.::Kajian Hakikat Kalimat Syahadat Bagian 1::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim

Bismillahirrohmanirrohim

Puji syukur hanya milik ALLAH Subhanahuwata’ala yang telah memberikan nikmatnya kepada kita, semoga nikmat yang ada pada kita mampu disyukuri, dengan jalan ta’at, tunduk dan patuh kepada perintah-perintah ALLAH Subhanahuwata’ala  sebagai bukti bahwa diri kita adalah hambanya ALLAH Subhanahuwata’ala. Dan mudah-mudahan pula keringanan langkah kita, keinginan, kemauan kita untuk sama-sama saling mengilmui tentang Islam ini menjadi satu wasilah, satu jalan wasilah bagi ALLAH Subhanahuwata’ala  untuk memolong kita, untuk memudahkan kita menuju jalan syurganya ALLAH Subhanahuwata’ala . Sebagaimana sabda Rasul Shalallahu’alaihiwasalam,

Barang siapa yang menempuh suatu  jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju syurga”.(HR. Muslim).

Shalawat dan salam kita khaturkan kepada junjungan alam Nabiyullah Muhammad Shalallahu’alaihiwasalam, beserta keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang senantiasa istiqomah menapaki jalan kebenaran yang beliau bawa sampai hari kiamat.

Pada kesempatan ini saya akan menjelaskan kembali tentang peranan, hakikat kalimat syahadat, mengingat pentingnya syahadat ini di dalam kehidupan kita, kenapa saya harus membahas kembali syahadat, karena cukup beralasan, bahwa selama ini umat Islam dimana-mana paham bahwa rukun Islam ada lima, membaca dua kalimat syahadat, mengerjakan shalat, shaum, zakat, haji, ini mereka sudah hafal semua, bahkan lebih dari pada itu disekolah-sekolah diajarkan rukun shalat, pembatal shalat, syarat sahnya shalat, pembatal wudhu, tentang zakat, tentang shaum, haji, ada rukun-rukunnya.

 Tetapi satu pertanyaan besar tentang syahadat, ini hampir tidak terdengar  bahwa syahadat itu ada rukun, fungsi, sarat, konsekwensi dan pembatal syahadat, ini kalau kita tanya baik zaman kita dulu maupun zaman sekarang, kita tanya orang-orang yang sekolah, ada tidak diajarkan di sekolah-sekolah?, jawabannya saya jamin pasti tidak ada, yang ada diajarkan disekolah-sekolah itu, dari taman TK sampai tua, syahadat itu satu persaksian, bahwasanya tidak ada tuhan selain ALLAH, dan Nabi Muhammad Shalallahu’alaihiwasalam itu utusan Allah Subhanahuwata’ala, syahadat itu  sebagai bukti keislaman kita, kalau orang sudah baca syahadat, otomatis dia sudah jadi muslim, syahadat itu pintu masuknya Islam seseorang, hanya sebatas itu saja pembahasan yang ada selama ini.

 Padahal disatu sisi sebagaimana hadits Rasulullah Shalallahu’alaihiwasalam  bahwa, syahadat ini merupakan asasul Islam, dasarnya Islam kalimatut tauhid LAILAAHAILLALLAH  ini dasarnya, kalau dalam istilah rumah itu adalah pondasinya, pondasinya Islam, dan itu harus kuat, tapi sahadat yang merupakan pondasi dari pada Islam ini, hari ini tidak dipahami sebagaimana mestinya, dengan kata lain syahadat kita umat Islam ini sangat rapuh, ucapan kalimat syahadat atau kalimat tauhid, kalimat tauhid itu hanya berfungsi kalau ada bayi lahir dibacakan azan, atau kadang syahadat di telinganya,  kalau ada orang mau meninggal ditalkinkan dengan syahadat, seperti-seperti itu fungsinya, orang mau masuk Islam baca syahadat, sudah selesai.

 Tidak pernah kita mendengar ada pembahasan tentang syarat syahadat, rukun, makna, konsekwensi dan pembatal sahadat, padahal ini sangat penting, inilah yang menentukan kejayaan Islam di masa-masa awal, syahadat inilah yang menentukan Islam Berjaya dimasa awal, maklum usia dakwah Rasul selama 23 tahun, periode Makkah 13 tahun, dan Madinah 10 tahun, periode Makkah pembinaan aqidah, dakwah secara diam-diam selama 3 tahun dan dakwah secara terang-terangan selama 10 tahun, dalam waktu 10 tahun itu Rasul hanya menyampaikan kalimat tauhid, menawarkan tauhid dan mengajak orang untuk berIslam melalui kalimat tauhid, katakan LAILAHAILLALLAH MENANG kamu, kamu pasti jaya.

 Ini menggambarkan betapa pentingnya syahadat, ada satu hadits Rasulullah Shalallahu’alaihiwasalam yang disana dikatakan andaikata kalimat LAILAAHA ILLALLAH  berada diatas satu daun timbangan, dan langit yang tujuh lapis beserta isinya dan bumi yang tujuh lapis beserta isinya berada di daun timbangan yang lain, niscaya akan lebih berat kalimat LAILAAHAILLALLAH. Jaminan Rasulullah mengatakan LAILAAHAILLALLAH pasti menang dan itu sudah Rasul buktikan, dengan gambaran sahadat yang seperti itu lantas apakah mungkin kalimat sahadat itu hanya sebuah ucapan-ucapan kosong, seperti pemahaman kita hari ini.

Ma’af-ma’af kalimat tauhid hanya dibaca setelah selesai sholat oleh sebagian-sebagian kaum muslimin, hanya itu saja. Pantas Islam ini seperti ini keadaan kita hari ini, karena dasarnya Islam ini sangat rapuh, maka mengingat bahwa sahadat ini pondasinya Islam, maka perlu untuk kembali dan mungkin selalu akan kita bicarakan, supaya akidah kita tetap kuat dan teguh. Untuk menggambarkn itu sepintas perlu kita jelaskan bahwa bagaimana kondisi Rasulullah mendakwahkan lailahaillallah.

Bahwa ada salah satu sahabat yang namanya Al Miqdad bin Al Aswad, ia menggambarkan bahwa, demi ALLAH Subhanahuwata’ala bahwa Nabi kita Muhammad Shalallahu’alaihiwasalam diutus untuk menyampaikan kalimat tauhid itu dimasa-masa yang sulit, dimana jaman itu bangsa arab berada dalam keadaan bodoh, jahil, maka jaman itu dikenal dengan jaman jahiliah, dimana mereka tidak melihat agama yang lebih baik selain daripada menyembah berhala-berhala, maka tidak heran barhala-barhala Quraisy itu banyak sekali, yang diantaranya latta, uzza, manad, hubbal, bahkan sampai 360 berhala yang ada di Ka’bah saat itu, belum lagi yang kecil-kecil yang ada di rumah-rumah.

Sebagai gambaran Umar bin khattab Radhiyallahu’anhu, ketika dia sedang menjadi muslim, pada suatu hari Umar duduk seorang diri dan sedang tafakur, kemudian datang seseorang disamping Umar memperhatikan Umar, dia melihat Umar dalam keadaan bersedih kemudian melihat umar menangis, setelah menangis tidak beberapa lama kemudian dia melihat umar tertawa, sehingga membuat sahabat ini penasaran dan memberanikan diri untuk bertanya kepada umar.

Ya Umar, saya perhatikan anda tadi menangis, bersedih, tetapi tidak lama kemudian anda tertawa, apa yang membuat anda melakukan itu wahai umar.?

Kata umar, saya teringat ketika masih dalam keadaan jahil dan musyrik, betapa saya tidak menangis bahwa saya pernah mengubur hidup-hidup anak saya, anaknya seorang wanita, darah dagingnya, dikubur hidup-hidup anak yang lagi lucu-lucunnya oleh umar dikubur hidup-hidup, itu kebiasaan jahiliah, karena mereka merasa kalau memiliki anak perempuan akan sial, maka saya kubur anak saya sampai mati, betapa dosanya saya. Itulah yang membuat saya menangis.

            Kemudian apa yang membuatmu tertawa wahai umar.?

Saya tertawa karena pernah sekali waktu saya dalam keadaan sendiri di rumah, saat itu saya dalam keadaan lapar yang sangat, saya kebelakang tidak ada makanan yangt bisa di makan, maka dalam keadaan lapar itu, tidak sengaja saya melihat berhala yang biasa saya sembah, ada berhala kecil yang terbuat dari adonan gandum, maka karena saya tidak bisa menahan lapar yang melilit perut saya, maka dengan terpaksa saya ambil berhala itu kemudian saya makan, itulah yang membuat saya tertawa, betapa bodohnya saya.

Itu gambaran jahiliah dalam keadaan bodoh, maka dalam kondisi seperti itu kata Almiqdad datanglah Rasul kita Muhammad Shalallahu’alaihiwasalam membawa cahaya, membawa Islam yang menjadi furqan, pembeda antara hak dan batil, memisahkan antara keislaman dan kekafiran, antara orang tua dan anak, dan memisahkan antara suami dan istri, sehingga umat terbagi dua, dalam keadaan jahil seperti itu tampillah Nabi kita membawa Al Furqan, dengan Islam ini umat terbagi menjadi dua, jelas Islamnya, jelas kafirnya, sehingga ada bapak dan anaknya berpisah, bahkan ada anak dan bapak saling bunuh.

Bagaimana Abu Ubaidah bin Jarroh terpaksa harus membunuh bapaknya, dalam satu peperangan berkali-kali ayahnya ingin membunuh Abu ubaidah, yang dicari oleh bapaknya dalam peperangan itu hanyalah Abu ubaidah, beberapa kali dijumpai Abu ubaidah ingin dibunuh kemudian menghindar, sampai akhirnya Abu ubaidah berkesimpulan, bapakku ketika aku masih musyrik, begitu cintanya dia kepadaku, tetapi setelah aku menjadi muslim, bapakku ingin membunuh diriku, karena yang ingin dibunuh itu bukan Abu ubaidah, tetapi Islamnya Abu ubaidah lah yang ingin dibunuh, maka akhirnya dikesempatan yang lain, bapaknya ditunggu oleh Abu ubaidah, maka setelah berhadapan ditebaslah leher bapaknya, sehingga tersungkur jatuh dan mati, maka ketika itu turunlah surat Al-Mujadalah:

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau Saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.(Al-Mujadalah:22)

 Ayat ini Asbabun nuzulnya adalah Abu ubaidah yang membunuh bapaknya lantaran imannya Abu ubaidah. Itulah akidah, itulah iman, membedakan antara hak dan batil, berpisah antara orang tua dan anak karena iman, maka Rasul datang merubah jahiliah, membawa furqan, kemudian umat terbelah menjadi dua.

Contoh yang lain, ada seorang anak yang harus berpisah dengan ibunya, ada dua sahabat yang ceritanya mashur sekali, kita kenal dengan satu nama Mus’ab bin umair. Ia adalah seorang pemuda, anak bangsawan, anak orang kaya ketika itu, dia tinggal bersama ibunya yang kaya raya. Dia pemuda yang tampan, pakaiannya gagah, orangnya gagah, tapi setelah dia mendengar dakwah Islam, ia tidak berlama-lama untuk menyambut seruan Islam. Maka Islamlah Mus’ab bin Umair, dan ternyata keislaman Mus’ab bin umair ini diketahui oleh ibunya, maka dia diadili oleh ibunya, ditawarkan ingin tetap tinggal bersama ibunya dengan segala kenikmatan atau pilih Islam, maka dia menentukan pilihan, lebih baik dia pilih Islam dan meninggalkan segala kenikmatan yang selama ini diberikan ibunya, dan akhirnya dia diusir oleh ibunya.

Setelah diusir ia harus tinggal di emper-emper pasar, anak orang kaya tinggal di emper pasar, sehingga karena kasus Mus’ab ini banyak sahabat yang meneteskan air mata, anak orang kaya harus tinggal di emper toko hanya karena LAAILAAHAILLALLAH, sehingga ia ini adalah orang yang dipilih oleh Rasul untuk menjadi da’i pertama dan diutus ke Yastrib (Madinah) untuk berdakwah diusia 18 tahun. Dan ketika pula dia syahid di perang uhud, ketika rasul menginveksi para syuhada, Rasul Shalallahu’alaihiwasalam  mendapati Mus’ab juga yang menjadi salah satu sahabat yang mati syahid. Maka Rasul Shalallahu’alaihiwasalam memerintahkan untuk mengubur Mus’ab bersama dengan Hamzah, sang singa padang pasir, sayyidus shuhada (panglimanya orang mati syahid).

Sebelum Mus’ab dikubur Rasul Shalallahu’alaihiwasalam memerintahkan untuk menutup tubuh Mus’ab dengan sehelai kain, ketika ditutup bagian atasnya kakinya masih terbuka, ketika ditutup bagian bawahnya kepalanya masih terbuka, sehingga membuat Rasulullah Shalallahu’alaihiwasalam menangis dan berkata, “Aduhai Mus’ab, engkau anak orang kaya, orang mampu, hari ini engkau harus meninggalkan dunia dalam kondisi kain yang layak dipakai untuk menutup jasadmu tidak dijumpai”.

Demikian juga karena LAAILAAHAILLALLAH, Sa’ad bin Abi Waqash juga terpaksa harus berseteru dengan ibunya, ia meninggalkan ibunya karena LAAILAAHAILLALLAH, itu semua menunjukkan bahwa sahadat itu bukan hanya ucapan, Sa’ad setelah dia muslim ibunya tidak bisa menerima keislamannya. Maka Sa’ad ketika dia berkumpul dengan kaum muslimin dan menjauhi ibunya ternyata ibunya dalam keadaan sakit, datanglah utusan menyampaikan kabar. Hai Sa’ad ibumu sedang sakit dan sakitnya sangat parah, datanglah kau Sa’ad, lihatlah ibumu yang dalam kondisi sakit keras, padahal yang selama ini merawat ibunya hanyalah Sa’ad.

 Karena dibujuk berkali-kali maka pulanglah Sa’ad, ternyata benar ibunya dalam keadaan sakit, maka ketika itu dalam keadaan yang sudah payah karena penyakit, ibunya dengan memelas dan berkata kepada Sa’ad, “Hai anakku, tegakah engkau melihat keadaan ibumu yang seperti ini karena memikirkanmu, masihkah engkau akan bertahan dengan agamanya Muhammad dan meninggalkan keyakinan orangtuamu, maka kata Sa’ad wahai ibu saya sangat sayang pada ibu, tapi kalau berbicara masalah akidah lain lagi ceritanya, kalau ibu lapar mari makan ibu,”

Ternyata ibunya mogok makan dan badannya lemas sekali, tetapi ibunya gak mau makan karena taktiknya untuk membujuk Sa’ad supaya luntur imamnya. Akhirnya ibunya tetap tidak mau makan dan kondisinya semakin parah, maka Sa’ad datang  kepada ibunya dan berkata, “Wahai ibu kalau dengan cara ibu tidak mau makan ini supaya ibu inginkan aku melepas keislaman ini, sekali-kali tidak akan pernah saya lakukan, ketahuilah wahai ibu, andaikata Allah mentakdirkan ibu memiliki sepuluh nyawa, dan saya akan tunggu satu persatu nyawa keluar dari mulut ibu mulai dari nyawa pertama sampai nyawa terakhir, kalau tujuan ibu dengan membujuk saya ini untuk melepas keislaman saya, saya tidak akan kasihan kepada ibu”.

Itulah sedikit gambaran bahwa dalam kondisi jahil Rasul datang membawa Islam, maka terpecahlah manusia itu menjadi dua, karena kalimat LAAILAAHAILLALLAH ini, demikianlah komentar dari Al Miqdad, bahwa Rasul Shalallahu’alaihiwasalam  tampil dalam kondisi yang sangat sulit, manusia dalam keadaan bodoh, dan membawa furqan dan setelah itu terbelahlah manusia menjadi dua, iman dan kafir. Dan ketika itu Rasul datang membawa Islam dan menghidupkan hati-hati orang yang mati, karena orang kafir itu adalah orang yang mati hatinya. Maka Allah Subhanahuwata’alal berfirman:

Dan apakah orang yang sudah mati Kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang Telah mereka kerjakan.(QS. Al-An’am: 122)

 Cahaya disini adalah al Islam, orang yang mati hatinya diberi cahaya oleh ALLAH Subhanahuwata’ala, Al Islam itulah yang membuat hidupnya hati orang-orang yang mati pada sa’at itu, maka dengan Rasul tampil menghidupkan hati-hati orang yang mati dengan cahaya Islam dengan kalimat tauhid LAAILAAHAILLALLAH.

Download Ceramah Disini

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s