.::KAJIAN KE TIGAPULUH DUA: Pembatal Syahadat 3::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim

Pada kesempatan ini kita akan melanjutkan pembahasan kita tentang syirik Akbar. Kemarin kita membahas dalil yang terdapat pada Surat Huud ayat 14-15, dimana Allah mengambarkan orang yang iradahnya hanya dunia, keinginanya hanya dunia. Karena manusia itu terbagi menjadi dua, ada orang yang iradahnya semata-mata untuk dunia, dan ada orang yang iradahnya itu adalah akhirat.

Jadi yang dimaksud syirik yang kedua ini adalah orang yang iradahnya hanya dunia, hidupnya hanya berpikir untuk dunia, semua kehidupannya tercurah hanya untuk dunia, tidak pernah berpikir untuk akhirat, karena yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana bisa senang di atas dunia. Continue reading

.::KAJIAN KE TIGAPULUH SATU: Pembatal Syahadat 2::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim.

Pada kesempatan ini kita akan melanjutkan kembali pembahasan kita tentang Pembatal Ke-Islaman atau Pembatal Syahadat. Kemarin kita sudah membahas tentang syirik Akbar yang pertama yaitu syirik do’a.
Pada kesempatan ini kita akan melanjutkan pembahasan kita dengan menerangkan dalil-dalil tentang masalah kesyirikan ini. Allah SWT berfirman di dalam surah An-Nisa ayat48:

Artinya:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. Continue reading

.::KAJIAN KE TIGAPULUH: Pembatal Syahadat 1::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim.

Pada kesempatan ini, kita akan memasuki pembahasan tentang pembatal-pembatal keislaman atau pembatal-pembatal syahadat. Hari ini secara kenyataan tidak diselisihi di manapun umat Islam itu sangat tahu apa pembatal wudhu, shalat, haji, zakat. Tetapi aneh justru pembatal syahadat yang merupakan pintu masuk Islamnya seseorang itu kini banyak orang tidak tahu, dan bisa hampir dipastikan di sekolah-sekolah tidak diajarkan. Maka kita berusaha untuk mengetahui hal-hal ini yang hari ini disamarkan maupun ditutup-tutupi.

Kalau kita merujuk pada beberapa kitab tauhid, para ulama secara garis besar mengatakan bahwa, pembatal keislaman itu ada empat, diantaranya:
1. Syirik.
2. Kafir.
3. Nifak.
4. Riddah (Murtad). Continue reading

.::KAJIAN KE DUAPULUH SEMBILAN: Alwala Wal Baro 9::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim.

Kita akan melanjutkan pembahasan kita tentang Alwala wal baro. Kemarin kita sudah membahas tentang contoh-contoh Alwala wal baro dari para sahabat-sahabat Rasulullah dalam periode Madinah.

Kemarin telah kita membahas sedikit tentang bagaimana sikap baronya Asmah kepada ibunya, yang dimana ibunya datang dengan membawa oleh-oleh dengan tujuan ingin menjenguk Asmah. Maka Asmah tidak berani membukakan pintu bagi ibunya karena dia meyakini bahwa ibunya masih musyrik. Sehingga Asmah mengutus seseorang untuk memberitahu Aisyah untuk bertanya kepada Rasulullah bagaimana sikap yang harus dilakukan oleh Asmah terhadap ibunya tersebut.

Ketika Aisyah menanyakan perihal hal tersebut, maka Rasulullah SAW terdiam, “Karena Rasulullah tidak berbicara sesuatu melainkan atas dasar wahyu”. Sampai akhirnya Allah SWT menurunkan Surat Al-Mumtahanah ayat 8-9 untuk menjawab pertanyaan daripada Asmah. Continue reading

.::KAJIAN KE DUAPULUH DELAPAN: Alwala Wal Baro 8::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim

Kita akan melanjutkan pembahasan kita yang kemarin dan masih akan membahas tentang Alwala wal baro. Kemarin kita membahas tentang satu hadits yaitu ikatan iman yang paling kokoh yaitu cinta karena Allah, benci karena Allah, mendukung karena Allah, dan memusuhi karena Allah. Dan ketika sifat itu ada pada diri seseorang, maka itulah tali iman yang kokoh.

Sifat cinta dan benci itu mutlak harus ada, karena konsekuensi dari syahadat yang benar itu harus melahirkan dua sifat yaitu wala wal baro. Itu mutlak harus ada, tetapi sayangnya hari ini hampir tidak diketahui oleh orang-orang.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan “Cerminan daripada kesaksian yang benar atas diri seseorang tentang kalimat syahadat, maka dia tidak akan mencintai kecuali karena Allah, tidak membenci kecuali karena Allah, tidak memusuhi kecuali kaena Allah, tidak berpihak kecuali karena Allah, dan dia senantiasa akan memusuhi siapa yang dimusuhi oleh Allah dan senantiasa akan membenci siapa yang dibenci oleh Allah”. Continue reading

.::KAJIAN KE DUAPULUH TUJUH: Alwala Wal Baro 7::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim

Pada kesempatan ini kita akan melanjutkan kembali pembahasan kita, dan masih akan melanjutkan materi tentang Wala wal Baro. Kemarin kita membahas tentang kisah Hatim bin Abi Balto’ah yang mengirimkan sebuah surat kepada saudaranya yang masih musyrik, tetapi surat itu diketahui oleh Rasul lewat Malaikat Jibril. Maka turunlah surat Al-Mumtahanah ayat 1.

Dari kisah Hatim ini bisa kita ambil pelajaran yang berkaitan dengan masalah Wala wal Baro. Adanya peristiwa Hatim ini karena adanya penghianatan yang dilakukan oleh musyrik Quraisy sehingga Rasulullah mempersiapkan pasukan untuk menyerang Makkah yang sebelumnya ada satu peristiwa yaitu penahanan Utsman bin Affan yang ditahan oleh musyrik Makkah. Continue reading

.::KAJIAN KE DUAPULUH ENAM: Alwala Wal Baro 6::.

Oleh: Ustadz Abdul Hakim

Pada kesempatan ini kita akan melanjutkan kembali pembahasan kita tentang Al-wala wal-baro, yaitu loyalitas dan permusuhan. Karena ini merupakan dua sifat yang mesti ada. Sepanjang sejarahnya sifat Al-wala wal-baro ini telah dipraktekan oleh Rasul dan orang-orang terdahulu, hanya saja karena kita hidup di zaman sekarang ini, masalah wala wal baro ini tidak pernah dibicarakan.

Akhirnya umat Islam ini dalam kondisi tidak jelas, bahkan dalam kondisi keliru. Setan dan musuh Allah itu tetap tidak akan suka kepada Islam, maka mesti ada wali Allah, penolong-penolog agama Allah. Hari ini kita dimana, apakah termasuk walinya setan atau walinya Allah? Ini dapat kita ketahui kalau kita memahami sifat wala wal baro ini dengan benar.

Kemarin kita sudah membahas beberapa dalil. Dan sekarang kita akan membahas dalil yang selanjutnya yaitu yang terdapat di dalam Surat Al-Maidah ayat 57:

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” Continue reading