.::KAJIAN KETUJUH: Rukun Syahadat 2::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim

Kita akan melanjutkan pembahasan kita waktu yang lalu. Minggu lalu, kita sudah membahas tentang rukun syahadat. Yang pertama An-Nafyu dan sudah memasuki bagian yang kedua. An-Nafyu adalah hal-hal yang harus ditolak, yang ditiadakan. Yang pertama sudah disampaikan panjang lebar pada pembahasan sebelumnya, yaitu Alihah. Al-alihah atau illah atau bahasa yang dikenal orang adalah Tuhan. Alihah ini kata Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah segala sesuatu yang dituju dengan sesuatu perkara, yang dengan itu diharapkan akan membawa suatu kebaikan, manfaat atau menolak bala.

Sudah kita jelaskan, bahkan pengertian illah yang sepuluh menurut Syekh Sayid Sabiq sudah kita jelaskan. Kemudian yang harus kita tolak yaitu arbab/robb, kemarin sudah saya jelaskan pengertian robb menurut Syekh Almaududi bahwa robb itu adalah pencipta, pemilik, pengatur, pemelihara, penguasa seluruh alam, jika makna ini kita ketahui, maka membaca surat Al-Fatihah saja kita bisa mantap.

Ada empat perkara kemarin yang saya jelaskan menurut Syekh Almaududi yang paling banyak di dalam Al-Quran dan paling banyak disalah pahami oleh orang, yaitu ibadah, illah, robb, dan ad-din. Empat perkara ini tidak dipahami sebagaimana semestinya, dengan pemahaman yang sempit hari ini orang memahami empat makna ini.

Kemarin sudah kita jelaskan yang kedua walaupun belum tuntas, jadi robb menurut Almaududi pengertiannya seperti itu. Kemudian kita akan lanjutkan pengertian dari robb yang lain yaitu siapa saja yang membuat aturan atau mengeluarkan fatwa yang mana aturan atau fatwa yang dibuatnya itu bertentangan dengan kebenaran dari Al-Quran dan sunnah dan diikuti oleh orang, nah itu robb dan orang menyebut tuhan juga. Rob itu mestinya Allah, selain Allah robb itu ditolak, nah ini yang disebut dinafikkan.

Berarti tidak ada yang berhak mengatur kecuali Allah, boleh aturan itu ditaati jika tidak bertentangan dengan aturan Allah, bila aturan yang dibikin atau diciptakan oleh manusia jika bertentangan dengan kehendak Allah dan Rasul berarti dia mempertuhankan manusia itu. Siapapun yang membuat aturan itu mau anggota dewan, anggota ini itu, majelis ini itu, dll. Apapun namanya manusia itu apabila dia membuat aturan dimana aturan itu bertentangan dengan kebenaran al-quran dan sunnah, diikuti oleh manusia, berarti manusia yang mengikutinya itu telah menjadikan orang yang membuat aturan itu sebagai ar-rabb, arbab, atau tuhan-tuhan.

Allah SWT berfirman dalam surah At-Taubah ayat 31:

Artinya:
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka Hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Ayat ini turun di Madinah, dimana di Madinah ketika itu hidup orang yahudi, hidup juga orang nasrani, ada orang musrik dan juga ada kaum muslimin. Ayat ini turun, disebut dua “Ahbar wa ruhban” ini kalau kita perikasa kitab Fatul Majid, dikatakan Ahba ini yaitu para ulama sedangkan Ruhban yaitu para ahli ibadah. Jadi ayat ini turunnya berkenaan dengan dua bangsa ini yahudi dan nasrani, mereka menjadikan para ulama dan ahli ibadah mereka sebagai tuhan-tuhan atau arbab selain Allah, padahal mereka tidak diperintahkan kecuali menyembah illah yang satu, maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Ketika ayat ini turun, menyebar ke Madinah dan sampai keluar dari Madinah, di pinggir-pinggir kota Madinah ini banyak orang-orang yang ahli kitab, ternyata muncullah anak seorang tokoh nasrani yang ada diluar kota Madinah yaitu Adi bin Hatim, bapaknya seorang ahli kitab dan dia sendiri juga ahli kitab. Dia mendengar bahwa ayat ini turun ditujukan kepada ahli kitab. Bahwa ahli kitab, berdasarkan ayat ini menurut Allah telah menjadikan para ulama-ulamanya dan para alim-alimnya sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Datanglah Adi bin Hatim ini, ia datang menemui Rasulullah untuk protes.

“Bagaimana wahai Muhammad, kenapa kami dituduh menjadikan ulama-ulama kami dan orang-orang alim kami sebagai tuhan selain Allah? Padahal kami tidak pernah menyembah mereka, tidak pernah beribadah kepada mereka, protes dia. Maka Rasulullah mengatakan Ya benar, tetapi kata Rasulullah, bukankah di dalam kitab injilmu satu perbuatan itu dikatakan haram, tetapi para ulama kalian mengatakan halal, bukankah kalian ikut menghalalkannya juga, walaupun di kitabmu dikatakan haram. Dan sebaliknya bukankah di dalam kitabmu suatu perbuatan dikatakan halal, tetapi para ulama-ulama kalian mengatakan haram, bukankah engkau ikut mengharamkannya juga? bukankah demikian ya Adi? Benar kata Adi. Itulah bentuk peribadatan penyembahan kamu kepada para ulama-ulama kamu.”

Dengan penjelasan begitu maka Adi bin Hatim tidak berkutik. ini ayat mashur diketahui oleh banyak orang Islam, maka kita renungkan, apa makna robb dalam ayat itu? Adakah kesamaan dengan robb-robb atau tuhan-tuhan sekarang ini? Pembuat-pembuat aturan. Aturannya menyelisih kebenaran, diikuti, Allah menyuruh dia ke barat, kata si fulan manusia yang titelnya Prof, Dr, Ir, SH, MH, ke barat, orang ikut ke barat bukan ke timur. Apa bedanya dengan kasus tadi, ulamanya orang nasrani yang menyelisih kitabnya. Kitabnya mengatakan haram, dia mengatakan halal, ikut dihalalkan, karena itu dikatakan oleh Allah, orang-orang nasrani itu menjadikan ulama-ulamanya sebagai tuhan.

Nah lantas apa bedanya dengan manusia sekarang ini, yang menciptakan suatu aturan. Aturan ini menyelisihi kebenaran dan diikuti oleh manusia. Allah mengatakan wajib atau harus, mereka mengatakan tidak bisa tidak boleh, dan manusia sejagat ikut mengatakan tidak bisa dan tidak boleh, mengingkari kata-kata Allah. Apa bedanya dengan orang nasrani yang oleh Allah dikatakan menyembah ulama-ulama mereka sebagai tuhan, nah itu hati-hati
.
Berdasarkan ayat ini, siapapun pembuat kebenaran, pembuat aturan, yang mengeluarkan fatwa, jika itu bertentangan dengan kebenaran yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah kita ikuti, lalu kita tinggalkan kebenaran yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah, berarti kita telah mempertuhankan si pembuat aturan itu. Itu syirik namanya, ini syirik hukum. Syirik hukum ini hampir tidak pernah dibahas, syirik yang dibahas oleh sebagian orang yang katanya ahli tauhid, berdasarkan salafuss saleh adalah syirik nyembah batu, nyembah makam, nyembah patung, nyembah pohon-pohon besar, dll.

Detail dia menjelaskan syirik ini, sedangkan syirik hukum tidak pernah dibahas, kaku lidahnya, karena apa? Takut menyampaikan kebenaran, ini syirik hukum. Syirik nyembah batu, makam paling-paling hanya satu dua orang saja yang celaka dan urusan dia dengan batu itu dan Allah. Ini syirik hukum, satu negara ini sudah musyrik. Kalau kita tidak berusaha untuk merubah aturan ini, tidak menyadarkan umat tentang ini, makanya Adi bin Hatim tercengang. Adi bin hatim menyadari ternyata itu benar. Di lain waktu akhirnya Adi bin Hatim ini masuk Islam, gara-gara Rasulullah menyerang kampungnya, karena ada suatu kasus.

Kemudian ditawan beberapa orang, termasuk saudara perempuannya Adi bin Hatim yang bernama Sufanah. Ditawanlah Sufanah ini oleh Rasulullah, ketika Sufanah ditawan berhari-hari, akhirnya Sufanah ini datang menghadap Rasulullah dan berkata, Ya Rasulullah, dia mengungkapkan kebaikan dari bapaknya. Bapaknya itu merupakan kepala suku, ya Rasulullah bapak saya orang yang baik, sering menolong orang yang lemah, sering bersedekah. Memang bapaknya ini adalah seorang ahli kitab, tidakkah engkau kasihan, dia merengek-rengek menyebutkan jasa bapaknya yang kepala suku itu, maka akhirnya Rasululloh memerintahkan kepada sahabat-sahabat untuk melepaskan dia, Rasulullah mengatakan pada sahabat, Kasihanilah tiga golongan ini:

1. Penguasa,orang yang berkuasa pada suatu hari kekuasaannya jatuh.
2. Orang kaya yang mendadak bangkrut.
3. Orang alim yang hanyut di larikan oleh orang bodoh,orang alim mustinya membawa ilmu, menerangi orang bodoh, tapi ini tidak ada, malah orang alim dihanyutkan oleh orang bodoh, kasihanilah orang seperti ini.

Maka Rasulullah memerintahkan Sufanah untuk dibebaskan, akhirnya Sufanah ini pulang dan menceritakan kepada saudaranya akan kebaikan Rasulullah. Akhirnya Sufanah membunjuk Adi bin Hatim ini untuk masuk Islam. Dia mengatakan, Islamlah engkau wahai Adi, maka Adi bin Hatim ini datang menemui Rasulullah dengan memakai kalung salib. Ketika Adi bin Hatim datang, oleh Rasulullah dihormati selaku dia seorang tokoh. Rasulullah mempersilahkan dia duduk, ketika Rasulullah melihat kalung salib yang dipakai oleh Adi bin Hatim, lalu Rasulullah mengatakan, buanglah berhala itu, kalau mau bicara dengan Nabi, kalungnya jangan dipakai, buang dulu kalung berhala itu, dilepas oleh Adi bin Hatim. Lalu oleh Rasululloh disampaikan beberapa ayat sampai dia tobat dan menjadi seorang muslim yang baik. Rasulullah menyuruh buang berhala itu.

Hari ini ulil amri mendapat predikat salib agung, menerima ksatria salib agung dari orang kafir, ini bukan mengecam, tapi begitulah kenyataannya. Rasulullah tidak mau bicara sampai si Adi membuang berhala itu, yang akhirnya Adi membuang berhala itu dan menjadi muslim yang baik. Nah Sufanah ketika itu saking hormatnya dia terhadap Rasulullah, sampai dia rela Sufanah ini menjadi pembantu di salah satu rumah istri Nabi, saking senangnya Sufanah ini dia menjadi pembantu di rumah salah satu istri Nabi. Dan di kisahkan pada suatu malam, setelah Rasulullah wafat, Sufanah ini keluar menemani salah satu istri Nabi untuk membuang hajat, karena memang di rumah tidak ada wc, kalau ingin membuang hajat harus menjauh.

Sufanah ini keluar mencari tempat yang sepi di padang pasir yang gelap, datanglah harimau besar datang mendekati Sufanah, maka Sufanah, ini karomahnya Sufanah,Sufanah mengatakan wahai harimau saya ini pembantunya Rasulullah, harimau itu menunduk menghormati Sufanah, dan meninggalkan Sufanah lalu pergi.

Nah kembali kepada yang kedua tadi, yang harus dinafikan yaitu Arbab atau robb, tidak ada yang berhak mengatur kecuali Allah sebagai pencipta dan pemilik bumi, boleh aturan itu di pakai, bila tidak bertentangan dengan kehendak Allah dan Rasul. Tapi kita lihat saja aturan yang ada ini, hukum negative yang ada ini jelas bertentangan dengan kehendak Allah dan Rasul.

3. Andad.
Yang harus dinafikan yaitu Andad. Apa andad itu? Tandingan-tandingan, Andad atau tandingan yaitu segala sesuatu yang dapat memalingkan kita dari ketaatan pada Allah SWT.
Dalilnya terdapat pada firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 165:

Artinya:
“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Alloh sebagai tandingan,yang mereka cintai seperti mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat dzolim itu melihat, ketika mereka melihat adzab(pada hari kiamat), bahwa kekutan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat adzabnya (niscaya mereka menyesal)”. (QS. Al-Baqarah: 165)

Ada sebahagian orang yang menjadikan selain Allah itu sebagai sesembahan-sesembahan, tandingan-tandingan selain Allah, dan dia mencintai tandingan-tandingan itu sebagaimana dia mencintai Allah. Padahal mestinya orang yang beriman itu sangat kuat cintanya kepada Allah. Para ulama sepakat ayat ini dikatakan sebagai rukun yang ketiga yang harus dinafikan yaitu andad, sesuatu yang dapat memalingkan kita dari Allah, biasanya itu adalah harta, tahta, wanita, jabatan, hiasan-hiasan dunia, itu bisa memalingkan kita dari Allah. Bila kita mencintai itu melebihi cinta kita kepada Allah, hidup kita hanya berfikir tentang itu, berarti kita menjadikan hal yang demikian itu sebagai andad.

Dalam surat Ali-Imran itu lebih jelas lagi, Allah tahu kecenderungan manusia itu kepada dunia, kepada hiasan dunia, nah itu semua disebut ada beberapa golongan yaitu:
1. Wanita
2. Sawah
3. Ladang
4. Binatang peliharaan
5. Emas

Termasuk kecenderungan manusia itu untuk cinta kepada hal tersebut, cinta kepada harta itu fitrah, tetapi yang berbahaya bila harta itu dijadikan segala-galanya, dengan jalan kita melupakan Allah, maka ketika itu harta, jabatan, pangkat kita, kita jadikan tandingan selain Allah. Mencintai harta itu wajar, cinta istri itu wajar, cinta anak wajar, tetapi ketika kecintaan itu menjadikan segala-galanya melupakan cinta kepada Allah SWT, maka siapapun yang kita cintai, pangkat, jabatan, anak dan istri kita, itu bernilai andad, tandingan-tandingan selain Allah.

Ini hati-hati, jangan sampai terjadi, tetapi hari ini naudzubillah justru terbalik, Allah itu dapat jatah sangat kecil, mereka mengatakan mumpung masih hidup di dunia lebih baik cari kursi dulu, pakai dasi, naik mobil mercy, nikmat, bicara Allah belakangan. Cinta Allah? ya cinta juga sih, inikan dunia, sebenarnya nggak perlu pangkat, kalau pake jas kita dipanggil pak, pakai baju koko, Assalamu alaikum kata orang, di panggil pak ustad, di hormati kita, tanda-tanda kita ada nilainya.

Allah di kecilkan, yang demikian ini andad menjadikan tandingan, maka alangkah betapa jauhnya kita hari ini degan generasi pertama yang di bina oleh Rasulullah. Satu contoh para sahabat Nabi itu menjadikan dunia ini sesuatu yang hanya di tangannya, tetapi tidak dimasukan kedalam hatinya. Dunia dijadikan alat saja, bukan tujuan hidupnya. Dan Allah sudah mengatakan “Kalian itu bukan dijadikan atau diciptakan untuk dunia ini, tapi kalian diciptakan untuk negeri Akhirat, dan akhirat tidak dijadikan sebagai kuda tunggangan dunia, tetapi dunia yang dijadikan kuda tunggangan untuk akhirat, bukan ditunggangi oleh dunia”. Dunia menjadi kuda tunggangan.

Ada satu kisah yang indah yang menunjukan bahwa ayat ini dipraktekkan dengan sangat indah oleh para sahabat, yaitu kisanya Suhaeb ar-rumi. Ini pelajaran untuk kita, disebut Ar-Rumi, karena Suhaeb ini sebenarnya, kalau sekarang ini diibaratkan seperti anak wali kota. Dia tinggal di Iraq, dan orang tuanya juga tinggal di Iraq. Pada suatu waktu, Iraq itu di dalam kekuasaan orang-orang persia, diserang oleh orang-orang romawi, akhirnya Suhaeb menjadi tawanan, dibawa ke negeri Rum, sampai dia tumbuh menjadi besar dan dewasa. Akhirnya ketika Islam berkuasa di negeri tersebut, Suhaeb ini dimiliki oleh seorang sahabat yaitu Abdullah bin jum’ah, oleh Abdullah bin jum’ah dibebaskan Suhaeb ini.

Suaeb Ar-Rumi ini atau Suhaeb bin Sinnan ini ketika dia sudah menjadi muslim, Suhaeb berubah menjadi seorang yang ahli dalam berdagang dan ahli dalam berniaga, sampai dia menjadi orang kaya. Sampai tahun ke-13 hijriah, turun perintah untuk berhijrah, Suhaeb ini termasuk orang yang terlambat untuk berhijrah bersama Abbas paman Rasulullah. Akhirnya ketika Suhaeb merasa mampu untuk berhijrah, maka Suhaeb mempersiapkan segala sesuatunya, hartanya dikumpulkan, dinaikkan di beberapa ekor unta, maka secara diam-diam akhirnya Suhaeb bin Sinnan ini meninggalkan Makkah di malam hari, seorang diri, membawa seluruh hartanya.

Akhirnya apa? bocor juga oleh musyrikin Qurais, Suhaeb ini dikejar, akhirnya sampai ditangkap, diadili oleh musyrikin Qurais. Mereka mengatakan: Hai Suhaeb bukankah dahulu kamu datang ke Makkah ini seorang budak? yang kemudian dibebaskan, kami belum gila untuk melepaskan kamu pergi, dengan membawa hartamu. Salah satu karung ditusuk, keluarlah logam-logam uang emas, diperiksa, tercengang mereka. Ini harta kamu semua yang mau kamu bawa ke Yastrib? lalu Suhaeb menjawab iya. Wah kalau begitu kamu pilih tiga pilihan, diintrogasi oleh musrikin Qurais, pilihannya:
1. Kamu boleh tetap tinggal di Makah, mabuk-mabukan, berzina dengan kami, menyembah berhala dengan kami sebagaimana mestinya, harta dan nyawamu aman.

2. Kamu boleh pergi ke Yastrib menemui kekasihmu Muhammad itu, karena Suhaeb ini ketika ditanya oleh musyrikin Qurais kamu mau kemana? ia menjawab saya akan menemui kekasih saya Muhammad di Yastrib. Tapi seluruh hartamu tinggalkan di sini, kendaraanmu disimpan di sini, kamu jalan kaki saja dari Makkah ke Madinah, yang pada saat itu jaraknya beratus-ratus kilometer, melintasi padang pasir, yang mana siangnya panas menyengat dan malamnya dingin sampai tembus ke tulang.

3. Kalau kamu tidak memilih dua pilihan tersebut, kamu akan kami bunuh. Pada saat itu Suhaeb tersenyum, oh begitu tuan-tuan, kalau begitu ambillah semua harta saya ini, ambil semua, saya akan jalan kaki dari Makkah ini sampai ke Yastrid, jalan kaki dia, akhirnya menjelang sampai mendekati kota madinah, Allah turunkan surah Al-Baqarah ayat 207. ayat ini khusus turun untuk memuji Suhaeb Ar-Rumi:

Artinya:
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.

Ayat ini turun, Rasulullah merenungkan apa maksud ayat ini, ternyata tidak lama muncul Suhaeb ini, maka kata Rasulullah, masya Allah ternyata ayat ini turun berkenaan dengan dirimu, beruntunglah perniagaanmu wahai Aba Yahya, dipeluk oleh Rasulullah, dia jual hartanya dia lebih mengutamakan Allah dan Rasulnya, luar biasa. Persis seperti orang yang hidup di zaman sekarang ini, dia jual Islamnya karena untuk mencari dunia dan sampah-sampahnya.
Nah itulah para sahabat bagaimana menempatkan dunia, sangat berbalik 180 derajat dengan kondisi kita sekarang ini, dunia menjadi segala-galanya. Maka jika itu terjadi, berarti dunia ini memiliki nilai Andad sebagai tandingan-tandingan. Hati-hati, padahal itu harus dinafikkan, ditolak, cari dunia tapi bukan dengan jalan melupakan Allah, dunia hanya sebagai alat saja bukan tujuan.

Download mp3 Disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s