.::KAJIAN KE DELAPAN: Rukun Syahadat 3::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim

Kita akan melanjutkan pembahasan kita, dan masih akan membahas rukun sahadat,yang kemarin yang harus kita tolak. Pada beberapa pertemuan kita, sudah membahas sampai pada poin yang ketiga, yaitu  Alihah, Arbab, dan Andad.

4. Thogut

Tentang thogut ini sudah kita bahas juga kemarin, beberapa arti ataupun makna thogut yang berbeda-beda tapi maksudnya sama, kandungannya sama. Beberapa ulama mendefinisikan thogut itu dengan perbedaan-perbedaan, tapi maksudnya sama. Bahwa thogut itu dari kata “Thogo” yang artinya melampaui batas. Sebagian ulama mengartikan yaitu sesuatu yang ditaati, diikuti dan disembah selain Allah dan dia rela, ridho dengan penyembahan itu, itu thogut.

Orang yang menyimpang dari kebenaran tetapi ditaati, diikuti oleh orang banyak, dan dia ridho, nah itulah thogut. Bahkan thogut ini dalam banyak ayat, karakter thogut ini bukan hanya minta ditaati begitu saja, tetapi dia memaksa untuk ditaati. Karena salah satu ulama mendefinisikan arti thogut itu seperti itu, dia memaksa untuk ditaati. Yang menyimpang dari kebenaran kemudian memaksa orang banyak untuk mentaati dirinya dan dia ridho ketika ditaati. Dan ini bisa kita lihat bagaimana thogut atau thogo ini dalam firman Allah dalam surah Al-fajr ayat 10:

Artinya:

Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak).

Firaun itu kata Allah dalam surat Al-Fajr ayat 10 mempunyai pasak-pasak yang banyak yang kalau kita periksa tafsir, pasak-pasak yang banyak ini disana diartikan mempunyai perbendaharaan berupa bangunan-bangunan, gedung-gedung yang megah, dan ada juga yang mengartikan pasak-pasak yang banyak itu mempunyai bala tentara yang banyak. Jadi fir’aun itu memiliki bala tentara yang banyak. Apa kerjaan Firaun? Firaun itu bagaimana perilakunya?  Firaun itu berbuat thogo. Apa arti dari thogo di sana? Thogo adalah berbuat sewenang-wenang.

Kerjaan Firaun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi ini, seenaknya sendiri, mana maunya dia. Ini bukan kata saya tapi ini kata ayat, kalau ada yang mau protes, silahkan protes sama ayat kalau ada yang keberatan. “Ya Allah, saya keberatan  dengan ayat ini, coret saja ya Allah”.  Kerjaan Firaun itu begitu, dia membuat kerusakan, merusak bukan memperbaiki, kerjaan firaun itu melampaui batas dan dia banyak membuat kerusakan di muka bumi ini. Akibatnya, maka Allah menurunkan atau kirimkan azab kepada Fir’aun. Itu Fir’aun.

Fir’aun itu symbol dari kesombongan, dia melampaui batas, thogo, maka siapapun yang mempunyai kriteria seperti itu berarti dia generasnyai Fir’aun, melampaui batas kebenaran. Membuat sewenang-wenang, kerjaannya merusak karena merasa kuat mempunyai kekuatan. Ini ayat ini yang mengatakan. Kemudian kelakuan Fir’aun yang lainnya adalah dia tidak mengijinkan orang untuk beribadah, ketika itu yang menyampaikan risalah yaitu Nabi Musa. Coba buka surat Asy-Syu’ara ayat 49:

Artinya

Dan (Fir’aun) berkata, mengapa kamu beriman kepada musa sebelum aku memberi izin kepadamu? sesungguhnya dia pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Nanti kamu pasti akan tahu (akibat perbuatanmu). Pasti akan ku potong tangan dan kakimu bersilang, dan sungguh, akan kusalib kamu semuanya”. (QS. As-Syuara: 49)

Fir’aun mengatakan pada bani israil, “Kenapa kamu berani beriman kepada musa, sebelum saya mengijinkan kamu”, ini kerjaannya Fir’aun. Orang yang mau beriman, nggak boleh, harus ada izin dulu dari dia, baru boleh. Ada SK dari Fir’aun dulu, baru boleh beriman dengan baik. Tidak boleh melakukan kebenaran, kalau tidak ada izin dari Fir’aun, nggak boleh. Jadi para pengikut bani israil yang beriman kepada Nabi Musa itu diadili oleh Fir’aun. Nah, kata-kata Fir’aun diabadikan oleh Allah, “Kenapa kamu berani beriman kepada musa sebelum ada izin dari saya?

Nah, hari ini, Fir’aun-Fir’aun di dunia itu mirip sekali. Tidak boleh kamu memberlakukan kebenaran dari al-Quran itu, di sini tidak boleh diberlakukan. Kalau tidak ada izin tidak bisa berlaku, itu perbedaannya dengan Fir’aun induk. Tidak diizinkn oleh Fir’aun sebagai penguasa pada saat itu, nggak boleh katanya, itu kerjaan Fir’aun. Orang yang mau beriman dengan baik itu tidak boleh sebelum ada izin dari dia, ini bukan kata saya, tapi ayat. Kemudian kelakuan Fir’aun yang lainnya, Allah mengabadikannya dalam surat Al-Qasas ayat 4. Supaya kita tahu bagaimana kelakuan Fir’aun itu, supaya  kita jauhi dan menolaknya.

Artinya:

“Sungguh, Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah, dia menindas segolongan dari mereka (bani israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia (Fir’aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al-Qasas: 4)

Ini kerjaan firaun kata Allah, dia berbuat sewenang-wenang di muka bumi ini. Kemudian Fir’aun itu menimbulkan perpecahan bukan membawa kebaikan, bukan membawa persatuan, memecah belah umat, ini kerjaan Fir’aun. Kemudian kelakuan Fir’aun yang lainnya yaitu Fir’aun memerintahkan, ketika itu saking takutnya kekuasaannya digoyang/goncang, karena dia ingin berkuasa seumur hidup. Ketika dia bermimpi, mimpinya itu diindikasikan, ditafsirkan oleh orang yang ahli menafsirkan mimpi, akan ada bayi laki-laki nanti yang akan menggoncangkan kekuasaanmu.

Maka ketika itu fir’aun membuat suatu aturan, setiap wanita yang hamil diperiksa anaknya apa, kalau laki-laki dibunuh dia, itu karakter Fir’aun. Dia membunuh bayi laki-laki dan membiarkan hidup bayi perempuan, karena apa? Takut kekuasaannya digoncang, takut dia, Dia ingin berkuasa seumur hidup. Tetapi Allah maha kuasa, Allah lahirkan bayi kecil Musa, ada caranya Allah, kamu takut, kamu bodoh kata Allah. Dilahirkan Musa dengan caranya Allah, dan sampailah musa itu diistananya Fir’aun, jadi besar dan hidup bersama Fir’aun.

Dan kita bisa lihat di beberapa ayat di surah Al-Qosas,  kisah-kisah itu ada, dengan caranya Allah. Sampai akhirnya Musa diangkat jadi anak oleh istrinya Fir’aun. Ketika Musa sudah mulai lucu-lucunya digendong oleh Fir’aun, pada suatu hari pipinya Fir’aun ditampar-tampar dan ditempeleng-tempeleng oleh Musa. Wah ini bahaya ini, wah ini kalau besar bahaya ini kata Fir’aun, ini ancaman ini. Tetapi dia dihibur oleh  istrinya, biasa namanya anak kecil ko dipercaya, diakan belum punya otak, tapi nggak bisa, ini ancaman ini, kecil-kecil sudah berani nampar-nampar wajah saya, kalau besar bagaimana ini. Akhirnya betul, besar dia berhadapan dengan ayah angkatnya (Fir’aun) sendiri.

Bayi perempuan dibiarkan hidup, yang laki-laki dibunuh, itu karakter Fir’aun. Kemudian sifat berikutnya dia membuat kerusakan, kalau Fir’aun dulu itu membunuh bayi laki-laki, kalau Fir’aun-Fir’aun zaman kita ini membunuh kelaki-lakian. Tau bedanya? jadi banyak laki-laki yang sudah memakai rok sekarang. Takut dia pada manusia tapi tidak takut sama Allah, sama manusia luar biasa takutnya, tetapi sama Allah, katanya Allah itu masih jauh, akhirat masih jauh. Karena apa? kelaki-lakiannya dibunuh, dikebiri, sehingga sekarang banyak laki-laki mempunyai karakter persis seperti perempuan. Itu bedanya Fir’aun-Fir’aun di zaman kita ini, di dunia kita ini banyak yang memiliki karakter seperti fir’aun, takut dia.

Termasuk begitu  yang di Saudi itu, takut dinastinya, kekuasaannya digoncang atau digoyangkan. Diundang tentara-tentara Amerika. Tentara-tentara kafir Amerika itu diundang masuk ke Saudi, melalui apa? melalui fatwanya seorang ulama. Boleh mengundang tentara kafir Amerika masuk ke Saudi. Padahal Rasulullah SAW sebelum meninggal sudah berpesan “Usir keluar seluruh orang musrik keluar dari jajirah arab”. Di hadits yang lain “Tidak boleh ada dua din di jajirah arab, nggak boleh”. Hadits itu dikalahkan hari ini, dibuang hadits itu, ulama membuat dalilnya sendiri. Boleh mengundang masuk orang kafir Amerika.

Akhirnya sekarang, tanya saja sama orang yang sering keluar masuk Saudi. Bagaimana kelakuan remaja-remaja Saudi sekarang? Luar biasa rusaknya remaja-remajanya, rusaknya Saudi, parah, kita bisa nontn di TV juga. Melalui apa rusaknya Saudi? Melalui fatwanya para ulama, dia takut kekuasaannya digoncang. Bahkan sampai-sampai, nauzubillah, ini bukan cerita omong kosong, ini ceritanya  ketika ada orang naik haji. Beliau ingin membelikan buku untuk anaknya yang di pondok. Ketika itu dia cari buku-buku jihad, apa kata penjual buku saat itu, nggak boleh jual buku jihad, nanti kalau ketahuan polisi ditangkap, disembelih. Itulah Saudi yang dibangga-banggakan, jadi supaya tahu.

Maka yang ke-empat yang harus dinafikan atau ditolak yaitu thogut. Itulah empat hal yang harus dinafikkan, yang harus ditolak. Dan hari ini kita bisa melihat thogut-thogut di dunia ini sudah pada tumbang, itu dimulai dari dunia arab. Thogut-thogut di dunia arab satu persatu jungkir balik, ada yang sudah berkuasa 30 lebih tahun, habis semua. Siapa yang menghabisi thogut-thogut itu? Yaitu para mujahidin, ini bukan omong kosong, kalau tidak percaya baca berita-berita di internet.

Lihat saja pengakuan orang-orang kafir, apa pengakuan mereka hari ini, akan berkuasanya kembali system khilafah dan akan berkuasanya kembali Islam fundamental, kata mereka. Mereka sudah bisa membaca, mereka lebih tahu dari pada orang Islam yang kerjaannya hanya tidur-tidur itu. Orang Islam nggak tahu apa-apa, orang kafir sudah tahu itu. Akan berkuasanya kembali, buka saja itu, dan hari ini yang tinggal menunggu hitungan waktu, kata mereka ini, yaitu syiria kata mereka.

Thogut itu sudah kabur, dia bersembunyi di kapal selamnya Rusia, sudah kabur dia. Silahkan saja thogut-thogut di dunia ini, menikmati hidup, bersenang-senang, sementara sambil menentang Allah. Nanti pada waktunya tetap tidak akan bisa lari dari Allah SWT. Jadi yang ke empat yang harus ditolak yaitu thogut.

Kemudian selanjutnya, ada juga al-isbat, yang harus dikokohkan, dikuatkan, ditetapkan, inipun ada 4 hal, yaitu:

1. Niat dan tujuan.

Niat dan tujuan itu hanya mutlak ditujukan hanya untuk Allah SWT, harus murni semata-mata untuk Allah. Niat dan tujuan kita hanya kepada Allah, hanya untuk mencari ridhonya Allah SWT, bukan cari ridhonya manusia. Hari ini banyak orang yang terbalik, mencari ridhonya manusia dalam rangka mencari dunia dengan jalan mengundang azabnya Allah. Cari ridhonya manusia, cari muka pada manusia dengan jalan durhaka kepada Allah, nah itu yang terjadi,

Maka diingatkan disini. Jadi niat, tujuan kita hanya untuk Allah, hidup kita kita tujukan semuanya untuk Allah SWT, pekerjaan, rumah tangga kita, kegiatan kita, semuanya kita tujukan untuk Allah SWT. Kegiatan kita apapun itu kita niatkan untuk Allah, bahkan kita berjuang harus karena Allah, bukan berjuang itu karena kelompok, bukan. Perjuangkan kebenaran bukan memperbesarkan kelompok, bukan juga cari pangkat, vhulus, bukan cari nama, bukan cari dunia, tapi lillahi karena Allah SWT. Pangkat, fulus itu tidak ada apa-apanya.

Saya akan bawakan satu kisah, bagaimana Rasulullah telah berhasil membina generasi terbaik para sahabat radiyallaahu anhum. Kemarin saya sudah memberi contoh sosok Suhaeb bin Sinnan, bagaimana sahabat ini menjadikan dunia itu di telapak kakinya, yang penting yang dia tuju itu hanya Allah SWT, ridhonya Allah SWT. Dia nggak perlu dunia itu, perjuangannya ditujukan untuk meninggikan kalimat Allah, bukan cari pangkat, bukan cari kursi, dan bukan pula cari nama.

Ketika pasukan Islam di zaman Umar sudah berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan besar. Jadi dulu itu Makkah itu dikuasai oleh dua dinasti besar, dua inperium besar, yaitu Parsi dan Roma. Dua blok inilah yang menguasai Arab, kerajaan-kerajaan itu ada yang berinduk ke Parsi dan ada juga yang berinduk ke Roma. Maka di zaman umar itu ditaklukkan semua kerajaan-kerajaan, ketika kaum muslimin sudah berhasil menguasai induknya kerajaan Parsi yang di dalamnya ada jendral Rustum, dibawa oleh Sa’ad bin Abi Waqosh, maka perjuangan itu diteruskan melanjutkan menguasai kerajaan Mesir. Kalau sudah Parsi ditaklukkan tinggal giliran Romawi, dan kerajaan-kerajaan kecil Romawi itu mulai dibersihkan, akhirnya sampai menaklukkan  Mesir.

Mesir di bawah panglima Amru bin Ash sahabat Rasulullah, ketika Mesir sudah hampir ditaklukkan, ketika itu yang berkuasa adalah Nekokis, penguasa mesir ketika itu yang tunduk di bawah kekuasaan Romawi. Ketika nekokis tahu tentara Islam sudah berhasil menaklukkan negeri-negeri lain, maka tentara Mesir mendengar tentara Islam sudah mulai mendekati pintu gerbang Mesir, berundinglah Nekokis ini dengan para jenderal-jenderalnya. Bagaimana ini, kita lawan tentara Islam ini atau bagaimana?

Akhirnya mereka semua sepakat, percuma kalau kita lawan, sebab tentara-tentara yang akan masuk ke negeri kita ini terbukti sudah mengalahkan kerajaan-kerajaan yang ada, nggak akan mampu kita menang. Maka akhirnya sebelum diserang, diutuslah satu utusan oleh Amru bin As, diutuslah seorang sahabat. Sahabat ini sahabat terkenal juga, yaitu Ubadah bin Shamit, diutuslah dia untuk menghadap Nekokis, untuk menawarkan tiga tawaran, diantaranya:

a)      Masuk Islam kalian selamat.

b)      Nggak mau masuk Islam, silahkan agamamu kafir, tapi kamu harus tunduk dalam kekuasaan Islam dan membayar jiziyah.

c)      Kalau tidak mau memilih dua-duanya, kita perang.

Akhirnya Nekokis membujuk, menawarkan separuh dari pada kekuasaan mesir, ketika itu akan diberikan kepada tentara Islam, separuh dibagi dua. Separuh untuk kerajaan Nekokis, dan separuh akan diberikan kepada kaum muslimin, ditawarkan kepada Ubadah bin Shamit. Maka ketika itu Ubadah bin Shamit menjawab dengan gagah, “Demi Allah wahai Nekokis, ketahuilah kami keluar dari negeri kami, melalui negeri demi negeri kami taklukkan, tujuan kami tidak ada lain hanya semata-mata untuk meninggikan kalimat Allah SWT, bukan dunia yang kami cari”.

Ditawarkan separuh Mesir diambil, dia bersumpah didahului dengan kata “Demi Allah, kalau ada di sisi, di tengah tangan kami ini, satu dirham saja, maka kami akan mencukupkan kebutuhan kami ini hanya dengan satu dirham saja. kalau pasukan kami yang banyak ini hanya punya uang satu dirham untuk memenuhi hajat hidupnya, dia akan mencukup-cukupkan dengan satu dirham saja. Kalau andai kata dalam perjalanan nanti Allah memberikan segepok emas untuk kami, kami tetap akan mencukupkan hajat hidup kami dengan satu dirham saja. Dan seluruh sisanya akan kami infakkan di jalan Allah”.

Dimana orang seperti itu hari ini? nggak laku dunia di sisi sahabat-sahabat, orang yang menempatkan dunia di sisi kakinya, malah dunia akan di buka lebar-lebar oleh Allah. Dimana hari ini orang yang berjuang seperti itu? Ini hari ini kebanyakan orang berjuang bawa nama Islam, bawa ayat, akhirnya yang dicari kursi, maunya pake dasi, senangnya mobil mercy, ujung-ujungnya kaya terasi, bau, jadilah korupsi, bawa-bawa Islam lagi. Alangkah jauhnya dengan generasi awal yang dibina oleh Rasulullah, ridho Allah yang dicari, niatnya ridho Allah yang dituju, inilah yang harus kita contoh. Jadi yang pertama yang harus dikuatkan yaitu niat dan tujuan kita, harus satu yaitu mencari ridho Allah.

 2. Al-mahabbah (kecintaan)

Bahwa tidak dilarang hukumnya, sah hukumnya, fitrah, sifatnya orang yang mencintai istrinya, mencintai dunianya, mencintai hartanya. Tapi kalau kecintaan itu lebih jauh dicintai dari pada Allah, maka dia telah menjadikan yang dicintainya itu sebagai andad, tandingan-tandingan yang sudah kita bahas, yang dalilnya dalam surat Al-baqarah ayat 261. Dia telah menjadikan hartanya, istrinya, pangkatnya, kekuasaanya sebagai tandingan-tandingan selain Allah. Maka yang harus kita tetapkan dihati kita sebagai muslim, kecintaan pokok itu hanya kepada Allah.

Kita mencintai seseorang itu, karena orang itu mencintaiAllah. Kita mengikuti seseorang itu, karena orang itu taat kepada Allah, baru kita cinta kepadanya, inipun contoh dari sahabat banyak sekali. Jadi kecintaan yang harus ditetapkan itu hanya menetapkan kecintaan kita kepada Allah SWT, tetapi bukan berarti dilarang kita mencintai hal-hal yang lain, boleh sepanjang kecintaan itu tidak memalingkan kecintaan kita kepada Allah. Maka ketika kecintaan tadi memalingkan kita dari Allah, kecintaan yang kita cintai  itulah yang mempunyai nilai Andad, tandingan-tandingan selain Allah, nauzubillah.

Dalilnya yaitu yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 261. Ini memang sulit, tapi harus kita upayakan. Bagaimana kita menanamkan cinta kita kepada Allah. Bagaimana kita tempatkan di makhom yang paling tinggi, mengalahkan yang lain-lain. Fitrah manusia cinta istri, cinta harta memang sudah bawaannya begitu, tapi kalau sampai itu semua lebih didahulukan, kemudian kita mengecilkan kecintaan kita kepada Allah, maka ketika itu kita menjadikan yang kita cinta itu adalah sebagai tandingan-tandingan selain Allah. Dalilnya yaitu dalam surat Al-Baqarah ayat 261 dan juga di dalam surat at-taubah ayat 24:

Artinya:

Katakanlah: “Jika bapak-bapak , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan NYA”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At-Taubah:24)

 

Ini ayat turun bukan pada orang kafir, tapi ayat ini turun pada orang Islam. Allah menyuruh Nabi kita mengatakan kepada orang Islam. Diakhir ayat itu dikatakana orang yang fasik. Siapakah orang yang fasik itu? yaitu orang yang lebih cinta yang ke delapan itu, dan melebihi cintanya kepada Allah, Rasul, dan jihad fisabilillah.

Tapi sayang ayat ini diselewengkan oleh orang-orang. Saya pernah dengar khutbah idul adha, bahwa ayat ini dikaitkan dengan sembelih kambing yang akan dibeli oleh Allah. Jadi ceritanya dia ingin membesarkan harta dan nyawa orang beriman itu, tapi kaitannya dengan orang yang nyembelih kambing korban, itu bawa ayat ini, nah itu dalilnya. Jadi yang kedua yang harus kita tetapkan adalah Al-mahabbah (kecintaan).

 3. Al-khauf (rasa takut).

Rasa takut kita itu hanyalah kepada Allah SWT, Al-khauf ini takut yang disertai taat. Takutnya manusia kepada Allah ini tentu berlainan dengan rasa takutnya manusia kepada manusia. Kalau manusia takut kepada manusia yang lain, itu semakin dia takut semakin dia menjauh, tetapi kalau takutnya manusia kepada Allah, semakin dia takut kepada Allah dengan benar, semakin dia dekat kepada Allah SWT. Ini harus kita usahakan, bagaimana kita takut kepada Allah, yang dengan takut kepadanya mengundang kita semakin ta’at kepada Allah SWT. Ketakutan kita, khauf kita hanya di peruntukan kepada Allah SWT.

 4. Ar-Raja.

Apa Ar-raja itu? Pengharapan, jadi harapan yang akan kita gantungkan hanyalah kepada Allah SWT. Dalam hidup ini kita hanya mengharapkan pertolongan, perlindungan, rizki, dan yang lainnya hanya kepada Allah SWT, menggantungkan harapan kita hanya kepada Allah SWT.

Download mp3 Disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s