.::Kajian Kedua : Hakikat Syahadat::.

Oleh Ustad Abdul Hakim

Insya Allah kita akan melanjutkan pembahasan kita tentang sahadat, yang mana sahadat ini hari ini menjadi sesuatu yang dilupakan orang, bahkan sahadat hari ini paling tinggi hanya ucapan-ucapan atau dzikir-dzikir di masjid-masjid tanpa mempunyai makna dan pengaruh. Maka saya masih akan menyampaikan bagaimana dahsyatnya pengaruh dari sahadat, karena sahadat itu sanggup merubah pola hidup manusia dari serusak-rusaknya manusia menuju sebaik-baiknya manusia.

 Sementara sahadat pada hari ini banyak diucapkan dan didzikirkan orang, bahkan sampai beribu-ribu kali, tapi hampir tidak mempunyai pengaruh apa-apa. Dan hari ini yang lebih parah lagi kalau ada orang kafir masuk Islam dia datang ke kantor KUA. Seorang muallaf dia masuk Islam, bersyahadat, selesai bersahadat dinasihati seala kadarnya, pulang dia dapat hadiah/kado, ia dapat peci, sarung, baju koko, malah dikasih duit. Kemudian dengan itu dia jadi muallaf seumur hidup, bawa list kemana-mana, sudah jadi seorang muslim, dan seumur hidup bawa list kemana-mana.

 Sementara kalau orang dahulu, dari musyrik menuju Islam, bersahadat, dia bukan dapat hadiah, kado, tapi dia dapat siksaan, dia dapat intimidasi, bahkan beresiko. Karena sahadat, orang ketika itu bisa kehilangan nyawanya, dibandingkan syahadat yang diucapkan orang pada hari ini. Maka dalam pembahasan kedepan ini insya Allah saya akan membahas tentang apa itu syahadat, rukun syahadat, sarat syahadat, pembatal syahadat, konsekwensi syahadat. Ini yang akan sama-sama kita pelajari dan apa itu tuntutan-tuntutan dari kalimat sahadat, dan apa pula tuntutan dari sahadat WAASHADUANNA MUHAMMADARRASULULLAH, dan apa tuntutan-tuntutannya.

Kalau tuntutan dari sahadat WA’ASHADUANNA MUHAMMADARRASULULLAH adalah dia harus mengimani dan membenarkan apa yang dibawa oleh Rasul, kemudian dia harus mentaati apa yang diperintahkan oleh Rasul, kemudian menjauhi apa yang dilarang oleh Rasul. Apa yang diperintahkan oleh Rasul, laksanakan dan apa yang dilarang oleh Rasul maka tinggalkanlah. Dan diantara tuntutannya juga adalah kita tidak boleh mendahulukan pendapat dan perkataan orang dengan mengalahkan atau melebihi perkataan Rasul. Jadi mengimani, membenarkan, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya, kemudian kita harus lebih mengedepankan ucapan Rasul dari pada ucapan manusia selain Rasul.

 Saya akan membawakan satu ungkapan dari seorang sahabat Al Miqdad bin Al Aswad seperti yang saya sampaikan itu seperti apa pengaruh kalimat Laailaahaillallah, yang karenanya manusia itu terbagi menjadi dua. Sehingga manusia ketika itu terpisah antara iman dan kafir, sampai istri berpisah dengan suami, anak berpisah dengan orang tua, seperti contohnya Mus’ab bin Umair dan Sa’ad bin Abi Waqash. Kasus Sa’ad itu sangat luar biasa, karena dalamnya pemahaman Laailaahaillallah jadi konsekwensinya seperti itu. Seorang ibu harus dia relakan, mestinya ibu harus lebih dahsyat dari bapak, dia harus lebih dibelaskasihi, tapi karena maksud ibu itu dengan perlakuannya dengan mogok makan menginginkan supaya Sa’ad melepaskan keislamannya, melepas kalimat tauhid yang ia pegang dan laksanakan, maka sa’ad bertaruh dan tegas kepada ibunya. Maka karena sikap tegasnya Sa’ad akhirnya ibunya mengalah. Maka karena peristiwa Sa’ad ini Allah menurunkan satu surat di dalam Al-Qur’an, yaitu surat Lukman ayat 15:

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.(QS:Lukman:15).

Asbabun nuzul dari ayat ini adalah tentang Sa’ad bin Abi Waqash, orang tua jika memerintahkan perintahnya yang bertentangan dengan perintah Allah dan Rasulnya, maka tidak boleh dita’ati, tetapi dia masih punya kewajiban yang lain, yaitu mempergauli kedua orang tua di dunia ini dengan pergaulan yang baik. Perintahnya yang munkar haram untuk ditaati, apalagi memerintahkan untuk berbuat syirik. Tapi hari ini tidak sedikit orang yang karena belum paham mungkin sehingga ada yang beranggapan “Kalau saya nggak ikut apa kata orang tua nanti saya berdosa, walaupun orang tuanya memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah. Orang tua melarang saya untuk ikut pengajian, kalau saya tidak menuruti nanti saya berdosa”. Ini adalah sebuah anggapan yang sangat keliru, maka berdasarkan ayat ini, tidak boleh kita mengikuti perintah orang tua, kalau perintah itu menyelisihi perintah Allah dan Rasulnya. Jadi tidak boleh mengikuti kalau disuruh untuk berbuat syirik, kalau menyuruh untuk berbuat maksiat kepada Allah, maka haram untuk diikuti. Tetapi selaku anak kita dunia tetap dituntut untuk berbuat baik kepada keduanya, dan pergauli keduanya dengan cara yang ma’ruf (baik).

Rasulullah SAW bersabda “Tidak ada ketaatan kepada makhluk selama itu bermaksiat kepada Allah”. Siapapun makhluknya, mau dia Presiden, Pemimpin, Raja, Penguasa, Orang yang paling berkuasa sekalipun, kalau dia memerintahkan perintah yang menyelisihi Allah, maka haram untuk ditaati. Kalau pimpinan mau pecat, pecat saja, ya lebih baik keluar, dari pada akidah kita rusak karena diperintah dengan menyelisihi perintah Allah. Kalau orang-orang sekarang ini rata-rata semuanya takut, “Oh itu atasan saya, kalau saya nggak ikuti nanti kondite saya turun”. Jadi  dia takut nggak makan, sehingga ikut saja perintah atasannya yang resiko atau konsekuensinya menyelisihi perintah Allah dan Rasul. Ini sudah termasuk syirik, yaitu syirik ketaatan, dia lebih baik taat kepada manusia dalam rangka berbuat durhaka kepada Allah ketimbang mentaati Allah. Dan taatnya itupun karena apa, tidak lain adalah karena fulus, perut, dia lebh baik mentaati manusia dalam rangka menyelisihi Allah dan Rasul.

Saya mengutip satu kata-kata yang indah dari Ibnu Qoyyim Al-Jauziah tentang sahadat. Kata beliau sahadat ini yang dengannya Allah tegakkan langit dan bumi, dan dengan kalimat ini Allah menciptakan seluruh makhluknya, coba bayangkan, kok bisa orang sekarang hanya seperti itu. Dengan kalimat itu Allah mengutus Rasulnya, menurunkan kitabnya, menetapkan syariatnya. Karena kalimat itu Allah tegakkan timbangan di hari kiamat, dan Allah letakkan catatan manusia, dan karena kalimat itu surga dan neraka menjadi ada. Karena kalimat itu manusia terbagi menjadi dua, yaitu muslim dan kafir, antara yang baik dan buruk. Karena kalimat ini nanti Allah akan menegakkan siksa dan memberikan pahala. Karena kalimat itu Allah tegakkan kiblat di atas, karena kalimat itu pula millah ataupun din ini dibangun, dan  karena kalimat itu pula pedang jihad terhunus, dan ini merupakan hak Allah atas hambanya, karena begitu dahsyatnya kalimat Laailaahaillallah ini.

Sekarang pertanyaannya “Sudahkah sekarang ini kalimat Laailaaha illallah itu,  berlaku seperti itu?, pasti jawabannya belum, dan ini adalah kenyataan.  Dan itu saya katakan, maaf-maaf ini kenyataannya, orang masuk Islam ucap syahadat, pulang langsung dapat kado, nggak shalat, nggak apa, udah kayak gitu aja. Maaf-maaf, hari ini secara syar’i kita bisa bedakan mana muslim mana kafir, karena sama-sama nggak shalat. Kalau di zaman dahulu ketika bersahadat kepada Rasul, maka dari hina dia langsung jadi mulia, kemudian karena kalimat Laailaahaillallah orang yang tadinya bermusuhan, Quraisy itu yang saling membunuh antara yang satu dengan yang lain, karena di ikat dengan kalimat tauhid ini, dan jadilah mereka orang yang saling mengasihi. seperti firman Allah:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran: 103)

Tadinya orang musyrik Quraisy itu terancam Allah katakan, mereka berada di tepi jurang neraka, tetapi karena nikmat Allah, jadi Islam ini adalah nikmat. Kata Ibnu Taimiyah, nikmat teragung itu adalah Islam. Maka disebabkan karena nikmat Allah, maka jadilah mereka bersaudara, kalian jadi Islam. Tadinya orang-orang yang berselisih yang mestinya masuk neraka, maka jadi bersaudara, itu semua karena apa? Karena kalimat Laailaahaillallah.

Inilah pentingnya kita mengetahui Laailaahaillallah, betapa besarnya peranan kalimat Laailaahaillallah, supaya kita bisa paham itulah fungsi kalimat tauhid, dan kalimat Laailaahaillallah itu pula yang mencerai beraikan persatuan, mencerai beraikan kecintaan, keterikatan itu tercerai berai karena kalimat tauhid itu, sehingga yang ada hanya keterikatan dan kecintaan karena Allah, merasa terikat karena Allah, dan saling cinta karena Allah. Jadi Laailaahaillah itu seperti itu, dia akan memisahkan antara yang hak dan batil.

Bayangkan! contoh-contoh dari sahabat banyak sekali, karena konsekwensi dari kalimat itu menuntut harus seperti itu sampai-sampai anak dan bapak saling bunuh. Itulah konsekwensi kalimat Laailaahaillallah, yang hari ini konsekwensi seperti itu sudah tidak ada, yang mengucapkan dan yang tidak mengucapkan sama saja bahkan yang ada cenderung terbalik. Meskinya orang yang berbeda akidah itu kita baro (musuhi) tetapi ini terbalik, orang yang mestinya menurut sahadat harus diposisikan sebagai musuh tetapi hari ini terbalik, malah dijadikan sebagai teman, sebagai wali, walinya dunia ini siapa, walinya Negara-negara ini siapa? PBB, jadi kalau ada apa-apa tinggal minta tolong sama PBB dan Amerika, dan sekarang sudah dijadikan sebagai wali, walinya negara-negara Islam, kecuali beberapa negeri yang hari ini sedang berjuang membela kalimat Laailaahaillallah. PBB dan Amerika sudah menjadi penolong yang diikuti, padahal PBB dan yahudi sudah membantai jutaan umat Islam.

Kalimat Laailaahaillallah itu betu-betul memisahkan dua kubu, hak batil itu jelas, karena kalimat Laailaahaillallah, akan seperti itu dengan catatan kalau benar-benar dipahami, tapi kalau tidak dipahami dan dipelajari sama saja yang ngucapin dengan yang tidak ngucapin, nggak ada bedanya, dan tidak ada ruh nya. Orang bermusuhan karena ini, orang berkasih-kasihan karena ini, dan ini sudah dibuktikan oleh generasi-generasi terbaik.

Aisyah pernah didatangi ibunya kerumah untuk menjenguknya, dan pintu tidak dibukakan oleh Aisyah, ia tidak berani membukakan pintunya sebelum ada perintah dari Rasul, padahal ketika itu ibunya datang dengan membawa oleh-oleh, menjenguk anaknya Aisyah, dia nggak membukakan pintu. Kemudian Aisyah bertanya kepada Rasul apakah saya bukakan pintunya, akhirnya turunlah satu ayat yaitu surat Almumtahanah:

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil. (QS. Almumtahanah: 8)

Dengan turunya ayat ini rasul menyuruh Aisyah untuk membukakan pintu bagi ibunya. Itu karena apa? Berbeda Laailaahaillallah, sehingga ibu dan anak bermusuhan, pertanyaannya “Sudahkah kalimat Laailaaha illallah ditegakkan oleh mayoritas umat Islam, Jawabannya pasti belum”, bahkan di sekolah-sekolah tidak diajarkan, saya jamin seribu persen. Kalau masalah shalat semuanya sudah pasti tahu, karena hanya itu yang diajarkan, zakat tahu, haji tahu, puasa, nikah, semuanya pasti tahu, karena hanya itu yang diajarkan, tetapi giliran sahadat nggak ada yang tahu, ada apa, ini yang harus dipikirkan. Ini adalah sebuah pertanyaan besar, karena orang kafir itu tau kalau ini diajarkan maka umat Islam itu akan kuat, umat Islam akan jadi hebat, itu semua karena kalimat tauhid sehingga para sahabat-sahabat itu bisa merontokkan orang-orang musyrik.

 Sebagaimana Rasul SAW bersabda “Maukah kamu menjaminkan kepadaku satu kalimat saja, yang dengan kalimat itu kamu bisa menguasai orang-orang arab dan menaklukkan orang-orang hajab. Apa kalimat itu? itulah kalimat Laailaahaillallah”. Dengan kalimat tauhid sahabat-sahabat yang tertindas teraniaya, menjadi gagah perkasa, dari tertindas sampai bisa menguasai Persia dan romawi dan para budak-budak yang dihinakan sampai para budak-budak itu yang menghinakan orang-orang yahudi ketika itu.

Bayangkan seorang panglima Restu, panglima perang yang paling dihormati, satu-satunya panglima yang memiliki mahkota, dihinakan oleh Rubait bin Amir, itu karena apa, yaitu karena dahsyatnya kalimat Laailaahaillallah yang tertancap di dalam dadanya, maka jadilah dia orang yang mulia menghinakan orang-orang mulia. Tetapi hari ini kita dihinakan oleh orang yang hina, sehingga kita tidak punya lagi kemuliaan, itu semua karena kita tidak paham kalimat tauhid, tidak mengetahui apa itu kalmat Laailaahaillallah, apa itu rukun sahadat, pembatal sahadat. Maka inilah perlunya kita memahami kalimat ini, karena kalimat ini adalah ruhnya Islam, kalau kalimat ini hidup maka hiduplah kita, tetapi kalau ini mati, maka matilah kita.

Download Mp3 disini

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s