.::KAJIAN KEENAM: Rukun Syahadat 1::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim.

Kita akan mengkaji tentang rukun-rukun syahadat, ternyata syahadat itu memiliki rukun. Menurut para ulama dan banyak sekali ulama tauhid yang menjelaskan tentang ini, dan diantara penjelasan-penjelasan yang banyak itu, hampir semua penjelasannya bahwa rukun syahadat itu ada yang disebut annafiu dan al isbat. An-nafiu maknanya apa yang harus di nafikkan, di tiadakan, di tolak, kemudian Al-isbat adalah apa yang harus di kuatkan, di tetapkan. Jadi syahadat itu punya rukun, yaitu An-nafiu dan Al-isbat, ada hal-hal yang harus ditolak, dan ada hal-hal yang harus di kuatkan, di tetapkan.

Nah, ini orang-orang tasawuf juga suka kaji ini, tapi tidak punya makna kalau mereka mengkaji syahadat itu. Di kaji didalam tubuhnya itu ada huruf-hurufnya, tau dari mana mereka itu. Pantas Islam ini tidak maju-maju, karena syahadat nya seperti itu, kalau sahabat Nabi masih hidup, bahaya orang-orang seperti itu. Mengucap sejuta kali tapi tidak memiliki bekas, lain dengan syahadat zaman Rasul, yang cukup sekali saja mereka bersyahadat langsung berbekas, langsung ada tanda yang membedakan. Tetapi hari ini berjuta kali diucapkan tetapi hampir tidak ada bekasnya.

 Iniilah pentingnya kita semua sama-sama mempelajari tentang pentingnya syahadat ini. Kita sudah bahas pada beberapa penjelasan yang lalu. Sekarang kita akan lanjutkan pembahasan ini dengan rukun-rukun syahadat, yaitu An-nafiu dan Al-isbat, ada hal yang harus di nafikkan, dan ada hal yang harus di tetapkan.

Yang di Nafikkan menurut para ulama adalah:

1.      Alihah

Alihah atau bentuk jamaknya Illah, ini yang harus di tolak.

Apa itu illah? Bahasa sekarang ini adalah Tuhan, Illah, atau yang lebih tenarnya adalah sesembahan.

 Kata Syekh Muhammad bin Abdul wahhab, ketika mengartikan alihah ini, yaitu sesuatu yang kamu tuju dengan sesuatu hal atau perbuatan, yang dengan itu engkau mengharapkan mendapatkan manfaat, mencegah mudhorat atau menolak bala.

Bagaimana penjabarannya? Ternyata banyak ulama yang mengartikan alihah ini banyak sekali, di antaranya Syekh Sayyid sabiq yang mengartikan makna illah itu paling tidak ada sepuluh. Syekh Abdullah Hasan Almaududi, dan banyak ulama yang mengartikan, tetapi dari Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab yaitu sesuatu yang kamu tuju dengan sesuatu hal atau perbuatan, yang dengan itu engkau mengharapkan mendapatkan manfaat atau mencegah mudhorat. Bagaimana maksudnya ini?

 Contohnya, karena orang tidak paham makna illah, dia tidak tahu, bahwa sebenarnya dia sudah mempertuhankan selain Allah. Umpama ada tempat-tempat yang di keramatkan orang. Orang pergi kesana, ini yang di tuju, sesuatu yang di tuju, misalnya mata air, nanti di mata air ada saratnya, bawa ayam putih. Jadi itu orang pergi ke mata air itu, dia menuju kepada sesuatu dengan sesuatu hal, dengan sesuatu hal itu, maknanya dia kesana itu untuk menuju itu, dan ada sesuatu yang dibawa. Inilah yang di sebut dengan sesajen. Yaitu untuk mengharapkan atau mendapat satu manfaat, atau untuk menolak bala.

 Orang yang demikian ini berarti dia sudah tidak mengillahkan lagi Allah, yang dia illahkan itu siapa? Mata air tadi, padahal dia bersyahadat. Kemudian makam di cirebon, sholat dulu dia disana, harus sholat sunnah. Dituju dan di datangi tempat itu oleh orang, berarti dia sudah mengillahkan makam itu. Padahal illah itu hanyalah Allah yang kita tuju, denga cara kita beribadah kepada Allah, dengan ikhlas dan benar.

 Tetapi hari ini, orang itu karena tidak paham makna illah, dia tidak sadar telah mempertuhankan mata air, tela mempertuhankan makam, batu besar, dan tempat-tempat keramat yang lain yang didatangi. Nanti disana macam-macam ditanya sama juru kuncinya, apa hajat dan tujuannya? Ada yang alasan minta jodoh, biasanya yang kesana yang minta jodoh itu jelek orangnya, kalau ganteng pasti sudah lama laku. Ada yang minta kekayaan, ini di tempuh, yang menempuh juga sholat orangnya, karena tidak paham makna illah, dia karena bodohnya telah mempertuhankan apa yang dia tuju itu, baik itu batu besar, kuburan, mata air, dia telah mempertuhankannya, ini yang harus di nafikkan.

 Illah yang dituju itu hanyalah Allah, maka dikatakan dalam surat Al Ikhlas itu “Allahussomad”, Ini menurut Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, kemudian ulama najed yang lain mensifati illah itu. Jadi kalau Syekh Almaududi itu menjelaskan, ada empat istilah dalam Al-Quran itu yang penting untuk di pahami, yang empat istilah ini hari ini banyak tidak dipahami oleh orang. Empat istlah tersebut adalah. Ibadah, illah, Robb,dan Ad Diin..Yang orang tau tentang ibadah hanya menyembah saja, sedangkan illah dan Robb, dari taman TK sampai tua bongkok hanya diartikan Tuhan,,sedangkan Ad-Diin hanya diartikan agama saja.

 Maka itu pentingnya kita mempelajari. Sementara kalau Syekh Sayyid Sabiq, menurut beliau Illah itu paling tidak ada sepuluh pengertian, diantaranya: Tiada yang berhak di ibadahi selain Allah, Tiada yang berhak di taati selain Allah, tiada yang berhak di agungkan selain Allah, tiada yang berhak dicintai melebihi cinta kepada Allah, tiada yang dapat melindungi, menjamin keselamatan kecuali Allah, tiada raja atau penguasa kecuali Allah, tiada yang dapat menentramkan hati kecuali Allah, tiada yang berhak di pegang teguhi kecuali Allah, tiada hakim selain Allah. Itu makna illah menurut Syekh Sayyid Sabiq, kalau memahami ini Insya Allah akan bagus akidah kita.

 Jadi kalau kita bersyahadat, “Bukan tiada Tuhan selain Allah”, paling tidak kita memakai dan memahami pengertian menurut Syekh Sayyid Sabiq ini. Kalau makna-makna ini kita ketahui, mantap syahadat itu, tetapi karena umat Islam tidak tahu, dari TK sampai tua, hanya tahunya tiada Tuhan selain Allah. Jadi Laailaahaillallah menurut syekh Sayyid Sabiq ada sepuluh, termasuk di dalamnya tiada hukum selain hukum Allah, tiada yang berhak di pegang teguhi selain Allah. Pemahaman ini yang hari ini hampir tidak ada. Itulah makna illah. Jadi yang pertama yang harus di nafikkan adalah Alihah, yaitu illah-illah selain Allah.

 2.      Arbab atau Robb.

Inipun tiada lain yang diartikan oleh orang-orang hari ini, yaitu Tuhan lagi. Yang harus dinafikkan adalah tiada Robb kecuali Allah. Apa itu Robb? Sebagaimana Syekh Almaududi menjelaskan tentang Robb, makna kata Robb atau Robbun itu adalah:

a.       Robb bermakna pencipta

b.      Robb bermakna pengatur

c.       Robb bermakna pemilik

d.      Rob bermakna penguasa

Maka kalau kita paham ini, kita paham illah, kita paham ibadah, kita paham robb, tidak usah jauh-jauh, baca surat Al-Fatihah saja mantap kita, dan akan tau akidah yang benar.

 Tetapi selama dia tidak paham ini, dia tidak akan tahu akidah yang benar. Contohnya kalau Robb itu diartikan sebagai Tuhan, padahal Robb itu diantara maknanya adalah pencipta. Kalau Alah yang menciptakan bumi ini, maka otomatis Allah yang berhak mengatur bumi ini. Itu karena apa? Karena Allah yang memiliki bumi ini. Tetapi karena pemahaman ini tidak dipahami, dia tidak tahu, akhirnya tinggal di bumi Allah, tetapi tidak mau taat pada aturan Allah.

Contoh yang lain, saya datang ke rumah saudara, saya ini bertamu ke rumah saudara, setelah disuruh masuk, kemudian saya mengatakan kepada yang punya rumah, pak ini sebaiknya kursi sofanya menghadap kesana, mejanya ditaruh disini, televisinya ditaruh disana. Ini tamu, tidak ikut punya rumah, tapi ngatur. Kira-kira kata yang punya rumah apa? Ini tamu kurangajar, tidak ikut punya rumah tapi mau ngatur. Ini tamu nggak tau diri, datang bertamu ke rumah orang, tapi malah mau mengatur.

Sama dengan kita pada hari ini, tinggal di bumi Allah, diberi rizki oleh Allah, tidak mau taat pada aturan Allah, bikin aturan sendiri. Coba lihat, bumi yang kita pijak ini punya siapa? Punya Allah, bukan punya Majapahit, bukan punya Gajahmada, bukan punya penguasa, ini punya Allah. Mana buktinya? Itu tadi, kalau kita baca “Alhamdulillah” atau kalau kita baca ayat kursi. Sayangnya Ayatul kursyi hari ini hanya dijadikan satpam, penjaga maling. Tulis Ayatul kursyi, kemudian ditempel di dinding rumah, aman tidak ada maling, hanya sebatas itu.

Atau untuk pengusir setan, baca Ayatul kursyi, tetapi dianya tidak cuci kencing, ya setannya tidak lari, malah dianya yang lari. Ayat kursyi hanya untuk hal-hal seperti itu sekarang. Padahal di dalam Ayat kursyi itu ada satu ayat yang  berbunyi “Lahuumaa fisssamaa waati wama fill ardi”. Apa maknanya? Kepunyaanku segala apa yang ada di langit dan di bumi, semuanya milikku kata Allah, bukan mlikmu, bukan milik nenek moyangmu. Ini manusia ngaku-ngaku miliknya, kapan miliknya? Tidak pernah bikin tanah dan air. Negeri ini kan katanya tanah dan air, atau air dan tanah, pernah tidak bikin tanah satu meter saja, bikin lalat saja tidak bisa, tetapi kata manusia ini milikku.

Semua yang ada di langit dan di bumi adalah milikku kata Allah, tetapi kata orang-orang yang sombong, ini milik bangsa kami, maka tidak ada yang berhak mengatur kecuali bangsa kami. Sombongnya manusia itu, tinggal di bumi Allah, tidak ikut memiliki bumi, tetapi mengklaim sebagai pemilik bumi. Di dalam Surat Al-Baqarah juga ada, “Lillahimaa fissama waatiwamaa fill ardi”, apa itu artinya? Kepunyaan Allah semua yang ada dilangit dan di bumi, ayat ini dibaca oleh orang-orang yang imam sholat, tapi tahu tidak dia artinya? Ini Allah yang punya semua yang ada di langit dan di bumi.

Indonesia ini berada di satu planet yang namanya bumi, jumlah planet itu ada sepuluh, di luar planet itu masih ada tata surya yang lain-lain, dan bumi kita ini adalah salah satunya. Dan di luar itu masih ada yang lain, ada bintang, matahari, langit yang tujuh. Ente mampu tidak menghitung bintang, sampai sinting juga tidak bakalan bisa untuk menghitung bintang. Bumi ini kecil, Indonesia ini berada di bumi yang kecil. Bumi ini kalau dibandingkan dengan tata surya yang lain, tidak ada apa-apanya. Seberapa kecilnya Indonesia ini, tidak sampai satu titik pasir.

 Itulah Allah yang maha besar. Indonesia ini terdapat di dalam bumi, yang mana bumi di bandingkan dengan yang lain, sangat kecil sekali, dibandingkan dengan bulan, bintang. Bintang jauh lebih besar, hanya saja bintang letaknya jauh. Indonesia tidak ada apa-apanya. Ini manusia yang mengaku-ngaku, bumi milk kami, kami yang berhak mengatur, tidak boleh ada yang lain untuk mengatur kecuali bangsa kami. Kapan ente bikin bumi, ini saya mau luruskan. Disini hati-hati kita, ini satu paham yang sesat, paham ini bisa syirik.

 Mengaku memiliki bumi, tinggal di bumi Allah, makan rizki dari Allah, nyawanya milik Allah, tetapi betapa sombongnya manusia ini, aturan yang menciptakan bumi ini tidak mau di pakai, tidak di ikuti, menolak untuk mengatur bumi, sama dengan tamu tadi, tidak ikut punya rumah, mau mengatur rumah, tamu tidak tahu diri. Nyawanya sendiri milik Allah, tetapi tidak bisa. Ini bahasanya orang-orang pintar, “Memang syariat Islam itu benar, tetapi Indonesia ini pluralis, bermacam agama, kita akui itu sebagai sebuah kebenaran, tetapi tidak bisa disini, karena di Indonesia ini bermacam-macam agama, kalau mau menegakkan syariat Islam jangan disini, di Makkah saja”.

 Jadi syariat Allah itu di usir ke Makkah, kurangajarnya itu, kurangajarnya manusia ini, syariat Islam di usir ke Makkah. Tidak ikut punya bumi, mengaku memiliki bumi. Dan anehnya manusia itu baru sadar kalau sudah ada orang yang mati, itu mereka baru sadar. Mengucap “Innalillahi”, apasih artinya? Kita semua ini milik Allah, dan akan kembali kepada Allah. Baru dia itu mengaku semuanya milik Allah, karena dia ini pasti akan mati juga.

Ini perlu di ketahui, kalau Robb itu seperti itu maknanya. Kalau kita tahu makna ini, tidak usah jauh-jauh, sholat kita baca Alfatihah saja rasanya enak, karena kita paham makna nya, sama dengan tadi kita mengetahui Illah, kita baca syahadat, mantap syahadat kita. Tetapi kalau kita tidak tahu, di tambah lagi banyak yang disalah pahami tadi, yaitu ibadah yang diartikan menyembah saja, kemudian yang banyak diartikan orang yaitu Ad-Diin. Diin itu hanya diartikan agama, padahal agama itu dari bahasa sansekerta.

Sansekerta itu apa? Hindu kuno. Pasangannya agama itu dirgahayu, mahardika, sembahyang, makanya kita tidak boleh gunakan bahasa sembahyang, karena hanya orang kafir yang sembahyang, tetapi harus gunakan kata shalat. Diin itu bukan agama, Diin itu sistim hidup, lighomul hayah, aturan yang mengatur hidup, kalau bahasa orang inggris itu “way of life”. Jadi Diin itu bukan agama, satu aturan untuk mengatur hidup, bukan mengatur shalat saja, semua yang mengatur hidup, itu namanya diin.

Maka karena tidak paham arti Diin, sehingga agama itu sekarang tempatnya hanya di dalam masjid, diluar masjid itu sudah tidak laku. Di gedung DPR MPR agama itu tidak laku, katanya “jangan bawa-bawa agama disini, agama itu tempatnya di masjid”. Nah itu diin. Diin itu bukan agama, tapi sistim hidup, aturan hidup untuk mengatur seluruh kehidupan.

Yang kedua yang harus di nafikkan itu adalah tiada pencipta, pemilik, pengatur, penguasa bumi kecuali Allah. Kalau kita paham ini Insya Allah akidah kita benar.

Download mp3 Disini.

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s