mereka saja pak, kata komandannya bagus kamu”.  Nah itu munafik, yang diucapkan itu lain dengan hatinya.

Jadi syarat syahadat yang ke dua itu yakin, yakin dengan kebenaran kalimat Laailahaillallah, dan yakin dengan tuntutan-tuntutan kalimat Laailahaillallah, dia harus tahu dan dia harus yakin.

Download Mp3 disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s