.::KAJIAN KE EMPAT: Syahadat Adalah Akidah Kita, Pangkal Pokok Keimanan Kita::.

Oleh: Ust. Abdul Hakim

Kita akan melanjutkan pembahasan kita tentang syahadat.

3. Sebagai syarat untuk mendapatkan syafa’at Nabi.
Apa itu syafa’at? Pertolongan dari Nabi kita. Dimana nanti Nabi itu akan jadi saksi bagi manusia. Ketika kita dihadapkan di hadapan pengadilan Allah. Saat itu kita sangat butuh penolong, orang yang di harap-harapkan dapat menolong kita adalah Nabi kita. Dalilnya adalah “Syafa’atku itu nanti akan bersama dengan orang-orang yang mengucapkan syahadat Laailaahaillallah, ikhlas dari hatinya, hatinya membenarkan lisannya, dan lisannya membenarkan hatinya”. Jadi untuk bisa mendapatkan syafa’at Nabi berdasarkan hadits ini, yaitu kalimat Laailaahaillallah. Tentu kalimat disini, sebagaimana yang dimaksud oleh Nabi, dan dipahami oleh generasi-generasi setelahnya, yaitu bukan hanya sekedar ucapan.

Karena syahadat ini adalah akidah kita, pangkal pokok keimanan kita, sedangkan iman itu adalah Qoulun wa amalun. Kata Imam Syufian bin Uyainah ketika orang bertanya, apakah iman itu ucapan saja? Maka dijawab oleh beliau, iman itu “Qoulun wa amalun (ucapan dan perbuatan)”. Nah untuk bisa menjadi perbuatan, kalimat Laailaahaillallah tidak mungkin kecuali kita mengetahui apa itu Laailaahaillallah. Kalau tidak, ma’af-ma’af, orang yang mengucapkan sesuatu tanpa dia mengetahui maknanya, burung beo juga bias. Tapi tahukah dia makna Laailaahaillallah, dan mana bisa menjadi pengamalan kalau dia tidak paham apa itu kalimat Laailaahaillallah.

Jadi itu kunci yang menentukan. Syafa’at Nabi itu bagi orang yang mengucapkan Laailaahaillallah, dan dia menjadikan itu landasan akidahnya. Bukan syafa’at Nabi itu memperingati maulid Nabi, memperingati isra’ mi’raj Nabi, lantas kemudian mendapat syafa’at Nabi, karena memang tidak ada dalilnya. Kita cari sampai kepala botak juga nggak bakalan ketemu. Bagaimana mendapat syafa’at Nabi, tanpa dia tahu apa itu syahadat yang benar, bagaimana akidah Islam yang benar, bahkan sunnah Nabi banyak diingkari. Maulidnya diperingati, sunnah Nabi sendiri banyak ditinggalkan. Hari ini orang banyak sekali bermimpi, bercita-cita mendapatkan syafaat Nabi, bahkan ma’af-ma’af ini bukan menyinggung, saya meluruskan satu pemahaman yang keliru.
Ada orang yang mengklaim mendapat jaminan syafa’at Nabi, ini perlu dijelaskan, karena umat ini dibuat bingung. Gimana umat tidak bingung, mau dapat syafa’at Nabi, tidak mau mengerjakan perintah Islam. “ Wah kalau kami pasti dapat syafa’at Nabi, cucu nabi, kita ini keturunan Nabi. Dapat syafaat Nabi, walaupun nggak shalat, nggak zakat, nggak tutup aurat, walapun banyak yang khamar, tapi dengan pecaya diri mengatakan dapat syafaat Nabi, syafa’at dari mana?.

Anaknya Nabi saja disuruh untuk beramal. “Hai Fatimah, beramallah engkau dengan sebenar-benarnya amal, karena nanti aku tidak dapat menolongmu dihadapan Allah, kalau kau tidak beramal”. Anaknya itu, bukan cucunya, apalagi cucu akhir zaman ini. Masalahnya yang kita kritisi ini merasa mendapat syafa’at Nabi, tapi tidak melaksanakan perintah Nabi. Ini yang jadi masalah, sehingga orang lain jadi bingung, lho apa benar sih, dia ngak sholat, nggak apa, tapi nanti dapat syafa’at Nabi? ya nggak benar. Anaknya saja diancam oleh Nabi, apalagi cucunya, apalagi cucu akhir zaman, apalagi cucu yang benci sunnah Nabi, kalau lihat orang berjenggot “Tuh lihat jenggotnya, kayak kambing”.

Ini ada cucu kurang ngajar sama kakeknya, ini cucu yang bagaimana ini? Yang suruh piara jenggot Nabi kita, tapi oleh sebagian orang, ma’af-ma’af ada cucu yang berani menghina kakeknya. Ma’af-ma’af ada lagi yang mengklaim, kita ini kelas tinggi, padahal yang ada kelas-kelasnya itu didalam agama hindu. Islam nggak ada kelas-kelasnya, dan semuanya sama. Tapi hari ini ada orang yang mengklasifikasikan dirinya tingkatnya tinggi. Kamu nggak sama sama saya, saya ini tinggi, masih ada hubungan dengan Nabi. Ada lagi yang mengklaim kita ini jama’ah, Ini saya perlu luruskan, supaya tau kita ini jama’ah (maksudnya orang arab), sedangkan yang lain itu akhwal, azam (orang yang diluar arab). Seolah-olah jama’ah itu hebat, tinggi. Itu jama’ah banyak yang miring sekarang ini, banyak yang nggak benar.

Mengaku jama’ah tapi judi, minum khomar, pecandu narkoba, ingin dapat safa’at lagi. Semantara seolah-olah menganggap orang diluar mereka itu azam, akhwal, kita ini jama’ah kelas tinggi. Enak saja ente mengklaim jama’ah, Nabi itu di utus untuk seluruh umat manusia, bahkan untuk jin, bukan hanya untuk orang arab. Dan mizan yang dipakai dalam Islam itu bukan jama’ah, bukan orang arab, ini sudah kadung (istilah orang arab), sudah nggak pas. Jama’ah itu orang yang berpegang pada kebenaran, bukan orang arab saja, yang disebut jama’ah itu, siapa yang berada diatas kebenaran walaupun seorang diri. Tapi sekarang begitu membaga-banggakan, kita ini jama’ah bil akhwal. Ada lagi yang nggak mau nikah kalau nggak sama-sama arab, dan mengklaim diri orang yang paling hebat.

Kalau klaim ini benar, kasihan sekali Bilal bin Robbah, Amar bin Yaser, Suhaer bin Sinan, yang dulunya budak-budak semua, bukan orang arab itu. Tapi ketika dia paham Islam, mengucapkan Laailahaillallah, dari hina jadi mulia, mari bersama. Bukan ditanya arab nggak ente? kalau nggak arab nggak bisa. Tapi sekarang begitu, ini perlu saya luruskan, itu tidak benar. Jadi yang mulia dihadapan Allah itu bukan jama’ah, dan orang-orang arab itu belum tentu jama’ah. Yang sudah pasti jama’ah, arab, nggak arab, orang dusun, udik, kalu dia berpegang pada kebenaran, dia masih pantas, layak disebut jama’ah. Apapun warna kulitnya, apapun bangsanya, jadi nggak ada kehebatan orang arab, dibanding orang azam, tidak ada, sama semua.

Bahkan Nabi untuk menepis ini, menepis klasifikasi berdasarkan suku, itu oleh Nabi, Zaid bin Haritsah, itu budak nya Nabi yang kemudian dimerdekakan. Itu oleh Nabi dikawinkan dengan sepupu Nabi yang sangat cantik, dialah Zainab binti Jahsyi, sepupu Nabi, orang berada, cantik lagi. Dikawinkan oleh Nabi, sengaja dikawinkan oleh Nabi, dengan siapa? Budak, Zaid bin Haritsyah. Ini orang-orang yang selalu mengatakan jama’ah, paling hebat, tau nggak sejarah ini? Nggak tau. Yang akhirnya karena tidak ada kecocokan, dalam sejarah itu dijelaskan, karena memang tempramenya Zaenab ini keras. Sementara Zaid ini orangnya lemah, akhirnya mereka berpisah.

Zaenab yang bekas istri budaknya ini dikawin oleh Rasul, dinikahi oleh Rasul, ini untuk menghilankan kelas-kelas didalam Islam. Jadi yang mulia itu bukan arab, budak itu dimuliakan dijaman Nabi kalau dia takwa. Maka disinilah “Inna akramakum indallahi atkakum, orang yang paling mulia di hadapan Allah itu, adalah orang yang bertakwa”. Dan yang berhak mendapatkan safa’at Nabi itu, bukan orang yang mengaku-ngaku jama’ah dan cucu Nabi, sementara tidak melaksanakan perintah Nabi, syurga dari mana, syafa’at dari mana?
Allah SWT berfirman di dalam surat Al-Ahzab: 40
Artinya:
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Ahzab: 40)

Inilah satu kesalahan pada hari ini, menganggap mendapat syafa’at, sementara dalam keseharian tidak melaksanakan perintah Allah, bahkan cenderung menjauhi, membenci sunah Nabi. Dimana datangnya dapat syafa’at, padahal jelas dalilnya tadi itu “Syafa’atku itu nanti akan bersama dengan orang-orang yang mengucapkan syahadat Laailaahaillallah, ikhlas dari hatinya, hatinya membenarkan lisannya, dan lisannya membenarkan hatinya”.

Maka tidak mungkin syahadat ini dijadikan satu pengamalan, dijadikan satu perbuatan, kalau dia tidak dipahami, apa itu syahadat Lailahaillallah. Jadi itulah pentingnya kita mengetahui kalimat Laailahaillallah. Karena itu pangkalnya keimanan, pokoknya akidah kita, pangkalnya Islam, pintunya Islam. Sayangnya hari ini orang beribu-ribu kali mengucapkan Laailahaillallah, tetapi tidak memiliki pengaruh apapun. Sedangkan di zaman Rasul, yang sekali orang mengucapkan Lailahaillallah langsung berubah. Pengaruhnya dapat dilihat, berubah manusia, mulai sudah hubungan itu terputus, kecuali hubungan yang didasarkan pada akidah, ikatan akidah yang dibangun diatas kalimat tauhid, kecuali hubungan itu.

Silahkan buka sejarah, bahkan ada sahabat yang datangnya seorang arab, datang kepada Rasul membawa kepala bapaknya, ini ya Rasul kepala bapak ku, itu semua karena apa? Bapak nya musyrik, memusuhi Nabi. Dia datang membawa kepala bapaknya, karena apa? Paham dia, itulah akidah. Bapaknya, bila dia memusuhi Nabi, memusuhi Islam, maka berlakulah ketetapan ini, dan harus dijadikan musuh. Maka dibuktikan permusuhan ini yang disebut dengan “Baro”. Hari ini bukan bapak, yang jelas-jelas musuh, yang jelas-jelas memusuhi Islam sudah dijadikan teman, malah tunduk kepada musuh, mana syahadat? tidak ada. Bukankah hari ini kita disekolah-sekolah detail belajar rukun sholat, detail belajar pembahasan sholat, tapi pernahkan dibicarakan rukun syahadat, pembantal syahadat, tidak pernah. Inilah yang membuat Islam itu kaku.

Mp3 Ceramah Download Disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s